Oleh: Dewi Susanti, pegawai Direktorat Jedneral Pajak

Mark Manson, seorang penulis dan narablog swadaya Amerika Serikat, menyatakan dalam bukunya “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” bahwa untuk menjadi bahagia, kita sebaiknya mencari tahu apa yang sebenarnya layak untuk dipedulikan dan diinginkan. Fokuslah pada hal-hal yang penting dan abaikan segala sesuatu yang memang bisa diabaikan.

Tak hanya menyuguhkan gagasan, Manson juga menawarkan argumentasi-argumentasi yang menarik. Sebuah alasan, mengapa kadang, kita perlu untuk bersikap cuek dan masa bodoh agar nyaman saat dihadapkan pada hal sulit. Kita berhak untuk bahagia atas keadaan apa pun yang dimiliki meski orang lain menaruh tinggi ekspektasi. 

Lantas saya teringat pada seorang penjual koran eceran yang setiap pagi mangkal di sisi jalur lambat jalan Loekmono Hadi. Sebelum ada pembongkaran median jalan sepanjang 952 meter, Kudus, di sana masih ada pembagian akses jalur lambat untuk para pengendara sepeda motor. Hampir setiap pagi saya melintasinya. Berjalan pelan dan konstan di sekitar 50 km/jam, menikmati sekaligus mengamati suasana sekitar.  

Ada satu yang menarik. Seorang pemuda kurus berkursi roda. Hampir setiap pagi saya melihatnya di sekitar jam 6.30 WIB. Seseorang yang selalu saja membuat saya penasaran, tentang cerita di balik kehidupannya. Ia, masih berada di sana menjajakan koran dengan kursi roda sampai saat Duhur menjelang. 

Hingga suatu waktu, saya meniatkan diri untuk menuntaskan rasa penasaran yang meletup setiap kali melihatnya. Pagi itu, saya sengaja memarkirkan kendaraan agak menjauh dan memilih untuk berjalan kaki menujunya. Setelah membeli beberapa surat kabar dan sebuah majalah, saya menanyakan kesediaannya untuk sedikit berbincang ringan. 

“Saya dulu normal, Mbak,” Ia mengawali kisahnya dengan suara pelan. Sekilas terlihat matanya yang mendadak berarak. Kecelakaan akibat terjatuh dari atas sepeda, sungguh tak disangkanya, akan berakibat fatal. Saat itu ia masih berusia 16 tahun. Remaja dengan dunia yang penuh warna. 

Melihatnya, tiba-tiba mengingatkan saya pada sosok Handry Satriago, CEO of General Electric Indonesia. Mereka memang pribadi yang berbeda, namun saya yakin memiliki semangat yang sama bahwa hidup adalah tempat untuk belajar, menerima, memahami, dan memperjuangkannya. 

 

Namanya Mohammad Arif

Seperti hal nya Handry, dunia remaja Arif seolah mendadak lenyap di telan bumi. Melesakkan dirinya dalam bulan-bulan penuh pertanyaan. Antara percaya dan tidak. Ia, yang sehari sebelumnya masih dapat menderapkan kaki, tetapi kemudian lumpuh di esok hari. Bertahun-tahun dalam kehidupan penuh limbung, akhirnya di tahun 2011 Arif menguatkan diri untuk keluar dari zonanya. Hidup mandiri dan bukan menjadi beban orang lain adalah impiannya saat itu. Ia lebih memilih untuk menjadikan kursi roda sebagai partner dan bukan aral rintang. 

Mengutip kalimat CEO of General Electric itu, bahwa ketika seseorang memiliki masalah, maka dia harus melewati dua tahap:  menerima, kemudian menghadapi hal tersebut. Facing reality, not to deny

Pun, dengan Arif. Hari itu ia memutuskan untuk keluar mencari pekerjaan. Apa saja yang ia bisa. Mengayuh kursi roda menempuh banyak kilometer dari tempat tinggalnya di Desa Krandon RT 5 RW 1, Kecamatan Kudus Kota. Hingga akhirnya ia menemui seorang agen koran dan menawarkan diri untuk menjualkan barang dagangannya. Saat itu uang yang ia miliki sebagai modal awal sebesar 13 ribu rupiah. Dan sang agen hanya bersedia menggunakan sistem jual putus. Koran tidak laku? Risiko ditanggung pembeli. 

Arif, penjaja koran itu memutuskan untuk mengambil sikap masa bodoh. Di sini bukan berarti ia memilih acuh tak acuh, namun berusaha menyamankan diri saat menjadi berbeda.  Dia memilih untuk tak peduli dengan pandangan orang lain, tak ambil pusing dengan segala keterbatasan yang ia miliki, tak menjadikan “pesan dan kesan” masyarakat sebagai prioritas yang harus ia pikirkan. Cuek dan bodo amat merupakan cara sederhana untuk mengarahkan kembali ekspektasi kita, memilih apa yang penting dan tidak penting untuk diperhatikan. Prioritasnya bukan pada cara untuk menggapai atau mencapai sesuatu, namun lebih pada bagaimana supaya kita dapat berlapang dada dan membiarkan sesuatu yang tidak penting untuk pergi. Dan kemudian, kita bisa mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan, dan apa adanya. 

Sama halnya dengan “keriuhan” yang dialami oleh 45 ribu pegawai pajak beberapa waktu lalu. Pegawai yang sebagian besar telah bekerja dengan baik, benar, lurus, dan jujur.  Pusaran kasus yang membelit seperti gurita itu, seolah telah menyerap semua energi positif mereka. Kepercayaan diri, semangat, dan keyakinan seakan luruh lantak. Beralih menjadi luka dan rasa kecewa.

Di titik ini, saya merasa harus percaya bahwa apa yang ditulis Mark Manson ada benarnya. Alih-alih terpuruk dan mencari tempat untuk bersembunyi sambil meratapi nasib, kita justru harus mengatakan “bodo amat” pada kesulitan itu dan mulai peduli pada sesuatu yang jauh lebih penting daripada kesulitan. Kepercayaan publik dan integritas adalah hal yang utama. Ia adalah fondasi bernegara yang tidak boleh tergerus. Sebagai bendahara negara kita masih memiliki kewajiban untuk mengembalikan dan menjaga kepercayaan publik. Fokus saja pada tindakan korektif, memperbaiki cara kerja, dan tetap melayani masyarakat dengan profesional. 

Maka begitulah, the life must go on. Dalam setiap peristiwa yang terjadi ada momen untuk meningkatkan kualitas pribadi. Apa pun bentuk medan perang yang dihadapkan Tuhan kepada kita, yakinlah bahwa segala persenjataan pun sudah disiapkan oleh-Nya.  

Tak terasa, sudah hampir setengah jam saya bertukar cerita dengan Arif, penjual koran di tepi jalan Loekmono Hadi itu. Waktu terasa berjalan begitu cepat, sedang cerita ini masih sangat menarik untuk ditelusuri. Akhirnya saya mohon pamit serta tak lupa juga membumbungkan doa agar keberkahan senantiasa melingkupi kehidupannya. Agar kata semangat tak pernah lerai dari perjuangannya. Sebab, kembali mengutip kalimat Handry. Bahwa kekuatan seseorang bisa dilihat dari speed of bounching back yang ia miliki. Ketika ia diempaskan keras ke dasar bumi, apakah kemudian ia lantas lesak terpuruk atau justru memantul tinggi. 

Jalur lambat di jalan Loekmono Hadi kini sudah dibongkar. Tak ada lagi penjual koran berkursi roda di sana. Bangunan pertokoan memenuhi sepanjang kiri dan kanan jalan. Beberapa orang mulai bebas memarkirkan kendaraan pribadinya di tepi jalan depan toko untuk berbelanja. Malam 1 Syawal ini, jalan protokol itu semakin semarak. Gemuruh takbir, tahlil, dan tahmid bersahut-sahutan, memantul-mantul, kemudian terserap oleh ranting serta daun-daun pohon trembesi, glodokan, dan pucuk merah. 

 

*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.

Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.