Sudah Bisakah Menghitung Pajak Youtuber?

Oleh: Isnaningsih, pegawai DIrektorat Jenderal Pajak
Dalam perkembangan zaman yang serba digital seperti sekarang, sistem automasi dan penggunaan robot diterapkan di mana-mana. Beberapa jenis profesi tenggelam karena telah tergantikan atau tidak lagi relevan. Kita memerlukan keterampilan baru untuk menghadapi semua perubahan yang terjadi. Kita perlu kemampuan berpikir kritis karena arus informasi sangat cepat.
Kemampuan berkomunikasi juga sangat dibutuhkan terlebih dengan beragamnya media sosial yang banyak diminati. Kita juga memerlukan kemampuan berkreasi serta berkolaborasi. Profesi-profesi baru bermunculan terutama profesi yang membutuhkan kreativitas.
Content creator adalah salah satu dari sekian banyak profesi baru yang bermunculan saat ini yang memerlukan kreativitas. Keberadaan mereka semakin menjamur terlebih dengan kemunculan new media yang menjadi ladang baru bagi orang-orang yang mampu berinovasi dan berkreasi dalam mengekspresikan diri mereka. Content creator memproduksi berbagai materi konten baik dalam bentuk tulisan, video, gambar, atau suara.
Isi materi yang dibuat pun tidak memiliki batasan, mengingat new media sangat mengglobal sehingga semua topik dapat dijadikan konten. Salah satu new media yang populer saat ini adalah YouTube. Berdasarkan data dari We Are Social & Hootsuit, YouTube menempati urutan kedua di dunia sebagai salah satu platform sosial dengan pengguna terbanyak setelah Facebook yaitu sejumlah 2.291 juta pengguna per Januari 2021.
Penggunaan internet oleh orang Indonesia sendiri rata-rata mencapai 8 jam 52 menit dalam satu hari dengan usia pengguna berumur 16 tahun hingga 64 tahun. Tentu saja data-data tersebut menunjukkan bahwa YouTube memiliki potensi yang besar. Youtuber, sebutan bagi content creator video pada platform YouTube menjadi banyak dilirik lantaran potensinya yang besar, pangsa pasarnya luas, bahkan menjadi cita-cita populer bagi anak-anak zaman sekarang.
Dari mana sajakah Youtuber memperoleh keuntungan? Youtuber bisa mendapat penghasilan dari Google AdSense dengan memonetisasi akun mereka baik memonetisasi sendiri maupun melalui pihak ketiga yang tersertifikasi oleh Google. Google AdSense sendiri adalah program periklanan melalui media internet yang diselenggarakan oleh Google. Oleh karenanya, akun yang telah dimonetisasi ini nantinya akan menampilkan iklan.
Akun yang dimonetisasi langsung oleh pemiliknya akan menerima penghasilan yang dibayarkan oleh Google AdSense secara langsung. Sementara akun yang dimonetisasi oleh pihak ketiga yang tersertifikasi oleh Google atau Multi Channel Network (MCN) maka penghasilannya akan diperoleh dari MCN selaku perantaranya dengan Google AdSense.
Youtuber juga bisa mendapat penghasilan dari kegiatan endorsement yaitu membagikan info suatu produk, melakukan promosi produk tersebut, serta mengajak orang lain untuk menggunakan produk tersebut. Pendapatan lainnya juga bisa didapat dari affiliate links, product placement, product review, brand deals lainnya hingga royalti.
Bahkan ada juga sumber pendapatan yang muncul baru-baru ini yaitu berupa video eksklusif berbayar dari Youtuber untuk penontonnya. Penonton harus berlangganan terlebih dahulu dengan membayar sejumlah uang untuk mendapatkan beberapa keuntungan seperti menonton video eksklusif yang hanya bisa dilihat oleh penonton yang berlangganan saja.
Lalu bagaimana mengenai kewajiban pajak Youtuber atas penghasilan yang didapatkan? Sesuai dengan amanah Undang-Undang KUP Pasal 2 ayat (1), Youtuber berkewajiban mendaftarkan diri ke kantor pajak untuk memperoleh NPWP. Untuk penghitungan pajaknya para Youtuber dapat memilih apakah akan melakukan pencatatan atau melakukan pembukuan.
Apabila melakukan pencatatan, maka dasar pengenaan pajaknya menggunakan norma penghitungan penghasilan neto sesuai PER-17/PJ/2015 dikalikan penghasilan bruto dan dikurangi penghasilan tidak kena pajak. Sedangkan jika memilih melakukan pembukuan, maka dasar pengenaan pajaknya adalah penghasilan neto fiskal dikurangi penghasilan tidak kena pajak.
Penghasilan neto fiskal merupakan hasil dari penghasilan bruto dikurangi biaya-biaya dan disesuaikan dengan koreksi fiskal. Dari dasar pengenaan pajak yang sudah diketahui nantinya dikalikan dengan tarif Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan. Youtuber dapat memilih melakukan pencatatan jika penghasilan bruto yang didapatkan kurang dari Rp4,8 miliar dalam satu tahun.
Sebagai contoh, Amrih Wening adalah seorang Youtuber yang belum berkeluarga dengan konten berupa video kecantikan dengan penghasilan Rp1 miliar dari Google AdSense dan Rp2 miliar dari endorsement. Untuk memperoleh penghasilan tersebut, Amrih Wening membutuhkan biaya sehubungan dengan pekerjaannya yaitu Rp140 juta untuk biaya tim, Rp160 juta untuk biaya transportasi, Rp400 juta untuk biaya manajer pribadi, dan Rp100 juta untuk biaya operasional lainnya.
Dalam menghitung dasar pengenaan pajaknya, Amrih Wening dapat memilih penghitungan dengan pencatatan yang nantinya dihitung menggunakan norma penghitungan penghasilan neto tertentu atau memilih penghitungan dengan pembukuan.
Apabila memilih pencatatan, maka dasar pengenaan pajaknya adalah 50% dikalikan penghasilan bruto dikurangi penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Youtuber termasuk dalam klasifikasi lapangan usaha kegiatan pekerja seni sehingga norma penghitungan penghasilan netonya adalah 50%. Dengan begitu, penghitungannya menjadi (50% x Rp3 miliar) dikurangi PTKP Rp54 juta yang menghasilkan Rp1,446 miliar sebagai penghasilan kena pajak.
Sedangkan jika memilih pembukuan, penghitungannya menjadi penghasilan bruto dikurangi biaya-biaya dan penyesuaian dengan koreksi fiskal kemudian baru dikenakan tarif Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan. Jumlah penghasilan dikurangi biaya sehubungan dengan pekerjaan dan PTKP yaitu Rp3 miliar dikurangi biaya Rp800 juta dan PTKP Rp54 juta dihasilkan penghasilan kena pajak sebesar Rp2,146 miliar. Atas penghasilan kena pajak kemudian dikenakan tarif progresif Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan.
Hasil penghitungan penghasilan kena pajak yang dikenakan tarif progresif Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan merupakan pajak terutang yang harus disetorkan ke kas negara. Pembayaran pajak tersebut dapat dibayarkan ke bank baik secara langsung maupun transfer melalui mobile/internet banking maupun melalui mesin ATM, atau tempat pembayaran lain seperti kantor pos.
Kewajiban pelaporan SPT Tahunan juga harus dilakukan sebanyak satu kali dalam satu tahun. Pelaporan dilakukan paling lambat tiga bulan setelah akhir tahun pajak untuk orang pribadi dan empat bulan setelah akhir tahun pajak untuk badan. Jika menggunakan tahun buku dari Januari sampai Desember, maka pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi dilakukan mulai Januari hingga paling lambat akhir Maret di tahun berikutnya. Sedangkan untuk badan bisa dilakukan dari Januari hingga paling lambat akhir April di tahun berikutnya.
Kewajiban pajak seorang Youtuber ternyata tidak ada bedanya dengan wajib pajak lain bukan? Sama-sama harus mendaftar NPWP, menghitung pajaknya sendiri, membayarkan pajaknya, dan kemudian melaporkan SPT. Karena sistem pajak di negara kita adalah self assessment, semua dilakukan sendiri oleh wajib pajak.
Banyak sekali sisi positif yang diperoleh seorang Youtuber seperti ketenaran dan memiliki pengaruh ke pengikutnya. Youtuber taat pajak tentunya harus jadi hal yang wajar bukan?
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.
- 1092 kali dilihat