Oleh: Andi Zulfikar, pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Membaca dan menulis adalah salah satu kemampuan dasar yang sebaiknya dipunyai oleh seorang manusia. Dengan membaca, seseorang dapat mengumpulkan dan mengolah informasi yang kemudian akan menjadi ilmu pengetahuan. Dengan menulis, seseorang dapat membagi ilmu pengetahuan yang ada di otaknya, hingga memberikan manfaat tidak hanya kepada dirinya sendiri, namun juga kepada orang lain. Untuk itu, kemampuan literasi menjadi hal penting.

                Seseorang dengan kemampuan literasi yang baik, yaitu kemampuan mengolah dan memahami informasi saat membaca dan menulis, mempunyai peluang untuk menjadi manusia yang tercerahkan. Manusia yang tercerahkan bermakna dia mampu mempraktikkan dan mengembangkan keilmuannya. Pada akhirnya bila dalam suatu bangsa terdiri dari orang-orang yang mempunyai kemampuan literasi yang baik, maka kemajuan suatu bangsa akan lebih mudah diraih. Hal ini telah dibuktikan oleh banyak bangsa-bangsa besar di dunia.

Bangsa yang besar terlahir dari para pemikir-pemikir yang bukan hanya paham membaca, tetapi juga mampu membagikan ilmu pengetahuan mereka melalui artikel ataupun buku-buku yang mereka tulis. Pemikiran yang mereka punyai tersebut akhirnya dapat dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat yang setuju dengan pemikirannya. Pemikiran hebat dengan kemampuan literasi yang luar biasa melahirkan bangsa yang kuat.

                Oleh karenanya, pengenalan aksara merupakan langkah awal kemajuan suatu bangsa. Aksara menjadi jembatan menuju kemampuan literasi. Menyadari hal tersebut, pada tahun 1965, diadakan konferensi para menteri pendidikan sedunia di Teheran, Iran, yang membahas tentang pemberantasan buta huruf. Setahun kemudian, UNESCO mendeklarasikan 8 September sebagai International Literacy Day atau Hari Aksara Internasional.

 

Pemberantasan Buta Huruf

                Ada dua tujuan penting dari deklarasi Hari Aksara Internasional. Pertama adalah agar terwujudnya pemahaman masyarakat global tentang pentingnya literasi dengan pemberantasan buta huruf, yang kedua adalah mewujudkan kesejahteraan global dengan kemampuan literasi penduduk dunia yang baik.  Hal ini dapat terwujud dengan dukungan sistem pendidikan yang berkualitas.

                Di Indonesia, pemberantasan buta huruf didukung secara penuh oleh pemerintah. Bahkan sebelum dideklarasikannya Hari Aksara Internasional, bangsa Indonesia telah lebih dahulu menyadari pentingnya pemberantasan buta huruf. Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mencanangkan program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) pada 14 Maret 1948. Bahkan beliau terjun sendiri sebagai pengajar pertama dalam program tersebut.

                Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mempunyai beberapa strategi untuk memberantas buta huruf. Strategi yang pertama adalah pemutakhiran basis data. Langkah yang kedua adalah fokus pada daerah-daerah dengan persentase tertinggi buta hurufnya. Langkah yang ketiga adalah pengembangan jejaring dan sinergi kemitraan lintas sektor. Langkah yang terakhir adalah inovasi program melalui layanan daring.

                Selain melalui program yang diselenggarakan pemerintah untuk pemberantasan buta huruf, peningkatan kemampuan literasi melalui pengenalan aksara adalah melalui jalur pendidikan formal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstrukur dan berjenjang yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Melalui jalur tersebut, pengenalan aksara merupakan langkah awal bagi murid untuk menempuh jalur pendidikan yang lebih tinggi.

                Mewujudkan masyarakat yang bebas buta aksara memang menjadi bagian dari kerja pemerintah. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2021, angka penduduk buta aksara adalah 1,56 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 2,7 juta orang. Pada tahun 2020, jumlah penduduk yang buta aksara adalah 2,9 juta orang. Ini berarti terdapat penurunan jumlah penduduk yang buta aksara.

 

Peranan Pajak

                Untuk melakukan program pemerintah serta meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dalam rangka peningkatan kualitas literasi, tentu saja memerlukan sumber dana. Salah satu sumber dana penerimaan di Indonesia adalah dari pajak yang Anda bayarkan karena memang penerimaan pajak sampai saat ini menjadi penerimaan terbesar negara kita.

                Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan hal yang menunjukkan besarnya perhatian pemerintah terhadap sektor Pendidikan. Anggaran Pendidikan di dalam APBN 2023 mencapai Rp612,2 triliun. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pemberian anggaran pendidikan di Indonesia. Tentu saja di dalam anggaran pendidikan tersebut termasuk anggaran untuk pemberantasan buta huruf serta peningkatan kualitas literasi penduduk Indonesia. Sebagai perbandingan, pada tahun 2023 target penerimaan pajak adalah sebesar Rp1.718 triliun.

                Dengan demikian, peranan para pembayar pajak sangatlah besar bagi pendidikan bangsa. Dengan membayar pajak, maka seseorang membawa pelita-pelita yang kelak akan menjadi cahaya yang lebih besar bagi bangsa Indonesia, bangsa yang kita cintai ini.

                Kofi Annan, mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, pernah menyampaikan bahwa kemampuan literasi adalah jembatan dari kesengsaraan menuju harapan. Dengan literasi yang baik maka manusia dapat mengumpulkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, paling tidak untuk kehidupannya sebagai pribadi. Itu akan menjadi harapan yang lebih terbuka baginya untuk meraih masa depan yang lebih baik.

                Peringatan Hari Aksara Internasional mengingatkan kita bahwa dalam pajak Anda, ada aksara kebahagiaan bagi bangsa Indonesia!

 

*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.

Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.