Esensi Pelayanan di Ketinggian 2.500 MDPL

Oleh: Muhammad Mustakim, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
"Esensi dari pelayanan terbaik bukan hanya pada sikap, ucapan, dan tingkah laku tetapi pada ketulusan dan integritas."
Pernahkah Anda mengalami cuaca ekstrem meliputi suhu yang sangat dingin ditambah kabut dan kadar oksigen di bawah normal? Pernahkah Anda memberikan layanan perpajakan di ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan dikelilingi oleh pegunungan yang senantiasa berkabut dengan jarak pandang yang terbatas? Bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik sementara tubuh dan otak tidak sinkron karena proses aklimatisasi cuaca?
Pada artikel ini dijelaskan mengenai layanan Koperapoka KPP Pratama Timika yang harus menemui kendala-kendala tersebut dalam upaya memberikan pelayanan terbaik kepada wajib pajak.
Jika ada yang menanyakan kepada Anda, lebih familier mana antara Timika atau Freeport? Sebagian besar dari Anda mungkin akan menjawab Freeport. Pada kenyataannya Timika dan Freeport saling terkait karena PT Freeport Indonesia beroperasi di Kabupaten Mimika dengan ibu kota Timika.
Ketika menyebut nama kota Timika maka banyak orang yang langsung mengasosiasikan dengan kota emas atau kota dolar. Hal ini tidak salah karena di daerah inilah berdiri PT Freeport Indonesia yang mengelola kawasan mineral Grasberg, salah satu kawasan yang memiliki deposit emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Dalam waktu dekat, dengan adanya pembangunan smelter di Gresik maka setiap tahunnya PT Freeport Indonesia mampu menghasilkan tembaga sekitar 600 ribu ton, emas batangan sekitar 50 ton, dan perak batangan sekitar 200 ton.
Produksi material tambang yang masif tersebut tentu diiringi dengan jumlah karyawan yang banyak pula. PT Freeport Indonesia beserta seluruh rekanannya memiliki puluhan ribu karyawan. Mayoritas karyawan termasuk para rekanan PT Freeport Indonesia bekerja di kawasan Tembagapura dan sekitarnya yang terletak di ketinggian lebih dari 2.000 mdpl.
Dengan jumlah karyawan mencapai puluhan ribu dan terkonsentrasi di sekitar daerah tambang menyebabkan banyak karyawan yang tidak sempat untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya. Jarak, waktu, kesibukan, dan pengetahuan menjadi alasannya. Hal ini menjadi salah satu tantangan bagi KPP Pratama Timika yang sebagian besar wajib pajaknya berasal dari PT Freeport Indonesia dan para rekanannya.
Melihat kondisi ini maka KPP Pratama Timika berinisiatif untuk melaksanakan inovasi layanan Pojok Pajak yang diberi nama Koperapoka (Koordinasi dan Pelayanan Masyarakat melalui Pojok Pajak Berkala). Penggunaan nama Koperapoka adalah untuk merepresentasikan nilai-nilai Papua. Koperapoka adalah nama salah satu kelurahan yang berada di distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika yang merupakan salah satu wilayah kerja KPP Pratama Timika. Layanan Koperapoka dilaksanakan secara berkala di area perkantoran dan tempat tinggal para karyawan. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama antara KPP Pratama Timika dan PT Freeport Indonesia.
Untuk periode Juli 2023, layanan Koperapoka dilaksanakan pada 17 s.d 21 Juli 2023. Tim dari KPP Pratama Timika yang beranggotakan 5 orang yaitu Muhammad Mustakim, Porman Edward, Ronald Chiesa Resky Ardhafa, Aditya Nugraha, dan Nasriandi Nasir serta satu orang pendamping dari PT. Freeport Indonesia berna Teddy Widayanto menyelenggarakan Pojok Pajak di dua tempat yaitu di superblock mile 72 dan Tembagapura di mile 68.
Para anggota tim yang belum pernah berkunjung ke dua tempat tersebut merasakan atmosfir yang berbeda yaitu cuaca ekstrem yang berubah-ubah. Cuaca didominasi suhu yang sangat dingin berkisar di sepuluh derajat celsius. Di penginapan maupun sepanjang perjalanan menuju ke Pojok Pajak, tersaji pemandangan pegunungan yang diselimuti kabut tebal yang menghalangi jarak pandang dan menguras stamina meskipun hanya berjalan atau naik tangga sesaat. Ini karena kadar oksigen di bawah normal ikut memberikan tantangan dalam memberikan layanan perpajakan yang optimal. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat untuk tetap memberikan pelayanan yang terbaik kepada para wajib pajak meskipun harus menggunakan pakaian dan jaket yang berlapis karena proses aklimatisasi cuaca yang berjalan lambat.
Antusiasme para karyawan dalam mengunjungi dan menggunakan layanan perpajakan ikut mendongkrak semangat anggota tim untuk memberi pelayanan terbaik pada kegiatan Pojok Pajak tersebut. Layanan yang dibuka jam 9.00 s.d 17.00 WIT hampir tiap saat dikunjungi oleh para karyawan yang ingin dibantu dalam melaksanakan kewajiban perpajakan di antaranya pelaporan SPT Tahunan, validasi NIK-NPWP, pendaftaran, penggantian NPWP, konsultasi ringan, dan sebagainya.
Apresiasi banyak disampaikan oleh para karyawan yang dilayani karena KPP Pratama Timika telah bersedia membuka layanan Pojok Pajak langsung di daerah mereka yang jauh dari pusat kota dan kondisi cuaca yang ekstrem. Mereka sebenarnya ingin melaksanakan kewajiban perpajakan namun terkendala oleh jarak, waktu, kesibukan, dan pengetahuan perpajakan sehingga pada akhirnya banyak yang belum melaksanakan kewajiban perpajakannya.
Berkaca dari pengalaman tersebut, Penulis menyadari bahwa pemberian pelayanan yang diibaratkan sebagai sebuah seni adalah hal yang nyata. Hal ini karena dalam memberikan pelayanan dibutuhkan sebuah orkestra yang saling terhubung sehingga dapat memberikan simfoni dan irama yang indah. Karena itu, strategi yang tepat dengan tetap menyesuaikan dengan kearifan lokal perlu dianalisis dan ditelaah secara berkala sehingga dapat memitigasi risiko dan masalah disertai dengan upaya pemberian layanan yang berkualitas. Koperapoka adalah salah satu inovasi pelayanan KPP Pratama Timika yang ditujukan untuk menciptakan simfoni dan irama yang akan menyenangkan dan diapresiasi oleh masyarakat dan wajib pajak.
Sebagai penutup, pada bagian pembukaan disampaikan bahwa upaya pemberian pelayanan terbaik harus disertai dengan ketulusan dan integritas dan bukan hanya bergantung pada sikap, ucapan, dan tingkah laku. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh KPP Pratama Timika yang terus berinovasi di antaranya melalui Koperapoka dengan membuka Pojok Pajak di daerah dengan ketinggian dan cuaca ekstrem, maka dedikasi yang tulus dan integritas menjadi dua faktor penting yang mendorong terlaksananya kegiatan tersebut. Semua itu tidak terlepas dari semangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik meskipun harus menghadapi kendala yang tidak umum dijumpai.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 324 kali dilihat