Iklan Pajak: Berbuat Kreatif dalam Durasi yang Pendek

Oleh: Mochammad Bayu Tjahono, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Menonton trailer film Jhon Wicks 3 melalui YouTube dimana aktor laga Indonesia terlibat berhasil membuat saya takjub dan tak percaya bahwa animasi dalam komputer bisa membuat semuanya tampak nyata. Melihat kecanggihan di film itu, membuat saya semakin yakin bahwa komputer tidak hanya untuk mengetik dokumen, melihat penerimaan, e-learning, menonton YouTube atau bermain aneka game, tetapi juga bisa untuk membuat iklan pajak yang menarik.
Kecanggihan dalam film Jhon Wicks 3 itu rupanya sangat membekas bahkan terbawa dalam tidur. Terbayang bagaimana membuat iklan pajak bukan hanya iklan layanan pemerintah biasa tetapi layaknya sebuah trailer film yang akan membekas di ingatan orang yang melihatnya.
Beberapa iklan yang ada di Indonesia, rata-rata hanya gebyar sesaat setelah itu dilupakan, hanya ada beberapa iklan yang terus dikenang, sebagian karena tema, latar belakang, atau kisah yang terbangun. Namun masih sedikit iklan yang dikenang karena animasi atau pembuatan yang canggih. Iklan yang membekas dalam pikiran masyarakat sayangnya hanya iklan rokok, mungkin hal ini dikarenakan biaya yang besar dalam proses produksinya.
Iklan yang baik harus juga memperhatikan budaya, populasi penduduk, dan tren yang ada pada masanya. Penduduk Indonesia yang rata-rata memeluk agam Islam, masih sedikit animasi atau iklan yang menyuguhkan konten islami, kalaupun ada masih kurang kreatif (bukan menghakimi, hanya mencoba memahami), sehingga tidak menyedot minat penonton. Kalaupun ada yang bagus namun durasinya rata-rata lebih dari 10 menit, ini menjadi sangat membosankan.
Kita mungkin perlu berfikir out of the box, untuk membuat sesuatu yang menarik tetapi tanpa menghilangkan adanya budaya setempat. Daripada mengejar durasi yang panjang, ujung-ujungnya orang hanya menonton satu menit, lebih baik berani satu sampai tiga menit tapi yakin ditonton sampai akhir.
Iklan Pajak dan Budaya Indonesia
Pajak di Indonesia masih belum terlalu populer, meski kita sudah meraih beberapa penghargaan dalam kehumasan tetapi pemahaman masyarakat masih terasa kurang. Hal ini adalah tantangan bagi Direktorat Jenderal Pajak dalam membuat iklan pajak yang edukatif tetapi menarik untuk ditonton sampai akhir.
Saat ini iklan pajak hanya didominasi momen-momen tertentu saja, misal saat hari kemerdekaan, hari keagamaan, atau saat menyampaikan SPT Tahunan. Kita belum membuat iklan pendidikan selayaknya pajak bertutur, mungkin kita perlu membuat iklan berseri layaknya film, dengan segmen yang berbeda-beda. Seperti halnya film The Little Giantz yang banyak memberikan kontribusi tontonan yang positif bagi anak-anak sebagai calon penerus bangsa.
Mungkin kita perlu berkonsultasi kepada beberapa sutradara, tokoh masyarakat, tokoh bangsa atau tokoh agama dalam membuat iklan tersebut. Hal ini untuk kehati-hatian kita dalam membuat konten agar tidak dituding memberi informasi yang salah atau menyinggung masyarakat tertentu. Karena saat ini beberapa konten iklan selalu menyudutkan masyarakat atau agama tertentu.
Aditya, animator sekaligus CEO dan Co-Founder The Little Giantz, juga selalu meminta saran beberapa tokoh agama agar animasi yang dibuat tidak memberikan info yang salah.
Pelibatan Pihak Akademisi
Prinsip bahwa setiap individu memiliki bakat dan passion, membuat Kanwil DJP Jakarta Selatan I mencoba menggandeng pihak akademisi yang tergabung dalam Tax Center untuk mencoba membuat iklan tentang pajak. Kanwil DJP Jakarta Selatan 1 mencoba mencari seseorang yang mempunyai bakat dan passion-nya, dalam membuat iklan tentang pajak.
Dari 6 kampus yang mengikuti lomba, beberapa membuat iklan tentang SPT Tahunan atau e-filing, namun ada juga yang membuat iklan tentang manfaat pajak. Dengan peralatan yang sederhana mereka mencoba membuat story telling akan pentingnya pajak bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini menjadi menarik karena dengan pemahaman mereka yang belum banyak tentang pajak tetapi mereka bersemangat untuk berpikir membuat iklan pajak yang menarik.
Meskipun iklan yang dibuat tidak ditayangkan di stasiun televisi, namun diunggah melalui media informasi yang lain, seperti YouTube dan Instagram. Banyaknya media informasi yang ada di Indonesia dapat kita manfaatkan untuk memberikan tontonan yang menarik dan mendidik tentang pajak. Tidak hanya melalui tautan media sosial Kanwil DJP Jakarta Selatan I saja, namun kami juga meminta untuk ditayangkan melalui tautan media sosial kampus yang ada.
Ada salah satu kampus yang mencoba menawarkan kerjasama dalam membuat iklan, kebetulan dikampusnya ada jurusan yang memang khusus membuat iklan. Pelibatan pihak akademisi menarik untuk ditindaklanjuti, selain untuk pengembangan iklan pajak juga untuk mendapat pandangan dari sudut yang berbeda tentang pajak. Tujuan utama tetap yaitu menarik masyarakat untuk tahu tentang manfaat pajak, dan membangun kesadaran akan pentingnya pajak.
Cita-cita Iklan Pajak
Kanwil DJP Jakarta Selatan I mengakui bahwa konten iklan melalui media elektronik lebih gampang mencapai masyarakat sampai tingkat pelosok. Tetapi menggarap video bertema pajak tidak semudah konten yang lain seperti iklan rokok atau makanan. Mungkin kita perlu membuat video pajak dengan segmen-segmen yang berbeda, ada buat anak-anak, ada buat masyarakat umum, dan ada buat wajib pajak. Hal ini mungkin perlu penelitian khusus untuk menyerap aspirasi masyarakat tentang pajak.
Kita harus memberanikan diri membentuk pasar, mengambil konsep yang berbeda dengan tidak mengesampingkan budaya, adat istiadat, dan agama yang ada. Bersama tim dari Kanwil DJP Jakarta Selatan I dan Tax Center akan mencoba membuat iklan dengan genre hero, kisah perjalanan hidup dan remaja untuk menyasar ke pangsa pasar remaja dan anak-anak. Sedangkan dengan mengedepankan manfaat pajak untuk masyarakat dan bangsa akan disasarkan untuk wajib pajak dan masyarakat umum.
Tetap idealis namun tetap sustainable dan tidak profitable, ini menjadi tantangannya. Memang saat ini tautan YouTube milik Kanwil masih sedikit pengikutnya namun bukan itu tujuannya, yang menjadi tujuan utama adalah pemahaman masyarakat tentang pajak, manfaat pajak, cara pelaporan dan pembayarannya. (*)
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.
- 1643 kali dilihat