Oleh: Ahmad Dahlan, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Doa pagi sudah menjadi agenda rutin di jajaran institusi kami, sejak beberapa tahun sesuai instruksi pimpinan eselon 1. Doa dibacakan melalui corong pengeras suara. Speaker  ditempatkan di setiap ruangan, sehingga suaranya terdengar oleh seluruh penghuni kantor. Yang bertugas membacakan doa adalah pegawai secara bergiliran. Pagi ini saya yang mendapat giliran.

Naskah doa sudah disediakan oleh bagian kepegawaian. Petugas tinggal membacakan saja. Doa dipimpin dengan cara Islam, bagi pegawai yang beragama selain Islam diberi kesempatan berdoa sesuai agamanya masing-masing. Isi doa tentu saja permohonan kebaikan kepada Allah, antara lain memohon ampunan atas kesalahan pada diri dan para pemimpin, memohon keselamatan, dan kelancaran dalam mengemban amanah.

Kali ini, saya mencoba merangkai doa sendiri. Tadi malam saya susun, sebagian hasil nyontek dari status fbteman saya beberapa waktu lalu. Di antara untaian doa itu, saya selipkan sebaris doa untuk Wajib Pajak, "Yaa Razzaq.. Sang maha pemberi rizki. Berikan kepada seluruh wajib pajak kelancaran dan kesuksesan, dalam mengumpulkan penghasilan. Tanamkan kepada mereka kesadaran dan keikhlasan, sehingga membayar pajak adalah keniscayaan tanpa beban."

Iya, tampaknya selama ini ada yang terlupakan. Lupa tidak mendoakan wajib pajak. Padahal keberhasilan kami dalam mengumpulkan uang pajak, tidak terlepas dari keberhasilan Wajib Pajak dalam menjalankan bisnisnya. Naik turunnya penerimaan pajak, sangat bergantung dari naik turunnya usaha wajib pajak.

Juga lupa mendokan agar wajib pajak diberikan kesadaran dan keikhlasan dalam membayar pajak. Meskipun sesuai undang-undang pajak itu bersifat memaksa, alangkah baiknya jika wajib pajak membayar pajak dengan suka rela tanpa paksaan. Pajak yang dibayar dengan cara suka rela dan penuh keikhlasan, niscaya akan lebih barokah buat negara. Selama ini banyak uang negara yang digondol oleh koruptor, barangkai karena tidak barokah.

Sebenarnya selama ini, setiap mengakhiri pertemuan dengan wajib pajak, selalu saya tutup dengan kalimat, "Semoga usaha Bapak/Ibu semakin sukses". Saya mengucapkan itu sambil berjabatan tangan, tentu saja dibalas dengan penuh antusias oleh wajib pajak, "Aamiin.. ". Dan kemudian saya lanjutkan dengan kalimat, "...agar membayar pajaknya besar."

Saya membayangkan seandainya setiap pagi, seluruh unit kantor di jajaran DJP mendoakan wajib pajak. Doa memohon agar wajib pajak diberikan kesuksesan dalam menjalankan usahanya, memohon agar diberikan keikhlasan dalam menunikan kewajiban membayar pajak, kemudian diaminkan oleh seluruh pegawai. Apalagi jika seluruh pegawai DJP yang berjumlah lebih dari 39 ribu ini, menyelipkan doa ini dalam setiap ibadahnya, niscaya akan menggetarkan langit, dan Allah akan mengabulkan. Maka, wajib pajak sukses, penerimaan pajak tercapai sesuai target, uang negara barokah sehingga mampu mensejahterkan masyarakat.

Aamiin Yaa Allah.(*) 

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.