Oleh: Wiyoso Hadi, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Di dunia ini ada orang-orang yang berilmu tinggi tapi mereka tak diketahui oleh publik. Di dunia ini juga ada orang-orang yang banyak berbuat kebajikan yang memberi manfaat besar bagi masyarakat luas tapi jauh dari sorotan publik. Dalam banyak kasus, hal-hal tersebut terjadi bukan karena mereka menjauh dari publik tapi karena mereka tak pandai atau tak berpengalaman dalam komunikasi publik.

Hal di atas tak perlu terjadi kepada siapa pun, termasuk kepada relawan-relawan pajak baik dari kalangan mahasiswa maupun nonmahasiswa, jika punya bekal dan keahlian dalam komunikasi publik. James Calhoun Humes (1934-2020), penulis naskah pidato kenegaraan untuk lima Presiden Amerika Serikat, yakni Dwight Eisenhower, Richard Nixon, Gerald Ford, Ronald Reagen, dan George H.W. Bush, pernah mengungkapkan bahwa, seni komunikasi adalah bahasa kepemimpinan.

Artinya, kesuksesan seseorang dalam memimpin untuk menggerakkan publik atau bahkan dunia tak lepas dari sejauh mana orang itu menguasai seni komunikasi publik. Untuk itu, izinkan penulis untuk sedikit berbagi tips berdasarkan pengalaman pribadi jadi penyunting naskah-naskah publikasi belasan tokoh nasional sejak 1992 dan menjadi narasumber terkait publikasi sejak 2006.

Pertama, bicara dan menulislah dari hati. Ide-ide besar bisa menggugah pikiran tapi hanya sentuhan lembut dari hati ke hati yang dapat membangun kesadaran dan menggerakkan jiwa-jiwa untuk melakukan hal-hal yang besar dan sangat berarti bagi negara, bangsa, dan masyarakat luas. Termasuk dalam hal ini membangun kesadaran dan gerakan senang membayar pajak demi bangsa, negara, dan kemaslahatan masyarakat luas.

Kedua, bicara dan menulislah dengan memperhatikan situasi. Dalam hal ini Anda perlu tahu kapan saat yang paling tepat untuk menyampaikan sesuatu. Dalam konteks sosialisasi perpajakan, para relawan pajak perlu tahu agenda nasional dan bulanan terkait perpajakan, sehingga Anda dapat menggunakan momentum-momentum yang tepat dalam membantu Direktorat Jenderal Pajak di dalam sosialisasi perpajakan.

Ketiga, bicara dan menulislah dengan niat baik. Dalam konteks sosialisasi perpajakan, para relawan pajak perlu menyampaikan bahwa pajak hadir untuk membahagiakan masyarakat bukan untuk menyengsarakan. Pajak bisa membahagiakan masyarakat saat masyarakat dapat menikmati fasilitas umum di bidang kesehatan, pendidikan, transportasi, dan lain-lainnya secara gratis jika pajak yang terkumpul telah tercukupi dan dialokasikan secara tepat semuanya. Negara-negara Skandinavia seperti Swedia, Denmark, dan Norwegia bisa jadi kiblat dalam hal tersebut.

Keempat, bicara dan menulislah untuk berbagi bukan untuk dipuji. Mereka yang ingin dipuji sebagai orang berpendidikan tinggi dan/atau berwawasan luas sering terjebak berbicara dan menulis dalam bahasa teknis akademisi atau terlalu sastrawi yang hanya dapat dipahami oleh kalangan mereka sendiri, yaitu para akademisi, penggiat sastra, rekan-rekan seprofesi, dan/atau orang-orang pintar berpendidikan tinggi. Sedangkan mereka yang berbicara dan menulis untuk berbagi akan berbicara dan menulis dengan bahasa yang simpel mudah dimengerti serta didukung dengan contoh-contoh nyata yang mudah diterapkan oleh banyak orang lintas strata dan usia.

Dalam hal poin keempat ini, para relawan pajak bisa memperbanyak membuat konten-konten vlog dan blog tentang cara menghitung, membayar, dan melapor segala jenis pajak pusat secara mudah dan nyaman yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti untuk semua penyimak konten perpajakan lintas strata dan usia, serta dilengkapi dengan contoh-contoh yang mudah diikuti.

Kelima, bicara dan menulislah secara terstruktur sehingga mudah diikuti, diingat, dan dipraktikkan oleh para penyimak materi Anda. Dalam konteks sosialisasi perpajakan, para relawan pajak perlu memandu masyarakat dan khususnya wajib pajak tentang hak dan kewajiban perpajakan secara terstruktur, sehingga mudah diikuti, diingat, dan dipraktikkan oleh masyarakat dan khususnya wajib pajak.

Keenam, bicara dan menulislah dengan intonasi dan gaya, sehingga tidak membosankan. Dalam hal ini sesuaikanlah dengan karakter pribadi Anda. Jika Anda seorang yang humoris, maka selipkan humor dalam berbicara ke publik dan dalam tulisan Anda. Jika Anda seorang yang agamis, maka selipkan nilai-nilai religius dalam berbicara ke publik dan dalam tulisan Anda. Jika Anda berjiwa filsafati, maka selipkan renungan-renungan filsafati dalam berbicara ke publik dan dalam tulisan Anda. Jika Anda berjiwa seni atau sastrawi, maka selipkan seni atau sastra dalam berbicara ke publik dan dalam tulisan Anda.

Demikian pula dalam sosialisasi perpajakan, para relawan pajak dapat mempromosikan pajak dengan berbagai cara dan dari berbagai arah. Bisa lewat humor, agama, budaya, semangat nasionalisme kebangsaan, filsafat, seni, sastra, olahraga, peduli lingkungan hidup, kuliner, dan lain-lainnya. Gunakan kreativitas Anda sesuai gairah jiwa atau passion, minat, bakat, dan karakter pribadi Anda.

Seluruh tax center di Indonesia bisa mengelompokkan relawan pajaknya dalam divisi-divisi sesuai gairah, minat, bakat, dan karakter pribadi mereka masing-masing, sehingga meningkatkan daya cipta dan kompetisi sehat dalam penyuluhan dan sosialisasi perpajakan kepada masyarakat luas oleh para relawan pajak.

Ketujuh, bicara dan menulislah dengan ringkas padat. Jangan bertele-tele. Itu bagian dari strategi agar Anda dapat perhatian dari penyimak materi Anda dari awal hingga akhir materi baik itu dibawakan secara lisan atau tertulis melalui tulisan. Dalam hal penyuluhan perpajakan, para relawan pajak perlu dilatih untuk menyampaikan materi-materi perpajakan secara ringkas padat.

Kedelapan, bicara dan menulislah dengan percaya diri tinggi tapi santun. Ini agar Anda dapat respek sekaligus cinta dari penyimak materi Anda. Dalam hal penyuluhan dan sosialisasi perpajakan, para relawan pajak perlu ditanamkan rasa percaya diri tinggi serta kesantunan sehingga masyarakat merasa nyaman, betah, cinta, dan rindu dipandu oleh para relawan pajak itu.

Kesembilan, bicara dan menulislah sesuai target pendengar dan pembaca. Dalam hal ini, Anda perlu tahu kebutuhan, perilaku, budaya, norma sosial, dan tingkat pendidikan calon penyimak Anda sebelum Anda berbicara atau menulis materi publikasi kepada mereka. Sesuaikan dengan kebutuhan, perilaku, budaya, norma sosial, dan tingkat pendidikan penyimak Anda, maka pidato dan tulisan Anda akan diviralkan oleh para penyimak Anda itu.

Kesepuluh, bicara dan menulislah dengan merasakan kehadiran Tuhan selalu dalam sanubari dan setiap gerak-gerik Anda (alias Ihsan), maka Anda akan selalu dituntun bagaimana agar sukses berbicara dan menulis kepada publik dan dunia sesuai petunjuk sempurna Tuhan Yang Mahasempurna.

Kesebelas, bicara dan menulislah apa yang perlu diketahui oleh publik dan bukan semuanya yang Anda ketahui. Filsuf besar Yunani Sokrates mengingatkan, "Orang bijak bicara karena ada hal penting untuk diutarakan, orang dungu bicara karena nafsu untuk mengutarakan segala hal."

Kesebelas seni komunikasi publik di atas dapat diterapkan dalam sosialisasi berbagai bidang, tak hanya di bidang perpajakan saja, dan bisa disebut sebagai 11 Seni Komunikasi Publik Wiyoso Hadi. Ada beragam Seni Komunikasi, pilihlah yang paling cocok buat Anda.

Khusus bagi publik yang berminat membantu menyuluh pajak, pilihlah yang paling cocok untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan pajak bangsa Indonesia ke depan karena pajak adalah tanggung jawab kita semua dan untuk kita semua. Mari galang dan kawal bersama-sama.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.