Jakarta, 30 April 2024 –Alco Regional Jakarta adakan press conference pada hari Selasa, 30 April 2024 pada pukul 10.00-11.00. Press Confrence dilaksanakan melalui media daring yang diikuti oleh para pejabat di lingkungan pemerintah provinsi DKI Jakarta berserta pejabat instansi vertikal, para pejabat Forkopimda DKI Jakarta, para pejabat Kantor Wilayah Kementerian Keuangan di regional DKI Jakarta, perwakilan dari Bank Indonesia, BPS, OJK, para ahli dari pemda provinsi DKI Jakarta dan akademisi dari UI, UIN Syarif Hidayatullah, UNJ, STAN dan STIS. Acara dipandu oleh Jamaluddin Ambo Dai selaku moderator.
Kondisi perekonomian regional Jakarta bulan Maret 2024 sebagaimana disampaikan oleh Mei Ling, Kepala Kantor Wilayah DJPb DKI Jakarta menunjukkan optimisme yang semakin meningkat. Hal ini tercermin kenaikan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) pada level 133,00 dan lebih tinggi dari IKE nasional 113,8. Optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian yang tercermin pada pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terjaga pada level 154,5. Capaian tersebut lebih tinggi dari IEK nasional 133,8
Kondisi inflasi di DKI Jakarta
- Inflasi DKI Jakarta Maret 2024 sebesar 2,18% (yoy), sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Kenaikan harga ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,33%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,02%; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,14%; kelompok kesehatan sebesar 0,19%; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01%; kelompok pendidikan sebesar 0,51%; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,19%; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,73%; dan kelompok Pakaian dan Alas Kaki sebesar 0,12%. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok transportasi sebesar 0,01% dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,34%.
- Tingkat inflasi month to month (m-to-m) Maret 2024 sebesar 0,37% dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) Maret 2024 sebesar 0,63%.
Realisasi penerimaan perpajakan
Realisasi penerimaan perpajakan di kanwil-kanwil DJP Jakarta disampaikan oleh Ponti Mawardi Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan dari Kanwil DJP Jakarta Pusat. Ponti menyampaikan bahwa sampai dengan Maret 2024, Penerimaan Pajak mencapai Rp273,85 T (20,79% dari target). Penerimaan Pajak termoderasi sebesar 13,81%. Secara bruto masih tumbuh namun dikarenakan adanya restitusi, sehingga secara neto termoderasi.
Realisasi PPh Non Migas sebesar Rp150,70 T (20,78% dari target) dan mengalami penurunan sebesar 8,03% (yoy). Pada bulan Maret tahun 2024 ini, penerimaan PPh Non Migas mengalami penurunan dipengaruhi oleh kontribusi signifikan dari penerimaan PPh Pasal 25 Badan / corporate.
Pajak Pertambahan Nilai realisasi Rp107,69 T (21,58% dari target) dan mengalami penurunan 20,29% (yoy). Penurunan disebabkan turunnya nilai impor dan kegiatan Wajib Pajak pada sektor Pengolahan dan Perdagangan.
PPh Migas berhasil merealisasikan Rp14,47 T (18,95% dari target) dan mengalami penurunan 17,95% (yoy). Penurunan sebesar 17,95% karena adanya moderasi harga komoditas terutama minyak bumi dan gas alam.
PBB terrealisasi Rp139,11 M (1,25% dari target) dan tumbuh positif 945,37% (yoy). Peningkatan disebabkan oleh mulai masuknya pembayaran PBB Migas yang nilainya cukup signifikan.
Pajak Lainnya realisasi Rp835,98 M (16,31% dari target) dan mengalami penurunan 22,58% (yoy). Hal ini karena pendapatan bunga dari penagihan PPh dan PPN.
Realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai
Muhammad Hilal Nur Sholihin dari Kanwil DJBC Jakarta menyatakan bahwa sampai dengan Maret 2024, Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp4,65 T atau 16,82% dari target APBN 2024 dan termoderasi sebesar 17,86%.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Didik Hariyanto Kepala Bidang Kepatuhan Internal, Hukum dan Informasi Kanwil Direktorat Jenderal Kekayaan Negara DKI Jakarta menyampaikan bahwa sampai dengan 31 Maret 2024, Penerimaan PNBP mencapai Rp110,69 T atau 46,91% dari target APBN 2024 dan mengalami peningkatan sebesar 15,57% yoy. Penerimaan PNBP terdiri dari empat unsur yaitu Penerimaan SDA, Bagian Laba BUMN, PNBP Lainnya dan Pendapatan BLU.
KINERJA APBD
Mei Ling menambahkan kinerja APBD DKI Jakarta secara ringkas bahwa pendapatan daerah DKI Jakarta pada bulan sd Maret 2024. Pendapatan daerah tumbuh negatif dibandingkan tahun sebelumnya, utamanya dikontribusikan oleh Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan Transfer.
- Menurunnya pertumbuhan pajak daerah disebabkan oleh penurunan tingkat penjualan kendaraan bermotor dan BBM serta regulasi insentif yang berdampak pada penurunan pajak daerah berupa PKB sebesar 4,90% (yoy) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 0,55% yoy.
- Menurunnya retribusi jasa umum dan retribusi perizinan tertentu sebesar Rp41,48 miliar (31,53% yoy) disebabkan oleh penghapusan beberapa jenis retribusi sesuai UU HKPD.
Atas hal tersebut pemerintah melakukan upaya peningkatan koordinasi kelembagaan melalui integrasi data, transformasi digital, dan peningkatan layanan perizinan online serta pengembangan aplikasi sistem pemungutan Retribusi Daerah secara elektronik (e-retribusi)
Belanja daerah tumbuh positif dibandingkan tahun sebelumnya, utamanya didorong oleh realisasi Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa dan Belanja Modal yang tumbuh positif. Adapun kondisi lainnya :
- Menurunnya belanja bunga disebabkan oleh penurunan nilai outstanding debt dari Rp62,64 miliar menjadi Rp51,45 miliar secara yoy
- Menurunnya belanja subsidi sebesar Rp90,5 miliar menjadi disebabkan oleh masih berjalannya proses verifikasi terhadap penerima subsidi.
- Menurunnya belanja hibah sebesar Rp78,9 miliar atau 87,67% disebabkan oleh belum adanya pengajuan hibah dari organisasi penerima hibah
Dalam hal ini pemerintah juga melakukan upaya percepatan dan optimalisasi terhadap belanja daerah sesuai dengan target pada APBD.
Kesimpulan atas kondisi ekonomi Jakarta sampai dengan Maret 2024 adalah
- Ketahanan Ekonomi Jakarta
Indeks Keyakinan Konsumen yang meningkat dan inflasi yang terkendali memperkuat stabilitas ekonomi Jakarta dan ketahanan ekonomi yang tinggi dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah yang kuat menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota dengan ekonomi yang paling stabil di Indonesia.
- Peran Vital APBD
APBD DKI Jakarta 2024 menjadi instrumen penting dengan program strategis dan meningkatkan pendapatan daerah dalam mewujudkan visi dan misi pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk membangun kota bertaraf internasional yang maju, lestari, dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang efektif dan efisien, APBD diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
- Dukungan APBN
Peran APBN di Jakarta menunjukkan kondisi yang tumbuh positif di semua aspek pendapatan negara. Belanja negara dengan tetap berfokus pada kesejahteraan masyarakat dan penguatan pondasi ekonomi pasca Covid di tengah risiko global.
- Pondasi Fiskal yang Kokoh
Kekuatan fiskal DKI Jakarta memberikan pondasi yang kokoh bagi perekonomian Jakarta menghadapi segala tantangan global. Kondisi fiskal yang kokoh ini tidak lepas dari peran APBN maupun APBD yang terus diupayakan dapat berkontribusi nyata pada kesejahteraan masyarakat dan penguatan sektor-sektor ekonomi.
- 29 kali dilihat