Oleh: Muhammad Amin Ghoffar, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Sumba, adalah salah satu pulau di timur Indonesia, tepatnya terletak di bagian selatan gugusan kepulauan Nusa Tenggara. Pulau ini terdiri dari empat kabupaten, yaitu Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Tengah, dan Kabupaten Sumba Timur dan merupakan wilayah administratif Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagian besar daratannya berupa gunung dan dataran berbukit. Selain menganut agama resmi, masyarakat di sana banyak yang masih memeluk kepercayaan setempat, yaitu Marapu.

Pengalaman pertama menginjakkan kaki di sana membuat sedikit kaget dengan suhu udaranya. Suhu udara di sana memang tergolong panas. Data BPS menunjukkan, sepanjang tahun 2016 saja suhu rata-rata di NTT tercatat di angka 27-28 °C. Jika dibikin guyonan, sering berkunjung ke Kantor Pajak Waingapu adalah salah satu cara masyarakat di sana untuk "ngadem". Selain untuk melaksanakan kewajiban perpajakan, pelayanan yang ramah dari petugasnya ditambah Air Conditioner (AC) yang dingin membuat wajib pajak betah menghabiskan waktu di sana, bersembunyi dari terik matahari.

Kalau ingin berbicara tentang pariwisata, nampaknya pemerintah daerah setempat cukup percaya diri mewujudkan wilayahnya menjadi New Tourism Territory. Keindahan alam dan budayanya memang jempolan. Pantai, danau, air terjun, desa-desa adat, tempat bersejarah? Semua tersedia banyak, dan rasanya tak perlu dibuat daftarnya di tulisan ini. Jika perlu penulis tambahkan, di sana terdapat banyak hamparan padang savana dengan kuda-kuda liarnya dan bukit-bukit indah yang jarang ditemui pada destinasi wisata mainstream. Yang kurang? Mungkin infrastruktur di sana yang masih sangat minim. Kalau urusan ini, butuh peran dari seluruh masyarakat untuk mendukung pembangunan di sana, salah satu caranya dengan berkontribusi dengan pajak yang dibayarakan.

Kembali ke soal pariwisata, salah satu festival yang pernah menyedot wisatawan di tahun 2017 adalah Parade 1001 Kuda Sandalwood dan Tenun Ikat Sumba. Festival yang dihadiri oleh Presiden Jokowi ini melibatkan 250 kuda dari Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, dan Sumba Barat, ditambah 251 kuda dari Sumba Barat Daya, serta lebih dari 1.100 penenun, sehingga tercatat dalam rekor MURI. Tenun ikat Sumba sendiri telah didaftarkan di UNESCO sebagai intangible heritage, warisan kekayaan Indonesia.

Suatu waktu, penulis bersama rekan berkesempatan untuk mengunjungi salah satu sentra pembuatan tenun ikat Sumba. Dengan ramah, kami disambut Bapak Kornelis Ndapakamang di kediamannya yang sederhana, di Desa Lambanapu, Kec. Kambera, Kab. Sumba Timur. Bapak Kornelis merupakan salah satu ketua kelompok penenun yang masih memelihara tradisi dalam menenun. Salah satu yang khas dari karyanya dan juga penenun lain di Sumba adalah pewarnaan benangnya yang menggunakan bahan-bahan alami ramah lingkungan, seperti akar mengkudu untuk mendapatkan warna merah, nila untuk mendapatkan warna biru, warna cokelat diperoleh dari lumpur, dan warna kuning dari kayu.

Untuk membuat selembar tenun ikat Sumba, dibutuhkan waktu 6 bulan sampai 3 Tahun. Menurut Bapak Kornelis, terdapat 42 langkah dari awal pemintalan kapas menjadi benang, mendesain motifnya, mengikat benang menggunakan daun gewang untuk pewarnaan, hingga penenunan menggunakan alat tenun tradisional.

Ternyata, bukan hanya karena proses panjang dan lama serta pewarnaan berbahan alami saja yang membuat tenun ikat Sumba bernilai tinggi. Motif yang indah turut memberi andil dalam mengatrol harga selembar tenun ikat Sumba. Motif yang terdapat dalam kain tenun memang syarat dengan makna yang merepresentasikan budaya masyarakat setempat, bahkan kerap terdapat rangkaian cerita dalam motif yang dibuat. Bisa dibilang, tenun ikat Sumba tak hanya sebuah kain, namun juga sebuah lukisan bercerita hasil tuangan imajinasi dan kreativitas senimannya.

Saat itu, kami memang asyik berbincang banyak hal bersama Bapak Kornelis sembari takjub melihat karya-karyanya yang dipajang di sepanjang dinding rumahnya. Sampai akhirnya gelapnya sore membuat kami harus undur diri. Di akhir perbincangan, kami sengaja meminta Bapak Kornelis memberikan wejangan untuk kami dokumentasikan. "Selembar tenun mengajarkan banyak hal pada kita. Salah satunya kegigihan, kesabaran, ketelatenan, dan kerjasama yang baik untuk dapat menghasilkan sebuah tenun yang Indah," pesan Bapak Kornelis dengan senyumnya.

 Tak lupa, sebagai sesama warga negara yang baik kami mengingatkan Bapak Kornelis untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya, salah satunya melaporkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan yang akan berakhir akhir maret ini. "Siap, pasti akan datang. Pajak Kita Untuk Kita!" jawabnya sambil memekikkan tagline yang sering ditemuinya di media sosial.(*)

 

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi di mana penulis bekerja.