Sisi Lain

Oleh: Ahmad Dahlan, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Kekaguman saya kepada penulis, melebihi kekaguman saya terhadap artis. Apalagi kalau penulis itu sudah berhasil menerbitkan buku, best seller pula. Maka, saya girang bukan kepalang ketika kawan baik saya, Gusti I. Setiawan, menawari saya untuk menghadiri acara bedah buku Pengen Jadi Baik 4. Saya senang, karena di sana akan bertemu dengan penulis buku best seller itu, yakni Om Squ, a.k.a. Ardian Candra.

Dengan berbekal surat tugas dari kepala kantor, kamarin, saya datang ke acara yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Direktorat Jenderal Pajak itu. Maka, di samping bisa berfoto bareng dengan sang penulis sekaligus komikus, berikut sekelumit yang bisa saya bagikan di sini.

Acara yang dipandu oleh Pak M. Rheza ini dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama adalah bedah buku itu sendiri. Yang kedua, sesi tentang cara publishing buku, dan sesi terakhir adalah tentang KOBAR DJP. Dalam sesi pertama, diantaranya Om Squ membahas tentang perjuangannya menerbitkan buku karyanya. Awalnya, penolakan demi penolakan ia terima dari para penerbit yang ia datangi. Dari penolakan-penolakan itu, ia lalu bertanya dalam hati, sebenarnya apa tujuan dirinya menulis.

Ia lalu menemukan jawabannya sendiri. Bahwa menulis bagi dia adalah kebutuhan untuk membagi ilmu yang telah ia miliki. Bukan materi yang ia cari. Maka kemudian, ia membuat buku komik dalam bentuk e-book, dan membagikannya secara gratis di internet.

Ternyata respon masyarakat positif. Karyanya itu digemari banyak pembaca. Dari situ, ada penerbit yang bersedia menerbitkan secara komersial. Maka lahirlah buku Pengen Jadi Baik 1 dan 2, dan berhasil mencapai best seller. Maka begitulah, ketika diniatkan untuk berbagi, materi datang mengikuti.

Pada sesi kedua, Om Squ memaparkan empat jalan super cepat publishing buku. Sesi ini memang bukan buat saya, tapi buat para penulis yang berniat menerbitkan karyanya. Namun demikian, saya tetap menyimak. Dan empat jalan itu, yang pertama adalah major publishing, yakni menerbitkan buku lewat penerbit yang sudah terkenal, dengan biaya semua ditanggung penerbit. Jalan kedua adalah indie publishing, yakni menerbitkan buku lewat penerbit independen, dengan biaya sendiri.

Cara penerbitan yang ketiga adalah self publishing, yakni penerbitan buku secara mandiri, tanpa melibatkan penerbit mayor maupum indie. Artinya, di sini penulis memasarkan sendiri bukunya itu. Buku Pengen Jadi Baik (PJB)3 dan 4 diterbitkan dengan cara self publishing, melalui para reseller di lingkungan DJP. Dan menurut Om Squ, PJB 1 sampai PJB 4 sudah terjual 85 ribu copy. Sebuah capaian yang luar biasa meskipun hanya melalui self publishing. Menurutnya, DJP ini merupakan pangsa pasar yang bagus untuk jualan apa saja.

Dan cara penerbitan yang terakhir adalah digital publishing, yakni penerbitan buku melalui website.

Memasuki sesi ketiga, sesi terakhir, Om Squ membahas tentang KOBAR DJP, atau komunitas bebas riba di Direktorat Jenderal Pajak. Komunitas yang ia dirikan ini beranggotakan orang-orang tangan di atas, yaitu orang-orang yang gemar menolong orang lain.

Komunitas ini dibentuk untuk menolong teman-teman di DJP yang terjerat hutang riba, dengan cara memberi pinjaman tanpa bunga untuk melunasi hutang yang berbunga itu. Om Squ bilang, selama ini kita menjadi korban mindset setan, bahwa kalau tidak berhutang kita tidak akan punya apa-apa. Menurutnya, ini adalah mindset yang salah. Ia menyarankan, kalau ingin memilik sesuatu yang di luar kemampuan kita, maka sebaiknya direm dulu, lalu menabung.

Di bagian akhir acara, salah satu pejabat eselon tiga di Direktorat P2Humas menyampaikan pesan, bahwa orang hidup yang tidak menulis seakan-akan ia sudah mati. Dan seorang penulis, meskipun sudah mati, seakan-akan ia masih hidup.

Maka, menulis adalah cara untuk hidup selamanya. 

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.