Muktiasih, Guru TK dari Kaki Gunung Bromo

Oleh: Muhammad Hunayn Alfaris, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Pada hari itu, Kamis, 27 April 2023 Muktiasih dan suaminya bergegas ke KPP Pratama Probolinggo untuk melaporkan SPT Tahunan Badan TK Tri Dharma.
Muktiasih bersama suaminya berangkat dari Dusun Mojosari, Kecamatan Sukapura (daerah dekat Gunung Bromo) ke KPP Pratama Probolinggo yang berjarak 44 kilometer mengendarai sepeda motor dengan menempuh waktu dua jam perjalanan dengan kondisi jalan yang tidak mudah. Sebenarnya Muktiasih bisa saja melaporkan SPT Tahunannya secara manual dengan cara mengirimkannya melalui jasa ekspedisi. Akan tetapi, tahun ini ia ingin melaporkan SPT Tahunan-nya secara daring.
Panduan pelaporan SPT Tahunan melalui berbagai media sudah dipelajari, tetapi pada saat mendekati jatuh tempo, ia masih mengalami kendala dalam pelaporan SPT Tahunannya secara daring. ”Tidak ada kata lain, aku lebih baik pergi saja ke KPP Pratama Probolinggo,” gumamnya.
Sesampainya di KPP Pratama Probolinggo, Muktiasih diarahkan oleh satpam untuk mengambil antrean loket SPT Tahunan di TPT. Beberapa menit kemudian, Muktiasih dipanggil oleh petugas dan mulailah ia minta dipandu untuk melaporkan SPT Tahunannya.
Selang beberapa waktu, ternyata perangkat (laptop) yang dibawanya masih harus dilakukan instalasi beberapa aplikasi supaya mendukung pelaporan SPT Tahunan secara daring. Akhirnya karena kendala waktu, maka saat itu Muktiasih harus berbesar hati menahan keinginannya untuk melaporkan SPT Tahunannya secara mandiri. Untuk sementara, SPT Tahunannya masih dibantu oleh tangan petugas.
Muktiasih adalah salah satu guru sekaligus merangkap sebagai bendahara di TK Tri Dharma yang beralamat di Jl Raya Bromo, Kelurahan Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kab. Probolinggo. Muktiasih mempunyai 37 siswa yang dibimbing oleh dua guru saja termasuk Muktiasih.
Sebelum menjadi seorang guru, Muktiasih adalah seorang petani yang kemudian diminta untuk membantu menjadi seorang guru di TK Tri Dharma tersebut. Karena hanya lulusan SMA dan kurang mempunyai pengetahuan di bidang pendidikan, hal tersebut menjadi motivasi Muktiasih untuk memperkaya ilmunya. Akhirnya Muktiasih melanjutkan pendidikannya di IKIP PGRI Jember dengan mengambil jurusan PGSD PAUD. Pada saat itu, honor Muktiasih sebagai guru hanya Rp250.000,00/bulan dan ia gunakan untuk membiayai kuliahnya.
Di Dusun Mojosari, hanya terdapat 8 TK termasuk TK Tri Dharma. Sebagai seorang guru swasta di TK Tri Dharma, Muktiasih memperoleh honor dari pemerintah sebesar Rp3.000.000,00/bulan yang cair setiap tiga bulan sekali. Muktiasih tentu memiliki suka dukanya sendiri sebagai seorang pengajar. Walaupun umurnya sudah 51 tahun, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya menjadi seorang guru swasta. Dia menjadi seorang guru tidak semata-mata karena honor, tetapi karena peduli dan ingin bermanfaat bagi orang lain serta ikhlas melayani sebagai seorang pendidik.
Muktiasih sadar bahwa sebagai wajib pajak yang baik, maka dia harus melaksanakan kewajiban perpajakannya sebagai wajib pajak. Muktiasih rela mengendarai sepeda motor dari Desa Wonotoro ke KPP Pratama Probolinggo. Ia mengendarai sepeda motor ditemani oleh suaminya dengan menempuh puluhan kilometer dalam dua jam perjalanan hanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai wajib pajak yaitu lapor SPT Tahunan.
Untuk saat ini dia masih gagal dalam melaporkan SPT Tahunannya secara mandiri, tetapi Muktiasih sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia harus bisa. Pelayanan di KPP Pratama Probolinggo sudah cukup memotivasi dirinya untuk kembali lagi. Mungkin suatu hari nanti, dia akan kembali untuk belajar lapor SPT Tahunan secara daring.
Muktiasih berharap uang pajak yang dibayarkan dapat bermanfaat bagi sesama, khususnya bermanfaat untuk pendidikan. Ia bercerita bahwa fasilitas pendidikan di daerah pelosok itu beda jauh dengan fasilitas pendidikan yang ada di kota. Mulai dari jumlah sekolah, kelayakan bangunan sekolah, hingga jumlah guru. Muktiasih merasa prihatin.
Selain itu Muktiasih berharap uang pajak dapat bermanfaat untuk pembangunan infrastruktur, khususnya infrastruktur di daerah-daerah pelosok seperti daerah yang ia tempati. Sebagai orang yang hidup di daerah pelosok dan jauh dari kota dengan sarana dan prasarana serba ada, Muktiasih benar-benar merasakan perbedaan yang sangat timpang.
Menurut Muktiasih, pelayanan di KPP Probolinggo sangat memuaskan mulai dari satpam, resepsionis, dan petugas loket SPT Tahunan. Selain itu, sarana dan prasarana KPP Probolinggo sudah sangat bagus. Ia berharap, wajib pajak dapat diingatkan kembali dengan jatuh tempo pelaporan SPT dan pembayaran pajak sehingga wajib pajak tidak terlambat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
Muktiasih adalah salah satu sosok wajib pajak yang benar-benar ikhlas tanpa pamrih dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Usia, jarak, dan keterbatasan perangkat komunikasi tidak menyurutkan semangat dan niatnya. Meskipun kontribusi pajaknya dalam bentuk uang sangat kecil, tetapi ia yakin bahwa itulah bentuk pengabdiannya kepada negara dan bangsa.
Melihat semangatnya, kita berharap di masa yang akan datang, muncul sosok-sosok Muktiasih yang lain.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 143 kali dilihat