Mengenal Kurva Laffer, Kurva yang Menentukan Tarif Pajak Optimal

Oleh: Qadri Fidienil Haq, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Salah satu kurva yang populer dalam ekonomika adalah kurva Laffer. Kurva ini menjelaskan relasi antara tarif pajak dan penerimaan pajak. Singkatnya, kurva ini menggambarkan bahwa terdapat suatu tarif pajak di antara 0% dan 100% yang dapat memberikan penerimaan pajak paling tinggi untuk suatu negara. Menurut teori ini, pada titik ekstrem, yakni di ujung satu tarif 0%, dan di ujung lainnya tarif 100%, negara tidak bakal memperoleh apa-apa dari pengenaan pajak. Oleh karena itu, diperlukan rumusan tarif tertentu di antara angka 0% dan 100%, guna meraup penerimaan pajak yang maksimal. Dalam keadaan tertentu pula, negara dapat memanfaatkan kurva ini untuk mengambil kebijakan instentif penurunan tarif pajak supaya mendongkrak penerimaan negara.
Sesuai namanya, kurva Laffer diperkenalkan oleh Arthur Betz Laffer, seorang ekonom kawakan berkebangsaan Amerika Serikat. Laffer lahir pada tahun 1940. Pada usia 32 tahun, ia mendapatkan gelar doktor bidang ekonomi dari Stanford University. Sebagai seorang profesor pakar ekonomi bisnis pada The University of Sothern California, Laffer populer dengan teori supply side economics yang konsepnya adalah menurunkan tarif, menyederhanakan regulasi, dan mendorong perdagangan bebas.
Ia mengemukakan teori kurva Laffer pertama kali pada tahun 1974 ketika pertemuan makan malam dengan Dick Cheney dan Donald Rumsfeld yang merupakan staf dari Presiden Amerika Serikat saat itu, Gerald Ford. Dalam perjamuan itu, mereka berdiskusi ihwal sistem pajak yang pada saat itu tarif tertingginya mencapai 70%. Sehelai serbet di mejanya menjadi media Laffer untuk memaparkan kurva Laffer dan menjelaskan idenya.
Sebenarnya Laffer tak pernah mengeklaim bahwa ini temuan murni darinya. Inspirasi Laffer dalam teorinya salah satunya berasal dari Ibnu Khaldun, seorang pemikir Islam pada abad 14. Laffer menyatakan bahwa ia menyadur buku Muqaddimah yang ditulis Ibnu Khaldun (Laffer, 2004). Sesuai dengan hukum Islam yang dianutnya, Ibnu Khaldun percaya bahwa pemerintah hanya perlu mengenakan pajak yang rendah kepada rakyatnya. Hasil pemikirannya berasal dari kenyataan bahwa pada saat awal dinasti, penerimaan pajak tinggi kendati tarif pajak rendah. Namun, pada akhir dinasti, penerimaan pajak justru rendah dari tarif pajak yang yang tinggi. Ia juga mengelaborasi gagasan para cendekiawan terdahulu, antara lain John Maynard Keynes serta Adam Smith.
Kurva Laffer berbentuk seperti lonceng dengan sumbunya adalah tarif pajak dan penerimaan pajak. Kurva Laffer menggambarkan bahwa pada saat tarif pajak 0%, penerimaan pajak juga 0. Penerimaan pajak akan meningkat seiring dengan dengan peningkatan tarif pajak. Pada suatu besaran tarif pajak tertentu, penerimaan pajak akan mencapai titik tertinggi. Setelah melewati besaran tarif pajak tersebut, penerimaan pajak akan terus menurun. Kemudian, pada tarif pajak 100%, penerimaan pajaknya akan kembali ke titik 0. Dengan demikian, terdapat dua tarif pajak yang menghasilkan penerimaan pajak yang sama (Wanniski, 1978).
Laffer menjelaskan bahwa kenaikan pajak tidak serta-merta dapat mengerek penerimaan pajak. Meningkatkan tarif pajak menjadi 100% alih-alih menaikkan penerimaan pajak, tetapi justru malah membuat penerimaan pajak menjadi 0. Hipotesisnya adalah bahwa masyarakat akan enggan untuk bekerja atau memproduksi suatu barang jika tidak menerima penghasilan karena seluruhnya diserahkan ke negara.
Salah satu betuk manifestasi dari kurva Laffer adalah pemotongan tarif pajak pada lapisan penerima penghasilan yang tinggi sehingga dapat mendorong investasi yang dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan konsumsi masyarakat. Orang kaya tersebut akan menggunakan penghematan pajak yang diterimanya untuk kegiatan ekonomi yang lebih produktif. Pada akhirnya, penerimaan pajak juga akan meningkat seiring dengan meningkatnya perekonomian. Konsep ini sering disebut “trickle-down economy”.
Adopsi teori kurva Laffer ke dalam kebijakan perpajakan mengilhami banyak pemimpin negara. Kurva ini mendorong evaluasi tarif pajak untuk penerimaan pajak dan ekonomi suatu negara. Penurunan tarif pajak menjadi gagasan utama yang diserap dari kurva ini ke dalam bentuk kebijakan berbagai negara. Tujuan utamanya adalah meningkatkan perekonomian suatu negara sehingga penerimaan pajak akan tumbuh seiring peningkatan basis pajak.
Pada tahun 1981, Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, membuat kebijakan ekonomi dengan kurva Laffer sebagai pilar kebijakannya. Reagan menurunkan tarif tertinggi pajak penghasilan (PPh) dari 70% menjadi 50% dan tarif terendah PPh dari 14% ke 11%. Penurunan tarif ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Amerika Serikat (CRFB, 2018). Sesuai dengan nama peraturannya, “The Economic Recovery Tax Act”, ekonomi diharapkan mengalami pertumbuhan karena berkurangnya tarif pajak ini. Dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin baik, penerimaan pajak juga secara bertahap juga akan terdongkrak.
Banyak penelitian mencoba membuktikan kebenaran empiris dari Kurva Laffer. Annuar dkk. (2018) menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara tarif pajak dan penerimaan pajak di Malaysia pada periode 1996 - 2014. Penurunan tarif pajak badan di Malaysia telah meningkatkan produksi dan meningkatkan basis pajak dalam jangka panjang. Creedy dan Gemmel (2017) juga menggunakan kurva Laffer dalam mempelajari elastisitas dari wajib pajak badan Amerika Serikat.
Kendati demikian, kurva Laffer juga tidak lepas dari kritik. Banyak ekonom menilai kurva ini terlalu menyederhanakan hubungan tarif pajak dengan penerimaan pajak. Kurva Laffer hanya menyajikan tarif pajak tunggal. Padahal, dalam realitasnya, tarif pajak yang satu dapat mempengaruhi penerimaan jenis pajak yang lain. Misalnya, tarif PPh yang tinggi dapat membuat daya beli turun, sehingga PPN akan terkena imbasnya dan sebaliknya. Namun, setidaknya buah pemikiran Laffer ini tetap relevan dalam merumuskan sejumlah kebijakan insentif perpajakan di berbagai negara.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 819 kali dilihat