Mengunjungi Sebira, Pulau Terjauh Jakarta

Oleh: Freddy Halasan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Pagi itu, hari Kamis 03 Agustus 2023, tepat pukul 07.30 di dermaga 16 Marina Ancol, tim Pelayanan Terpadu Keliling (PTK) yang digawangi oleh Dinas Perijinan dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, telah siap untuk melakukan perjalanan selama lebih dari empat jam menuju Pulau Sebira.
Setelah lepas sauh dari Dermaga Marina Ancol, kapal PTK singgah sebentar di Pulau Pramuka, kemudian berlayar dan singgah di Pulau Harapan untuk kemudian melewati laut lepas menuju Pulau Sebira. Melewati Pulau Harapan dan gugusan pulau-pulau di kelurahan Harapan, sinyal telepon genggam dengan apa pun penyedia layanan telekomunikasi, mulai menghilang dan akhirnya lenyap bersamaan dengan empasan ombak yang semakin tinggi.
Pulau Sebira adalah tujuan kami. Pulau itu merupakan pulau terluar dari Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dengan jarak kurang lebih 160 km dari Dermaga Marina, Ancol. Kabarnya, Pulau Sebira hanya berjarak sekitar 80 km dari pelabuhan terdekat di Lampung. Jadi secara geografis pulau ini dekat dengan Lampung namun administrasi pemerintahannya di bawah DKI Jakarta.
Setelah melewati Pulau Harapan, akan terlihat gugusan pulau-pulau resor yang cukup terkenal dan mewah bagi para pelancong ibu kota. Pulau terakhir di gugusan pulau tersebut baru saja dilewati. Namanya Pulau Dua, dua pulau berhadapan di sebelah kiri kapal. Setelah gugusan pulau ini, ombak semakin tinggi dan tidak beraturan menandai bahwa kapal sudah berada di lautan lepas. Setelah tertidur dibuai oleh deru mesin dan goyangan ombak, kilang minyak mulai kelihatan. Dari sini, Sebira tidak begitu jauh lagi dan kami akan sampai yaitu sekitar satu jam lagi. Ini memang kali ketiga saya melakukan tugas di Pulau Sebira, sedangkan bagi rekan saya yang menemani merupakan pengalaman yang sangat baru. Kilang minyak lepas pantai terlihat di kejauhan, hitam, disertai beberapa rig lepas pantai yang merupakan bagian dari peralatan salah satu BUMN pertambangan negeri.
Setibanya di Pulau Sebira, kapal cepat mendarat di dermaga pulau yang terlihat kokoh. Ternyata perhatian pemerintah untuk keperluan fasilitas umum di pulau ini bisa diacungi jempol. Kapal Dinas Perhubungan sudah merapat di dermaga itu sebelum kami dan beberapa perahu nelayan terlihat rapi ditambatkan. Dermaga yang cukup luas tersebut ternyata sedang diperluas kembali dengan menambahkan dermaga baru disebelahnya. Tak tanggung-tanggung rupanya uang pajak yang digelontorkan untuk pulau yang cukup jauh terasing dari pusat kota Jakarta. Pulau Sebira nan cantik yang luasnya kurang dari sepuluh hektar dan berpenghuni cukup padat (kurang lebih 500 jiwa) mendapat perlakuan yang sama dengan dengan aneka pulau permukiman masyarakat lainnya di kawasan tersebut.
Sebira disebut juga Noord Wachter alias Jaga Utara karena sejak zaman Belanda pulau ini digunakan untuk menandai adanya daratan. Di masa itu telah dibangun mercusuar. Mercusuar ini difungsikan sebagai tempat pengawas kapal asing yang hendak memasuki Batavia dari wilayah Utara. Pulau Sebira sering disebut-sebut sebagai Pulau Bugis karena sekitar 90 persen penduduknya bersuku Bugis asal Bone, Sulawesi Selatan. Menurut cerita, awalnya pada sekitar tahun 1974 pulau ini masih berupa hutan tidak berpenghuni (kecuali oleh petugas yang menjaga mercusuar peninggalan Belanda). Melihat potensi ikan yang besar, seorang nelayan dari Pulau Genteng (bernama Joharmansyah) minta izin untuk bermukim. Setelah melalui proses panjang, pada tahun 1975 Pulau Sebira akhirnya mulai dijadikan pulau hunian untuk warga. Dari awalnya hanya berjumlah kurang lebih 20 Kepala Keluarga di tahun itu hingga sekarang berkembang menjadi banyak.
Kami tiba di Pulau Sebira pada pukul 12.15 WIB. Setelah istirahat sebentar sekaligus makan siang, kami disajikan makanan khas Bugis yaitu Barongko. Makanan ini biasanya disajikan pada acara besar maupun acara kecil di Sulawesi Selatan. Makanan yang terbuat dari pisang ini terasa manis sekaligus gurih yang kegurihannya itu berasal dari santan kelapa. Teksturnya yang lembut dan disajikan dingin memang kombinasi yang pas untuk menambah kesegaran sebelum pemberian layanan PTK.
Aliran listrik 24 jam di pulau ini baru dapat dinikmati setelah tahun 2017 saat pemerintah menambah mesin genset dengan kapasitas 125 Kva. Kini, listrik 24 jam di Sebira tidak hanya tergantung pada mesin genset berbahan bakar minyak. Pada 2019 Perusahaan Listrik Negara Induk Distribusi (PLN UID) Jakarta Raya mengoperasikan panel-panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang lebih ramah lingkungan. Pada sisi selatan, akan terlihat ladang panel surya yang cukup luas dan digunakan sebagai pembangkit listrik.
Untuk layanan perpajakan kali ini, kami berfokus pada warga yang belum melaporkan SPT tahunannya. Setelah penarikan data, kami menemukan bahwa terdapat 87 warga yang memiliki NPWP namun belum melaporkan SPT. Daftar ini telah kami sampaikan ke Kepala RW untuk kemudian dapat diteruskan ke saluran komunikasi warga. Setelah melihat keadaan balai warga, kami memiliki ide untuk menempelkan daftar nama warga yang belum melaporkan SPT pada papan pengumuman. Sekaligus kami tambahkan pariwara pengingat bahwa kalau memiliki NPWP, warga harus melaporkan SPT setiap tahun. Ternyata strategi kami ini berhasil. Dari mulut ke mulut daftar ini tersampaikan kepada warga dan akhirnya kami melayani pelaporan SPT sampai pukul 21.00 WIB saat unit instansi lain sudah menghentikan layanannya pada waktu Magrib. Pada akhir pelayanan, kami melayani konsultasi pelaporan SPT sebanyak 26 orang, atau sekitar 30% dari daftar yang kami umumkan.
Di malam setelah memberikan pelayanan perpajakan, akhirnya kami beristirahat pada satu rumah tradisional. Rumah ini dibangun oleh Dinas Pariwisata yang tentunya menggunakan APBN/D yang bersumber dari pajak. Rumah di Pulau Sebira pada umumnya ada dua jenis yaitu rumah Bugis (rumah panggung kayu) dan rumah biasa. Rumah tradisional tempat kami menginap malam itu adalah rumah tradisional Bugis.
Keesokan harinya, setelah istirahat dan menikmati sarapan, kami kembali bersiap untuk mengarungi lautan untuk kembali ke Marina, Ancol. Pelayanan Terpadu di Pulau Sebira kembali memberikan kesan dan inspirasi. Bahwa masih banyak bagian dari negara kita yang membutuhkan sentuhan demokrasi melalui pembangunan fasilitas untuk warga. Semakin mudah warga dalam melakukan kegiatan ekonominya, maka tingkat kesejahteraan pun akan semakin meningkat. Kali ini juga memberikan inspirasi agar pelayanan perpajakan dapat selalu menemukan cara agar masyarakat teredukasi.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 267 kali dilihat