Kartini di Masa COVID-19

Oleh: Shinta Amalia, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertama terinfeksi Covid-19 pada 2 Maret 2020 lalu. Tak berselang lama, pemerintah menginstruksikan kepada masyarakat untuk menerapkan social distancing, yang sekarang telah berganti istilah menjadi physical distancing.
Pembelajaran di sekolah maupun pekerjaan mulai dilakukan di rumah. Masyarakat diimbau untuk tidak keluar rumah jika tidak untuk sesuatu yang bersifat mendesak. Sampai hari ini Virus Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 2,4 juta orang di seluruh dunia, jumlah tersebut hampir seperempat jumlah penduduk di Jakarta. Lebih jauh, virus ini telah memakan korban jiwa lebih dari 165 ribu orang di seluruh dunia.
Atmosfer bulan April ini tentu diliputi kekhawatiran, duka, bahkan air mata, tetapi tidak ada salahnya untuk tetap mengingat sejarah bangsa. Di bulan ini, lebih tepatnya pada 21 April, kita memperingati hari kelahiran Raden Adjeng Kartini. RA Kartini merupakan sosok perempuan Jawa yang memiliki keanggunan tidak hanya pada paras, tetapi juga pada intelektualitasnya.
Hari Kartini didedikasikan untuk semangat beliau yang telah berhasil menerabas batas-batas patriarki di zamannya. Beliau mendirikan sekolah perempuan pertama di Jepara dan Rembang. Hal tersebut kemudian dicontoh oleh daerah-daerah lain dengan mendirikan sekolah perempuan bernama Sekolah Kartini.
Perempuan masa kini tidak perlu lagi membangun sekolah perempuan seperti yang dilakukan Kartini dan yang lainnya. Kita hanya perlu mencontoh kegigihan beliau untuk kita gunakan dalam rangka melanjutkan estafet perjuangan. Salah satu hal yang dapat perempuan masa kini lakukan untuk tidak hanya membawa manfaat bagi perempuan lain, tetapi juga untuk Indonesia di masa depan adalah dengan menjadi perempuan cerdas yang sadar pajak.
Cerminan Perpajakan di Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sektor perpajakan. Tak heran jika istilah pajak terus digencarkan oleh pemerintah akhir-akhir ini. Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020 pendapatan dari sektor perpajakan ditargetkan sebesar Rp1.865,7 triliun dari total pendapatan negara atau sekitar 83.9%.
Idealnya, angka ketergantungan terhadap sektor perpajakan sejalan dengan kesadaran pajak di suatu negara. Namun mirisnya, rasio pajak Indonesia masih tergolong rendah. Rasio pajak merupakan salah satu alat yang dapat menunjukkan tingkat kepatuhan perpajakan (tax compliance) di suatu negara.
Menurut laporan OECD Revenue Statistics in Asian and Pacific Economie Edisi Keenam tahun 2019, Indonesia memiliki rasio pajak 11.5% sedangkan negara ASEAN lain seperti Thailand sebesar 17.6%. Rasio pajak memang tidak bisa secara langsung digunakan untuk membandingkan kepatuhan pajak satu negara dengan negara lain, tetapi rasio pajak adalah salah satu alat yang paling mudah untuk digunakan sebagai pembandingan.
Di masa pandemi ini misal, kita dapat melihat bahwa negara membutuhkan uang dengan nominal yang tidak sedikit agar tetap bertahan. Pemerintah mengalokasikan Rp436 triliun untuk menangani dampak Covid-19 melalui revisi APBN besar-besaran. Pemerintah bahkan telah menyetujui batas defisit APBN untuk diperlebar. Undang-undang keuangan mengatur bahwa defisit APBN tidak boleh melebihi 3% dari PDB, tetapi proyeksi defisit tahun ini diperkirakan mencapai 5.07%.
Kartini Kini sebagai Pencetak Generasi Sadar Pajak
Pentingnya pemahaman perempuan terkait perpajakan tidak sering dibahas di masyarakat ataupun di media. Masyarakat lebih sering membahas terkait pentingnya pemahaman pengelolaan keuangan bagi seorang perempuan. Perempuan nantinya akan menjadi menteri keuangan dalam rumah tangganya. Perencanaan dan pengelolaan keuangan yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam membangun keluarga yang kuat.
Selain peran tersebut, peran perempuan dalam keluarga atau sebut saja seorang ibu adalah mendidik anak-anaknya. Perempuan yang cerdas dan memiliki kesadaran pajak tentu akan mampu mendidik anak-anaknya untuk memiliki kesadaran pajak juga. Pemahaman perpajakan yang dimiliki seorang ibu tidaklah perlu sedalam seorang fiskus atau konsultan, cukup untuk membangun fondasi kesadaran pajak pada anak mereka.
Berdasarkan hal yang telah disebutkan oleh penulis pada Cerminan Pajak di Indonesia, penting bagi Indonesia memiliki para ibu yang mampu mendidik anak-anak mereka untuk memiliki kesadaran pajak sejak dini. Menurut Lesley Britton dalam bukunya Montessori Play and Learn (2017), dari hasil pengamatan Maria Montessori didapat kesimpulan bahwa semua anak ingin belajar baik melalui bermain ataupun melakukan sesuatu. Hal ini didukung dengan pikiran mereka yang mudah menyerap informasi.
Berangkat dari kesimpulan tersebut, seorang ibu dapat mengarahkan diskusi terkait perpajakan melalui pertanyaan yang disusul dengan cerita kepada anaknya. Hal ini disebabkan karena anak-anak akan lebih cenderung antusias untuk mendengarkan cerita. Misalnya, ketika keluarga sedang mengadakan liburan, ibu dapat menarik perhatian anak dengan menceritakan darimana uang untuk membangun jalan tol ataupun penerangan jalan yang mereka gunakan.
Di keseharian, ibu dapat menceritakan tentang bagaimana pajak digunakan untuk membayar gaji guru mereka, membangun sekolah, dan memberi mereka buku-buku. Bermula dari cerita sederhana itulah telinga anak-anak mulai terbiasa dengan istilah pajak. Kemudian seiring dengan perkembangan usia mereka, ibu mulai mengenalkan siapa saja yang wajib membayar pajak. Ibu menganalogikan seorang pembayar pajak adalah bentuk pahlawan masa kini. Pendekatan ini secara berkesinambungan terus menerus dilakukan dengan konten pembicaraan yang makin berkualitas seiring perkembangan usia anak.
Generasi Sadar Pajak di Masa Depan
Bonus demografi di masa depan ini tidak boleh disia-siakan. Hanya ada dua kemungkinan untuk anak-anak Indonesia di masa depan, entah mereka menjadi aset negara atau beban negara, oleh karena itu mereka harus dididik oleh ibu yang cerdas sejak dini. Peran ibu sungguh penting bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa di masa depan. Kartini masa kini diharapkan mampu mengerek kesadaran pajak generasi selanjutnya.
Apapun pekerjaan yang anak-anak miliki nantinya, mereka sadar bahwa di dalam uang yang mereka terima ada sebuah kewajiban untuk menyisihkannya bagi negara. Selain itu, pemerintah juga perlu untuk mendukung peran ibu dalam menjelaskan pajak kepada anak-anaknya. Pemerintah dapat berkaca dari negara lain seperti festival perpajakan di Rwanda, games interaktif perpajakan di Malaysia, atau sinetron pajak di Nigeria.
Negara Indonesia berdiri karena adanya masyarakat, pun negara ini tidak mampu berdiri tanpa adanya kontribusi dari masyarakat. Dengan kesadaran pajak yang tinggi tentu Indonesia dapat berdikari di masa depan. Seorang ibu pada suatu titik di usia perkembangan anak nampaknya perlu mengenalkan kutipan fantastis dari seorang John F Kennedy, salah satu presiden terkenal Amerika Serikat, “Ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country”. Terakhir, penulis mengucapkan “Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan di Indonesia! Terima kasih telah menjadi perempuan cerdas yang mencerdaskan generasi penerus bangsa.”
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja
- 618 views