Oleh: Afrialdi Syah Putra Lubis, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Tiga puluh satu maret sudah berlalu. Batas akhir pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan) Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) akhirnya telah melewati batas waktu. Beragam cerita lucu bercampur pilu ketika seluruh pegawai pajak melayani tanpa pandang bulu dan tanpa kenal waktu kepada wajib pajak yang ingin melaporkan SPT-nya tepat waktu, sampai-sampai mereka tidak tahu kalau jam sudah menunjukkan angka enam lewat sepuluh.

Ada beragam cerita yang bermunculan ketika waktu pelaporan sudah mendekati injury time. Di mana mereka, yakni para WPOP (lebih) memilih untuk menjalankan kewajibannya hingga matahari mulai terbenam. Entah suatu tradisi yang harus dijalani terus seperti ini atau memang tipe mereka lebih suka berpacu dengan durasi. Apakah suatu kebetulan atau memang ini merupakan niat yang akhirnya diterapkan? Hanya mereka yang punya jawaban.

Selalu ada kejadian lucu ketika pegawai pajak bertemu mereka di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT). Diharapakan kejadian ini tidak hanya terjadi disini, karena suatu hal yang membuat lucu tidak boleh dinikmati oleh segelintir individu. Mungkin saya hanya dapat merangkum sedikit dulu dengan menjelaskan tipe mereka satu per satu.

1.    WPOP lupa kata sandi e-filing, lupa nomor efin, dan juga lupa e-mail

Tipe ini berada pada peringkat pertama dikarenakan mereka hampir sering menghiasi nomor antrean kunjungan dan juga hampir mayoritas tipe WP seperti ini ada dan tumbuh dengan jumlah yang cukup banyak di seluruh Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP Pratama). Biasanya mereka terbentuk secara berkelompok, seperti satu kantor misalnya. Mereka membawa penyakit bernama lupa yang terpecah ke dalam tiga bagian. Ketiga penyakit ini selalu bergotong royong dan bersatu padu sampai akhir bulan maret tanggal tiga puluh satu. Proses kedatangan mereka ke TPT secara bertahap, diawali dengan sebuah mukadimah bahwa lupa kata sandi ketika ingin membuka akun efiling yang kemudian dilanjutkan dengan meminta nomor efin dan ketika link reset password telah dikirim mereka mengakhiri tatap muka ini dengan kalimat “Kalau lupa email juga bagaiamana ya pak/bu?”.


2.    WPOP lupa kata sandi e-mail sendiri

Tipe ini merupakan turunan dari tipe yang pertama dan bisa juga merupakan lanjutan dari tipe sebelumya, namun ini bukan merupakan pecahan dari jenis penyakit lupa di posisi pertama. Lupa pada tipe ini berdiri secara independen karena ia tidak terkait dengan tiga jenis lupa yang lainnya, namun WP tipe ini beranggapan bahwa lupa kata sandi e-mail merupakan satu kesatuan yang juga dapat dipertanyakan. Mungkin karena diawali dengan kata “lupa” jadi mereka menganggap ini merupakan jenis penyakit yang sama. Tipe ini juga memiliki pola pikir bahwa pegawai pajak memiliki andil untuk memberikan solusi kalau mereka lupa kata sandi e-mail sendiri. Pada fase ini petugas akan berganti profesi sejenak menjadi abang operator warung internetan.


3.    WPOP dibantu mengisi efiling via smartphone tapi paket data tidak ada sama sekali

Tipe WP seperti ini bisa juga dijuluki sebagai, Wifi Hunter. Ketika semua syarat yang dibutuhkan untuk proses pelaporan sudah lengkap, ada satu penyebab yang membuatnya menjadi tersendat. Paket data sebagai akses kunci pelaporan SPT secara online malah tidak tersedia. Kembali lagi petugas harus dengan ikhlas merelakan sedikit paket data pribadinya untuk memudahkan mereka melakukan proses pelaporan. Mereka ini merupakan orang yang terdepan meminta password wifi  jika duduk di tempat umum. Begitu juga jika kantor pajak memfasilitasi dengan akses wifi, ada sebagian dari mereka yang menyalahgunakan fasilitas dengan mengakses hal-hal yang tidak diperlukan. Tipe WP seperti ini selalu memiliki kalimat andalan yang membuat mereka mudah sekali untuk diidentifikasi, yakni “Belum sempat isi paket internet”.


4.    WPOP datang melapor tetapi tidak membawa bukti potong

WP dengan tipe ini merupakan WP yang unik sekaligus langka karena mereka masih tidak tahu tujuan melaporkan SPT itu untuk apa. Ada dua persepsi dari tipe WP seperti ini. Persepsi yang pertama, mereka hanya ikut-ikutan sebagai dampak kericuhan di lokasi kerja mereka dikarenakan batas waktu pelaporan sudah hampir usai. Persepsi yang kedua, mereka beranggapan bahwa bukti potong juga merupakan tugas pegawai pajak untuk membagikan kepada mereka.  


5.    WPOP mengaku tidak punya harta

Kalau WP dengan tipe ini bukan muncul di awal pertemuan melainkan di pertengahan proses pengisian. Ketika langkah demi langkah akhirnya menunjukkan kepada kolom pengisian harta mereka langsung seperti terkena amnesia dan mengatakan kalau mereka tidak punya harta serta diam sejenak sambil memikirkan untuk apa harta dilaporkan.

Pada tahap ini waktu terasa begitu lama ketika petugas menyarankan untuk mencantumkan daftar harta yang mereka punya, namun ada pertanyaan jitu yang membuat tahap pengisian ini berjalan lebih singkat, yakni dengan melontarkan pertanyaan, “Kalau tidak punya harta untuk apa anda bekerja?”

Tahap ini berbanding terbalik ketika berada pada tahap pengisian utang. Mereka akan merespon dengan cepat jika mereka ada pinjaman uang. Mungkin mereka beranggapan utang-utang mereka akan dibayarkan oleh negara. Setelah ditelusuri dengan jarum jam terjadi perbedaan waktu yang sangat signifikan ketika mengisi kolom harta dengan kolom utang. Apakah utang memang lebih mudah dipahami? Tanya para pegawai dari dalam hati.

6.     WPOP sudah lapor SPT tetapi kembali lagi karena tidak mengerti cara cetak tanda bukti

Tipe ini muncul secara musiman dan bermain secara individu. WP seperti ini muncul sebagai hasil akhir dari sebuah pelaporan yang mewajibkan tanda bukti harus dilampirkan. Dengan beralasan bingung atau tidak tahu cara mencetaknya, mereka kembali datang ke tempat biasa dengan mengambil nomor antrean hingga dipertemukan dengan petugas yang bertanya keperluannya apa. Mereka bisa muncul kapan saja baik itu sebelum atau sesudah lewat batas waktu, sesuai dengan kapan tanda bukti tersebut diperlukan. 

Itulah mereka yang selalu mengantre hari demi hari di akhir bulan ketiga tahun masehi. Terima kasih kepada mereka karena dengan munculnya mereka, tulisan ini dapat terwakili dengan ketikan sepuluh jari.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.