National Risk Assessment (NRA) dan Sectoral Risk Assessmet (SRA) TPPU di DJP

Oleh: Direktorat Penegakan Hukum
Jalan panjang Indonesia untuk menjadi Anggota FATF (Financial Action Task Force), organisasi yang menjadi pengatur standar global anti pencucian uang dan pemberantasan pendanaan terorisme, sudah mendekati titik akhirnya. Saat ini Indonesia sudah menjadi observer di lembaga ini. Langkah akhir yang harus dilewati sebelum menjadi anggota FATF adalah melaksanakan Mutual Evaluation Review pada periode 2019-2020.
Berbagai langkah telah dilaksanakan oleh Indonesia untuk mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang (TPPU) dan pendanaan terorisme (PT) di Indonesia. Langkah-langkah ini merupakan upaya untuk memenuhi rekomendasi dari FATF. Rekomendasi nomor 1 yang harus dipenuhi oleh Indonesia adalah mengharuskan Indonesia untuk mengidentifikasi dan melaksanakan penilaian risiko TPPU/PT dan selanjutnya menggunakan pendekatan berbasis risiko untuk mengalokasikan sumber daya dan melaksanakan langkah-langkah pencegahan dan pemberantasan risiko.
Langkah nyata pemenuhan Rekomendasi nomor 1 ini adalah penyusunan dokumen National Risk Assessment (NRA) oleh PPATK bersama dengan para pelaku kepentingan anti TPPU/PT. Dokumen NRA ini telah selesai disusun pada tahun 2015 dan selanjutnya diperbaharui pada tahun 2019. Dokumen NRA tersebut memberikan gambaran identifikasi risiko TPPU/PT di Indonesia. Dokumen ini juga menunjukan sektor yang memiliki risiko tinggi sehingga langkah tindak lanjut dapat dilaksanakan sesuai dengan risiko yang dihadapi pada sektor tersebut.
DJP sebagai salah satu pelaku kepentingan anti TPPU/PT turut berperan serta dalam penyusunan NRA Indonesia. Berdasarkan hasil NRA tahun 2015, tindak pidana di bidang perpajakan termasuk dalam tindak pidana asal yang berisiko tinggi TPPU. Sedangkan berdasarkan hasil pengkinian NRA tahun 2019, tingkat risiko dari tindak pidana di bidang perpajakan sebagai tindak pidana asal TPPU turun dari tinggi menjadi menengah.
Sebagai langkah tindak lanjut hasil NRA tersebut, DJP telah menyusun Sectoral Risk Assesment (SRA) tindak pidana di bidang perpajakan sebagai tindak pidana asal TPPU pada tahun 2017. Berdasarkan SRA tersebut, DJP berhasil mengidentifikasi risiko-risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan tindak pidana di bidang perpajakan dan TPPU di DJP.
Beberapa risiko yang berhasil diidentifikasi adalah modus tindak pidana di bidang perpajakan yang paling berisiko yaitu pasal 39A Undang-undang Ketentuan Umum Perpajakan yaitu penerbitan dan/atau penggunaan faktur pajak yang tidak berdasarkan transaksi sebenarnya. Adapun wilayah yang berisiko tinggi dalam penanganan TPPU di DJP adalah di wilayah OKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Dokumen NRA Indonesia dan SRA DJP merupakan petunjuk utama DJP dalam menyusun langkah, strategi, dan kebijakan dalam pencegahan serta pemberantasan TPPU yang tindak pidana asalnya tindak pidana di bidang perpajakan. Langkah, strategi, dan kebijakan ini merupakan wujud nyata peran serta DJP dalam mendukung pencegahan dan pemberantasan TPPU di Indonesia.
- 2133 kali dilihat