Sunrise di Candi Borobudur

Oleh: Mochammad Bayu Tjahono, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Mata-mata sayu, sesekali menguap, seakan tubuh dipaksa terbangun di pagi buta. Mereka harus menahan kantuk sementara matahari masih tertidur lelap. Rombongan tur ini tidak sendiri, bersama mereka ada rombongan lain yang berasal dari Belanda dan Thailand, walaupun tampak masih terkantuk juga, tetapi mereka tetap bersemangat karena hendak mengejar matahari di balik Candi Borobudur. Laksana para pertapa Buddha di zaman dahulu seakan tengah bermeditasi dan merapal doa diiringi semburat matahari terbit.

Masing-masing orang dibekali senter kecil. Memang, rombongan mulai jalan menuju Candi Borobudur di pekatnya langit malam menuju subuh. Minimal pukul empat pagi peserta tur paket Sunrise Candi Borobudur harus sudah siap di pos penjualan tiket yang terletak di area Hotel Manohara.

Disertai pemandu wisata rombongan bergerak menuju Candi Borobudur. Sebelum mulai menaiki tangga Candi Borobudur untuk mencapai lantai teratas, pengunjung harus melewati pos keamanan untuk dicek barang bawaan sekaligus menunjukkan tiket masuk khusus paket Sunrise Candi Borobudur. Walapun bergerak dalam rombongan, keheningan tetap tercipta, mungkin karena masih mengantuk atau tersihir pesona Candi Borobudur di kepekatan malam. Efek lampu sorot yang menyinari Candi Borobudur, bagai sebuah oase di tengah kegelapan. Begitu magis dan memukau mata.

Sesekali terdengar suara tawa dan orang-orang mengobrol dengan berisik. Namun, dengan sigap dan ramah, para pemandu akan mengingatkan. "Mohon tidak berisik, kalau bicara bisik-bisik saja. Mohon maaf, karena kita ingin menjaga supaya tetap hening. Banyak turis-turis asing datang di pagi hari ini bukan hanya untuk melihat matahari terbit, tapi juga mencari kedamaian seperti meditasi," kata seorang pemandu.

Sekelumit cerita di atas hampir identik dengan perjalanan pegawai Direktorat Jenderal Pajak, mereka harus rela bangun pagi bahkan di saat matahari masih lelap, untuk bergegas menuju tempat kerja. Bahkan banyak diantaranya yang pergi pagi pulang malam tanpa bisa menyapa buah hati yang sudah terlelap tidur saat mereka datang. Hanya ciuman di kening yang mereka lakukan untuk menunjukkan rasa cinta yang dalam.

Bukan potongan absen yang mereka kejar namun setumpuk tugas yang telah menumpuk untuk diselesaikan setiap harinya menjadikan mereka bagai mengejar matahari. Rasa tanggung jawab yang besar terhadap negara juga keluarga turut membebani pundak mereka. Rasa puas dan senyum bangga akan mengembang bila mereka bisa menuntaskan kerja di hari itu, namun beban pikiran juga akan mereka bawa bila tugas hari itu belum terselesaikan.

Cahaya-cahaya dari lampu mobil yang menyinari jalan pulang tidak mampu menghilangkan penat yang ada, namun optimisme selalu muncul dalam semangat mereka. Bagai bayangan matahari mereka semua juga selalu dibayang-bayangi jika penerimaan pajak tidak tercapai, tudingan masyarakat juga membuat bayangan sendiri.

Laksana manusia yang berjalan disinari matahari, bayangan yang muncul tidaklah akan mengurangi optimisme dalam melangkah ke depan. Melihat bayangan tidak akan menambah makna, melangkah ke depan akan mengurangi panjang bayangan tersebut.

Penjelasan Dirjen Pajak Robert Pakpahan bahwa pertumbuhan di tahun 2017 menunjukan trend yang bagus, di mana Pajak Pertambahan Nilai meningkat dibanding tahun 2016 menambah optimisme di tahun 2018. Ekonomi yang lesu tidak nampak dalam penerimaan pajak, justru pertumbuhan penerimaanlah yang jelas tergambar.

Keraguan beberapa pengusaha nampaknya tidak menjadi kenyataan. Kesempatan berusaha bahkan terbuka lebar. Kemudahan dalam pengurusan izin usaha, transportasi, dan pelaporan dan pembayaran pajak terus dikembangkan. Semua ini bertujuan untuk memberikan iklim investasi yang baik di Indonesia, termasuk investasi di bidang pariwisata.

Pembangunan sarana tranportasi darat, laut, dan udara yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk mempermudah distribusi barang. Luasnya laut di Indonesia memberikan segudang kesempatan usaha akan perikanan. Tanah yang subur dan kaya mineral sangat membuka usaha bagi investor untuk mengembangkan usaha di Indonesia.

Kemudahan pelaporan dan cara pembayaran yang terus dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pajak juga merupakan keuntungan sendiri bagi pengusaha.

Terlepas dari itu semua, seluruh insan pegawai pajak saat ini dari Sabang sampai Merauke terus bahu-membahu membangun negeri, mengejar matahari, meninggalkan bayangan kelam untuk menuju Indonesia lebih baik lagi.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.