Padatnya Jalan di Bali dan Membaiknya Ekonomi

Oleh: I Gede Suryantara, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak 2020 hingga medio 2023 sangat memukul perekonomian Indonesia. Semua wilayah di Indonesia mengalami guncangan di mana banyak usaha yang behenti beroperasi, karyawan yang harus dirumahkan, bahkan terpaksa berhenti kerja. Berbagai kegiatan masyarakat harus berubah pola karena keadaan yang memaksa.
Bali pun tidak luput dari hantaman dampak pandemi. Ekonomi Bali yang sangat bertumpu pada aktivitas pariwisata terpaksa mendadak mandek. Dihentikannya penerbangan dari berbagai kota dan negara membuat kunjungan wisatawan berkurang sangat signifikan. Hotel-hotel tidak beroperasi menambah makin berkurangnya pergerakan turis. Pusat oleh-oleh, restoran, dan berbagai usaha penunjang pariwisata juga ikut merasakan berubahnya keadaan.
Bali terasa lengang saat pandemi Covid-19 menjadi ancaman kesehatan. Hiruk-pikuk jalanan di Kuta yang selalu menghiasi bergulirnya malam, hilang diterpa keadaan. Jalanan di Sanur yang biasanya dipenuhi iringan penikmat indahnya matahari terbit, yang tersisa hanyalah ruang kosong dengan tutupnya toko sebagai hiasan.
Meningkatnya Jumlah Kendaraan
Memasuki tahun 2023, ketika kebijakan kembalinya jalur penerbangan yang singgah ke Bali sudah mulai diterapkan, arus wisatawan mulai berdatangan. Para wisatawan mulai masuk secara perlahan. Berbagai hotel mulai berbenah menyesuaikan dengan berbagai kebijakan. Sejumlah usaha penunjang pariwisata juga ikut berbenah meskipun tidak semuanya bangkit karena membutuhkan waktu pemulihan.
Jalanan di berbagai sudut pulau Bali mulai terasa dengan lalu-lalangnya para pengendara. Deru kendaraan roda empat bergerak diselingi raungan knalpot roda dua. Meskipun jumlah pengunjung di awal kelonggaran kebijakan masih belum banyak, seiring perjalanan waktu selama tahun 2022 hingga tahun 2023, jumlah wisatawan makin bertambah. Berbagai bus pariwisata dari berbagai daerah mulai mengunjungi Bali dan pelan-pelan Pulau Dewata mulai meriah.
Jalanan di Bali semakin ramai sehingga mulai bertabur kepadatan. Beberapa ruas jalan penuh dengan berbagai macam kendaraan. Apalagi jalur yang menuju dan keluar kawasan wisata. Kepadatan lalu lintas sangat terasa. Pada saat-saat musim liburan, terasa sekali bagaimana hiruk-pikuknya jalanan dengan rangkaian bus pariwisata. Bermacam merk kendaraan pribadi, baik dengan nomor kendaaraan dari Bali maupun dari luar Bali kian terlihat. Di sela-selanya, akan muncul kendaran roda dua yang menyisip di tengah kepadatan yang ada.
Pemandangan yang mulai muncul adalah kendaraan mengular di sepanjang jalur arah ke Bedugul. Dari Pasar Baturiti menuju Danau Beratan akan terlihat kendaraan berjajar dan beberapa bagian terlihat mengumpul. Beberapa titik terlihat kendaraan berhenti lama. Hal ini karena adanya bus pariwisata yang bergantian keluar-masuk pusat penjualan oleh-oleh atau kawasan parkir di tempat wisata.
Kawasan Ubud juga tidak kalah padatnya. Dengan jalur kendaraan yang tidak begitu lebar, jumlah deretan kendaraan yang menuju tempat wisata di sekitar Ubud, akan menjadi pemandangan yang normal. Monkey Forest, Taman Reptil dan Burung, Campuhan, Tegalalalng, arum jeram sungai Ayung, Pasar Seni Sukawati, adalah titik-titik di mana kemacetan semakin terlihat nyata.
Baca juga:
Puteri Indonesia 2022, Harapan bagi Ekonomi Bali
Setelah UU HPP Terbit, Bali Harus Bangkit Kembali
Fenomena ini kerap terlihat seiring mulai meningkatnya arus wisatawan yang berkunjung ke Bali. Meningkatnya jumlah kendaraan di berbagai sudut jalanan di pulau Bali menjadi penanda ekonomi pariwisata bangkit kembali. Deretan kendaraan memenuhi jalur di kanan dan kiri.
Pada akhir tahun 2023, arus wisatawan meningkat pesat. Dinas Perhubungan Provinsi Bali mencatat jumlah kendaraan yang masuk ke Pulau Dewata selama liburan Natal dan tahun baru mencapai 98 ribu unit. Rinciannya, 90.556 kendaraan lewat Pelabuhan Gilimanuk dan 8.351 kendaraan melalui Pelabuhan Padangbai. Catatan arus kendaraan ini hanya tercatat pada liburan akhir tahun saja. Belum termasuk mulai tumbuhnya tingkat penjualan kendaraan di Bali yang memenuhi kebutuhan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Hal ini tentu menambah jumlah kendaraan di Bali.
Pulihnya ekonomi di Bali dengan mulai banyaknya kendaraan yang mengisi jalanan pulau Bali berimbas pada meningkatnya penghasilan pelaku usaha dan penduduk Bali yang terlibat dalam berbagai usaha. Meningkatnya penghasilan pelaku usaha dan penduduk di Bali memberikan dampak positif pada penggalian potensi pajak. Pada tahun 2023, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Bali telah mencapai penerimaan 100%. Sektor keuangan, perdagangan besar dan eceran, akomodasi dan makan minum, pemerintahan, serta konstruksi, merupakan sektor-sektor yang menopang penerimaan pajak di Bali. Jika kondisi ekonomi tidak ada perubahan yang signifikan dan ekonomi global berjalan positif maka pada tahun 2024, pertumbuhan positif dari pariwisata dan sektor penunjangnya akan menjadi penyokong penerimaan pajak,
Bagi penduduk Bali, pemandangan ramainya jalanan di pulau Bali bisa menjadi senyum kebahagiaan. Banyaknya kendaraan di jalanan pulau Bali bisa menjadi penanda mengalirnya rezeki bagi penduduk Bali. Keterpurukan saat pandemi Covid-19 yang memperlihatkan sepinya jalanan menuju kawasan wisata, kini berbalik dengan hiasan berbagai kendaraan yang memenuhi jalanan. Raungan knalpot kendaraan roda dua di setiap celah padatnya jalanan seakan menjadi suara panggilan kehidupan. Kepulan asap kendaraan seakan menjadi embusan datangnya harapan.
*) Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 59 views