Natal Oikoumene DJP 2025: Saat "Rumah Besar" Menjaga Asa, Menyelamatkan Keluarga
Oleh: (Bonita Pricilia Sitompul), pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Ada pemandangan berbeda di Auditorium Cakti Buddhi Bhakti, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), hari itu (Minggu, 11/1). Gedung yang biasanya identik dengan angka, target, dan regulasi fiskal, berubah menjadi ruang hangat yang dipenuhi tawa anak-anak, senyum para orang tua, dan kebersamaan lintas jabatan.
Ibadah dan Perayaan Natal Oikoumene DJP Tahun 2025 bukan sekadar ritual tahunan. Mengusung tema besar "Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga" (Matius 1:21), acara ini tidak hanya menjadi ajang perayaan iman, tetapi juga momentum penguatan integritas bagi seluruh elemen di "Rumah Besar" DJP.
Acara ini dihadiri langsung oleh Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto dan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Rional Silaban. Turut hadir para pejabat eselon II, para pegawai, serta keluarga besar pegawai, termasuk orang tua, pasangan, dan anak-anak, yang berbaur dalam kebersamaan.

Panggung Toleransi dan Satu Semangat Kekeluargaan
Suasana perayaan yang dipandu secara rohani oleh Romo Pius Novrin Arimurthi, Pr. dan Pendeta Nugraheni Siwi Rumanti, S.Si., Teol., terasa sangat hidup dan membawa pesan damai bagi seluruh jemaat. Namun, sorotan utama justru jatuh pada tingginya nilai toleransi yang "hidup" di panggung tersebut.
Keindahan sejati terlihat dari partisipasi para pengisi acara. Penampilan paduan suara, tari-tarian, dan drama tidak hanya dibawakan oleh pegawai Kristiani, tetapi juga melibatkan pegawai non-Kristiani, sebuah simbol nyata bahwa di DJP, perbedaan keyakinan justru menjadi perekat persaudaraan. Kemeriahan ini didukung oleh persembahan pujian dari bintang tamu Prince Poetiray dan Citra Scholastika yang juga mengajak hadirin bernyanyi bersama.
Momen paling mencuri perhatian terjadi ketika Dirjen Bimo Wijayanto turut menyumbangkan suara. Aksi spontan orang nomor satu di DJP ini seolah meruntuhkan sekat hierarki. Tidak ada jarak antara pimpinan dan bawahan, yang ada hanyalah sukacita bersama.
Salah satu keluarga pegawai, Bapak F. Marpaung, mengungkapkan rasa harunya. "Ibadah ini terasa sangat hangat. Sebagai orang tua, saya bangga dan bersyukur bisa merasakan sukacita Natal di lingkungan kerja keponakan saya yang begitu menghargai keluarga," ungkapnya.
Selain itu, ada juga perayaan natal khusus anak-anak yang digelar secara terpisah dengan suasana yang lebih santai dan penuh permainan. Para pimpinan, termasuk Bimo Wijayanto dan Rional Silaban, menyempatkan diri hadir langsung di tengah-tengah acara anak-anak. Kehadiran beliau disambut dengan sukacita lewat lagulagu yang dinyanyikan oleh seluruh anak, membuktikan bahwa "Rumah Besar" DJP benar-benar merangkul setiap generasi.

Pesan Dirjen Pajak: Dari Keluarga hingga Integritas Institusi
Dalam sambutannya, Bimo Wijayanto menyampaikan pesan yang sangat tajam mengenai integritas. Beliau mengingatkan bahwa keluarga adalah sekolah pertama untuk kejujuran.
"Keluarga adalah fondasi utama untuk membentuk karakter dan nilai. Kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, disiplin, dan kerja sama dimulai dari sana," ujar Bimo. Beliau menekankan bahwa DJP adalah "Rumah Besar" di mana pegawai menghabiskan sebagian besar waktunya, sehingga prinsip saling menjaga dan mengingatkan layaknya keluarga harus diterapkan.
Merujuk pada sebuah Hadis dalam kepercayaannya, Bimo mengingatkan bahwa profesi pajak memiliki tanggung jawab spiritual yang berat.
"Di kepercayaan saya, pajak itu sejatinya adalah uang Allah yang dititipkan kepada mereka yang mampu, untuk didistribusikan kembali kepada yang membutuhkan. Ketika ahli pajak mengambil hak itu untuk rakyat, itu halal dan sah. Tetapi ketika ia mengambilnya untuk diri pribadi, maka ahli pajak tadi adalah 'ahli neraka'," tegas Bimo.
Pesan ini menjadi pengingat universal bagi seluruh pegawai, apapun latar belakang agamanya, bahwa menjaga amanah negara adalah bagian dari ibadah. Beliau juga menyerukan perubahan budaya kerja yang lebih manusiawi. "Saya ingin kita semua egaliter. Tidak boleh ada lagi feodalisme ala zaman dulu. Mari kita ganti instruksi 'tolong selesaikan' menjadi 'ayo kita kerjakan bersama'," ajaknya.
DJP diharapkan menjadi ruang yang aman secara psikologis (psychological safety), terbuka untuk dialog, dan adil dalam perlakuan. Hal ini dinilai penting untuk menjaga kesehatan mental pegawai di tengah tantangan target dan tekanan pekerjaan yang tinggi.
Dialog Hati: Mendengar Suara dari Penjuru Negeri
Salah satu momen paling emosional dalam perayaan tahun ini adalah sesi dialog interaktif antara Dirjen Pajak dan para pejuang di lapangan. Melalui sambungan daring, Bimo Wijayanto berbincang langsung dengan para pegawai yang tertimpa musibah bencana alam, mereka yang bertugas di daerah pelosok tanah air, hingga pasangan sesama pegawai DJP yang harus menjalani hubungan jarak jauh (LDR) demi tugas negara.
Dialog ini mengungkap sisi humanis organisasi, bagaimana pimpinan hadir bukan sekadar memberikan instruksi, tetapi mendengarkan tantangan psikologis dan kerinduan mereka terhadap keluarga. Hal ini selaras dengan tema Natal tahun ini, yang menekankan bahwa keselamatan dan kebahagiaan keluarga adalah prioritas utama.
Berbagi Kasih dengan Sesama
Di tengah sukacita Natal, keluarga besar DJP tidak melupakan saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah. Rangkaian kegiatan Natal sudah dimulai dari Desember lalu, yaitu memberikan sumbangan bakti sosial untuk korban bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sebagai wujud nyata kepedulian sosial institusi.
Perayaan Natal Oikoumene DJP 2025 ini ditutup dengan semangat baru: semangat untuk menjadi institusi yang tidak hanya piawai mengumpulkan penerimaan negara, tetapi juga institusi yang memanusiakan pegawainya, menjunjung tinggi etika, dan merawat integritas layaknya menjaga keluarga sendiri.

Menurut hemat penulis, momen perayaan Natal ini menjadi refleksi bahwa DJP merupakan rumah besar yang menaungi seluruh pegawainya dengan beragam latar belakang keyakinan. Mari kita jaga rumah besar ini dengan penuh integritas dan memegang teguh perintah dan kasih Tuhan.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 15 kali dilihat