Urgensi Perpajakan Mengisi Kemerdekaan

Oleh: Joko Susanto, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Merdeka! Yups. Merdeka memang hanya sebuah kata, namun jalan untuk mewujudkannya sangatlah terjal dan menuntut pengorbanan besar tidak terkira. Tidak cukup hanya dengan cucuran keringat dan linangan air mata, belum bisa terbayar dengan tetesan darah para pejuang. Bahkan, perjuangan itu masih harus ditebus dengan perngorbanan nyawa para syuhada.
Betapa berat dan mulianya jejak perjuangan yang ditempuh para pahlawan kemerdekaan. Dengan ikhlas, semua itu mereka korbankan demi kejayaan bangsa di masa depan. Demi kita. Dengan spirit persatuan meskipun dibalut berbagai keterbatasan, para pahlawan memberikan sumbangsih terbaiknya tanpa banyak kata-kata.
Melalui untaian puisi Nyanyian Kemerdekaan, Ahmadun Yosi Herfanda meluapkan semangatnya dalam deretan kata-kata:
Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan
Di antara pahit manisnya isi dunia
Akankah kau biarkan aku duduk berduka
Memandang saudaraku, bunda tercintaku dipasung orang asing itu?
Mulutnya yang kelu tak mampu lagi menyebut namamu
Berabad-abad kau terlelap
Bagai laut kau kehilangan ombak…
Pada masa kekinian, dalam buku Pajak Punya Cerita, dari Cerita Senyum Bermula (2019), penulis pernah mendokumentasikan kisah penuh semangat seorang pensiunan TNI Angkatan Laut. Pada masa mudanya sering bertugas muhibah dan latihan perang ke berbagai negara lintas benua selama berbulan-bulan termasuk India dan Rusia. Bahkan, ketika keempat anaknya lahir di kampung, di sebuah desa di Tasikmalaya, tidak satu pun yang ditungguinya karena keberadaannya sedang bertugas nun jauh di sana.
Meskipun usianya telah senja, jiwa prajurit sejati tetap melekat kuat di dadanya. Setiap musim pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi tiba, dia minta dibonceng oleh anak perempuannya dengan sepeda motor tua untuk melaporkan SPT-nya ke Kantor Pelayanan Pajak di Sidoarjo. Koleksi tanda terima bukti pelaporan pun pernah ditunjukkan kepada penulis. Meskipun dia termasuk yang berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, dia berwasiat agar ketika meninggal dunia dimakamkan di makam kampung dekat rumahnya. Beberapa waktu kemudian, wasiat itu dipenuhi keluarganya. Semoga Allah SWT berkenan menjadikan kuburnya sebagai taman surga.
Kontribusi Perpajakan
Ketika berbagai sumber penerimaan pundi-pundi negara yang pernah menjadi primadona mengalami penurunan drastis maka pajak diharapkan berperan penting. Dalam perjalanannya memang terbukti telah menjadi tulang punggung utama sumber keuangan negara. Primadona penerimaan negara itu menunjukkan signifikansi kontribusi dan selalu berada di ‘puncak klasemen’ di antara penyumbang penerimaan negara yang terbesar. Para pembayar pajak, para pahlawan bangsa masa kini itu, perlu diajak bersinergi membangun negeri dengan peduli membayar pajak. Mengapa? Karena dana yang dikumpulkan dari mereka sangat berguna bagi sesama dan bangsa.
Pembangunan infrastruktur untuk menghubungkan berbagai potensi ekonomi daerah di berbagai wilayah Indonesia memerlukan dana yang sangat besar. Tujuannya untuk memeratakan pembangunan, menumbuhkan kegiatan ekonomi baru, serta meningkatkan distribusi barang dan jasa, yang pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pengurangan kemiskinan, maka peran penerimaan pajak sangatlah menentukan.
Meskipun penyampaian informasi seputar pajak telah dan terus dilakukan lewat berbagai media, ternyata kadang masih ada kesalahan persepsi yang seharusnya tidak perlu terjadi. Misalnya, masih ada sebagian wajib pajak yang merasa khawatir atau takut uang yang disetornya itu tidak benar-benar masuk ke kas negara. Padahal, penyetorannya nyata-nyata lewat bank atau kantor pos. Ada pula ketidaktahuan tentang penggunaan alokasi dana dari pajak. Melalui edukasi kesadaran pajak dan kegiatan kehumasan yang intensif, semoga hal ini dapat segera teratasi,
Kilas balik atas perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia semestinya dapat melecut semangat para putra terbaik bangsa, penerus cita-cita para pahlawan, dalam beberapa hal.
Pertama, dengan menyadari betapa beratnya meraih kemerdekaan, sudah selayaknya kita berusaha mengawal dan mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat bagi sesama dan bangsa pada umumnya. Setiap warga negara pasti memiliki potensi besar untuk berpartisipasi dalam kebaikan (konstruktif) minimal bagi miniatur negara terkecil tetapi sangat urgen bernama sebuah institusi keluarga.
Kedua, peran perpajakan telah menjadi bagian utama dalam postur pendanaan pembangunan telah memberikan subsidi berbagai sektor meskipun kadang tidak disadari.. Kontribusinya sebagai tulang punggung utama penerimaan APBN memungkinkan pembangunan berbagai lini dapat berjalan sesuai rencana. Maka, menjadi warga negara yang sadar dan peduli pajak seperti kisah prajurit di atas kiranya menjadi sebuah cermin inspiratif banyak orang.
Ketiga, meneladani nilai-nilai perjuangan para pendahulu bukanlah berarti dengan sekadar memajang foto para pendahulu di ruang tertentu, namun yang lebih relevan dan mendesak adalah meneladani dan meneruskan kebaikan yang telah dilakukannya untuk diterapkan sesuai perkembangan zaman.
Keempat, Direktorat Jenderal Pajak masih terus melakukan berbagai pembenahan. Institusi ini bertekad menunjukkan bahwa denyut reformasi pajak belum terhenti. Segala tantangan menjadi masukan dan batu loncatan untuk menegakkan harapan bersama bahwa kontribusi yang besar dalam penerimaan perlu diimbangi kesiapan aspek layanan optimal dan bukti reformasi serupa.
Bangsa yang besar niscaya akan menghargai jasa para pahlawannya. Sebagai generasi penerus, kita berkewajiban menjaga agar spirit pengorbanan para pahlawan tidaklah sia-sia. Mereka mungkin turut tersenyum bahagia apabila hasil perjuangannya diwarnai dengan kegiatan yang membangun, bukan justru dengan perbuatan yang merusak. Menjadi sadar dan peduli pajak adalah salah satu bukti kegotongroyongan mengisi kemerdekaan. Melalui partisipasi aktif dalam perpajakan kita dapat mengisi ruang kemerdekaan itu sebagai sebuah kesempatan. Merdeka.
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja
- 388 kali dilihat