Oleh: Andi Zulfikar, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Seseorang pernah bercerita bagaimana berpuluh-puluh tahun lalu Indonesia mengirimkan banyak guru untuk meningkatkan mutu pendidikan di salah satu negara tetangga. Saat itu, kualitas pendidikan Indonesia dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Para guru Indonesia dianggap mampu meningkatkan kualitas pendidikan di negara yang serumpun dengan bangsa Indonesia tersebut.

Waktu berlalu, kini negara tersebut berhasil meningkatkan kualitas pendidikan dan perekonomiannya. Saat ini, mereka bahkan mampu menyaingi kualitas pendidikan dan perekonomian bangsa Indonesia. Bila dulu Indonesia mengirimkan para pendidik untuk merancang masa depan negara tersebut, kini Indonesia harus belajar kepada mereka dalam beberapa bidang di mana kualitas mereka lebih unggul. Prioritas dalam mengejar ketertinggalan dilakukan negara tersebut hingga akhirnya perekonomian negara negara bisa bersaing dengan bangsa kita.

Tepatlah bila salah seorang tokoh dunia Nelson Mandela berkata,"Education is the most powerful weapon which you can use to change this world." Peduli akan pendidikan, laksana menanam suatu bibit yang dirawat dengan baik. Kelak bibit tersebut akan tumbuh berkembang dan menghasilkan buah. Dari buah tersebut tumbuh lagi pohon-pohon yang lain. Hingga pada akhirnya dapat diumpamakan, daerah yang dulunya kering kerontang menghijau karena bibit “pendidikan”.

Tentu saja, pendidikan yang dimaksud adalah yang tepat sasaran yang berdaya guna.  Penulis berpendapat bahwa pendidikan yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk gelar, namun bagaimana seseorang yang mempunyai ilmu dapat mempraktekkan pengetahuannya itu. Memiliki gelar namun tak paham bagaimana cara mempraktekkan ilmu yang dimiliki, sama saja air dalam sungai yang tak pernah mengalir. Pada akhirnya air tersebut akan menjadi keruh dan tak memberi manfaat khususnya bagi bangsa dan negara.

Prioritas

Dalam teori manajemen, penggunaan waktu sangatlah penting sebagai sarana untuk mencapai keberhasilan. Dalam beberapa keadaan, ketika banyak hal penting yang harus dikerjakan, maka harus dipilih salah satu yang paling mendesak untuk dikerjakan lebih awal. Hal inilah yang dilakukan beberapa negara ketika membangun perekonomiannya.

Sebagai contoh adalah Jepang. Ketika kondisi negara tersebut memburuk karena dibomnya Hiroshima dan Nagasaki, kaisar Jepang saat itu menginstruksikan dengan memulai mencari para guru. Pendidikan dianggap modal utama untuk membangun negeri tersebut. Terbukti, Jepang berhasil bangkit dan menjadi salah satu negara termaju di dunia. Mereka memprioritaskan pendidikan dalam manajemen waktu pembangunan perekonomian.

Pendidikan memang menjadi modal utama. Persoalan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unsur penting dalam memajukan suatu bangsa. Sudah sering terbukti, bangsa dengan kualitas SDM yang luar biasa walaupun minim Sumber Daya Alam (SDA) mampu menjadi negara yang lebih sukses daripada negara dengan SDA berlimpah namun kualitas SDM-nya rendah. Indonesia sendiri mempunyai kuantitas dan kualitas SDA yang berlimpah, bila ditopang dengan SDM yang berkualitas, maka akan menjadi jalan mencapai kesejahteraan.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia sangat peduli dengan pendidikan. Terkait dengan pendidikan, telah dianggarkan 20 persen data untuk pendidikan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Anggaran tersebut bertujuan untuk mewujudkan visi bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu saja semua itu memerlukan dana yang sangat besar. Salah satu dana itu berasal dari kita dan untuk kita, yaitu melalui pembayaran pajak.

Karena itu, ketika sektor pendidikan menjadi prioritas, maka di lain pihak, keberadaan institusi pengumpul pajak, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), harus menjadi perhatian. Prioritas perhatian bangsa terhadap institusi ini diharapkan akan melahirkan organisasi yang tangguh. Apalagi dalam kondisi perekonomian dunia yang bergerak dinamis, maka organisasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman menjadi keharusan.

Tentu saja, pemerintah telah berupaya memberikan perhatian. Salah satu caranya adalah dengan adanya Hari Pajak pada tanggal 14 Juli. Hari tersebut merupakan saat yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap apa yang telah dan akan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran pajak dan juga menguatkan organisasi DJP yang diberikan amanah mengumpulkan penerimaan pajak.

Membuka Jalan

Tanggal 14 Juli adalah salah satu tanggal yang penting bukan hanya bagi DJP namun juga bagi bangsa Indonesia. Salah satu tokoh bangsa, Radjiman Wedioningrat mengusulkan agar pajak diatur dengan undang-undang pada tanggal tersebut, tepatnya pada tanggal 14 Juli 1945. Berdasarkan usulan beliau pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), akhirnya pajak masuk dalam rancangan Undang-undang Dasar hingga akhirnya disahkan.             

Dengan masuknya pajak dalam Undang-undang Dasar 1945, maka pemungutan pajak mempunyai kekuatan legal. Pengumpulan pajak pun sesuai dengan amanah yang diberikan yakni untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. DJP, sebagai institusi yang diberikan amanah untuk mengumpulkan pajak, berusaha melaksanakan amanah tersebut sepenuh hati karena menyadari arti penting pajak bagi negara.

Pajak menjadi kekuatan yang sangat penting dalam pembangunan negara. Dengan penerimaan negara dari sektor pajak, maka beberapa rancangan masa depan akan lebih mudah dilakukan. Dana pajak yang dikumpulkan menjadi pembuka jalan untuk melangkah ke harapan yang lebih tinggi. Setiap bangsa di seluruh dunia sedang berpacu untuk meningkatkan kesejahteraan bangsanya. Bangsa Indonesia, dalam beberapa aspek, mengalami ketertinggalan. Oleh karenanya, upaya yang dilakukan untuk mengejar ketertinggalan tersebut harus lebih cepat dari bangsa lainnya.

Sebagai penutup, penulis mengutip pernyataan dari salah seorang pakar manajemen, Stephen R. Covey. Dia berkata, "Kuncinya bukan pada bagaimana anda menghabiskan waktu, namun bagaimana anda menginvestasikan waktu anda." Hari Pajak memberikan kita kesadaran, bahwa telah ada waktu yang berlalu. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, namun bila kita tidak memulai langkah lagi, maka puncak gunung yang kita tuju akan semakin lama tercapai.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.