Aroma tembakau menyambut saya setiap pagi selama beberapa hari dalam beberapa minggu terakhir. Di salah satu sudut area produksi PT HM Sampoerna Tbk. Malang (Selasa, 31/3/2026), sebuah meja di sudut kantin menjadi saksi pertemuan dua dunia yang sangat kontras, yakni dunia teknologi perpajakan masa depan bernama Coretax DJP dan dunia para ibu pelinting rokok. Kami hadir memberikan sebuah layanan asistensi perpajakan, pelaporan surat pemberitahuan (SPT) tahunan.

Mereka bukan sekadar pekerja. Mereka adalah para purnabakti yang dipanggil kembali karena keahlian jemarinya yang tak tergantikan oleh mesin. Di usia senja mereka yang telah memasuki angka 54 tahun atau lebih, waktu yang semestinya digunakan untuk bersantai bersama cucu dan keluarga, mereka masih berkontribusi. Akan tetapi, tantangan nyata muncul saat kewajiban sebagai warga negara memanggil, melaporkan SPT tahunan.

"HP Saya Cuma Buat WhatsApp, Mas..."
Seringkali, asistensi dimulai dengan tawa kecil. Banyak dari ibu-ibu ini menyodorkan ponsel mereka.

"Mas, ini HP-nya cuma buat kirim pesan ke anak dan lihat foto cucu di WhatsApp. Coretax (DJP—red) ini lewat mana bukanya?"

Kalimat itu menjadi pembuka yang akrab di telinga saya. Di saat kita sibuk membicarakan transformasi digital dan efisiensi sistem, bagi mereka, jangankan mengeklik tautan verifikasi di email yang sudah terkesan seperti sebuah petualangan besar, mengerti apa itu email saja merupakan hal yang baru. 

Ada yang lupa kata sandi, ada yang bingung mencari letak kotak masuk, bahkan ada yang masih menggunakan ponsel dengan layar yang sudah retak di sana-sini. Tetapi, di balik keterbatasan itu, ada satu hal yang membuat saya merasa bergetar, yakni kepatuhan yang tulus.

Loyalitas Melampaui Teknologi
Selama piket bergantian di sana, saya belajar bahwa kepatuhan pajak bukan soal seberapa canggih gawai yang dimiliki seseorang atau seberapa besar gelar yang disandang. Kepatuhan adalah soal rasa tanggung jawab. Saya melihat sendiri bagaimana para ibu ini rela mengantre dengan sabar di sela jam istirahat mereka yang singkat. Mereka tampak tidak mengeluh saat sistem harus memverifikasi data atau saat jemari mereka yang terbiasa melinting batang demi batang rokok harus berjuang mengetik angka di layar sentuh yang mungil.

Wajah mereka tampak memunculkan senyuman ketika muncul notifikasi "Selesai". Padahal, secara nominal, mungkin apa yang mereka laporkan tidaklah fantastis. Namun, secara nilai moral, mereka adalah pahlawan yang sebenarnya. Mereka ingin memastikan bahwa sebagai warga negara, "urusan" mereka dengan negara telah tuntas dan bersih.

Lebih dari Sekadar Angka
Menjadi bagian dari insan humas Direktorat Jenderal Pajak di lapangan seperti ini menyadarkan saya bahwa tugas kami bukan hanya menyampaikan kebijakan. Kami adalah jembatan. Beberapa hari di tiga minggu terakhir mendampingi mereka, mengajari saya bahwa di balik setiap data di laman Coretax DJP, ada cerita manusia di dalamnya. Ada keringat ibu pelinting rokok yang ingin memberikan contoh baik bagi anak-anaknya. Ada doa yang terselip di antara baris-baris formulir digital yang mereka isi dengan penuh perjuangan.

Saat saya berpamitan di hari terakhir, seorang ibu menepuk bahu saya dan berucap, "Terima kasih ya, Mas, sudah sabar mengajari orang tua yang sudah gaptek ini."

Padahal, justru sayalah yang harus berterima kasih. Terima kasih karena telah diingatkan bahwa dedikasi itu sederhana, lakukan kewajibanmu dengan bangga, seberapa pun sulit jalannya.

Pewarta: Faris Aulia Rahman
Kontributor Foto: Firmansyah Dimas Perdana
Editor: Mohamad Ari Purnomo Aji

*)Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.