Oleh: Andi Zulfikar, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Tak banyak yang percaya tim Liverpool dapat mengalahkan Barcelona di leg ke dua semifinal liga Champions Eropa. Hal ini sepertinya mustahil, tidak mungkin. Di leg pertama, Liverpool dibantai dengan skor telak, 3-0, di Nou Camp, stadion tim Barcelona. Perlu perjuangan untuk mencetak gol lebih banyak dari tiga gol. Banyak yang pesimis. Banyak pula yang telah membicarakan bagaimana nanti Barcelona FC bertarung di final, seolah-olah hal itu telah diraih.

Di sisi lain, Tottenham Hotspur mempunyai kondisi yang lebih sulit dari  Liverpool. Kedua tim dari Inggris ini memang tidak hanya sama-sama menembus semifinal namun juga sama-sama kalah di leg pertama. Yang membedakan adalah, Tottenham Hotspur dikalahkan 0-1 di kandang mereka sendiri. Stadion Tottenham Hotspur yang berkapasitas 62 ribu orang menjadi saksi kekalahan mereka. Padahal stadion itu baru saja diresmikan pada bulan April 2019 menggantikan stadion lama mereka. Ajax Asmterdam, tim yang diisi banyak pemain muda berkarakter dan berkualitas, dianggap lebih kuat. Kemenangan di leg  ke dua dianggap sangat sulit.

Ada dua kesamaan antara kedua tim ini, yakni mereka merindukan gelar di bawah asuhan pelatih mereka. Liverpool, di bawah kepelatihan Jurgen Klopp, belum mendapatkan gelar apa pun, walaupun mereka pernah merasakan final Liga Champion dan sedikit lagi meraih gelar Liga Inggris pada tahun 2018. Dia telah melatih The Reds sejak tahun 2015. Walaupun belum meraih gelar, namun pelatih berdarah Jerman ini memberikan semangat yang berbeda dari pelatih-pelatih sebelumnya. Keceriaan dan sikap optimisnya membuat para pendukung tim yang berdiri pada tahun 1892 ini menemukan kembali semangat menuju kesuksesan.

Mauricio Pochettino, pelatih Tottenham Hostpur, memang tidak seekspresif Jurgen Klopp. Pembawaannya relatif tenang, namun dia mampu meracik timnya menjadi salah satu tim kuat di Liga Inggris. Walaupun telah menjadi salah tim kuat, tantangan bagi klub yang berjuluk The Lilywhites ini adalah belum pernah meraih gelar di bawah kepelatihannya. Bahkan, sejak berdiri pada tahun 1882, klub ini tidak pernah berhasil memasuki final Liga Champions.

Walaupun diragukan, tinta takdir menuliskan hal yang berbeda. Liverpool dengan luar biasa mengalahkan Barcelona dengan skor telak 4-0. Walaupun dua pemain andalannya, Mohamed Salah dan Roberto Firmino tidak dimainkan karena cedera, namun mereka tidak bergantung pada figur itu saja. Divock Origi dan Georginio Wijnaldum, menunjukkan kapasitas mereka dengan mencetak empat gol untuk The Reds.

Perjuangan Tottenham Hotspur juga dianggap luar biasa. Di kandang lawan, mereka mampu mengalahkan Ajax Amsterdam dengan skor 3-2. Di babak pertama, peluang seolah telah tertutup ketika Ajax Amsterdam mencetak dua gol tak berbalas. Namun, di babak ke dua, keadaan berbalik, Lucas Moura berhasil mencetak tiga gol, dan gol terakhirnya tercetak menit ke lima di masa injury time. Gol ini membawa Tottenham Hotspur akan berhadapan dengan Liverpool di final Liga Champions 2018-2019.

Dua tim yang sama-sama merindukan gelar memberikan inspirasi untuk terus berjuang walaupun berada di bawah tekanan seberat apa pun.

Reformasi Pajak, Belajar dari Inspirasi Kemenangan

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebagai institusi penghimpun penerimaan negara adalah organisasi yang terus berkembang. Para ahli manajemen menjelaskan organisasi bisa diumamakan seperti makhluk hidup, mempunyai saat kelahiran, berkembang, menjadi dewasa dan bisa juga mati. Perubahan adalah salah satu jalan untuk tetap berada dalam tahap kedewasaan dan memberikan yang terbaik bagi bangsa.

Perubahan di DJP telah dilakukan berulang-ulang kali, mulai dari skala kecil sampai dengan skala besar yang dinamakan Reformasi Perpajakan. Salah satu perubahan yang sangat epic adalah Reformasi Perpajakan Tahap Pertama atau disebut juga dengan modernisasi perpajakan. Di tengah gelombang pesimisme terhadap perubahan yang dilakukan DJP saat itu, organisasi yang mempunyai jumlah pegawai sekitar 45 ribu pegawai ini membuktikan kemampuannya menghadapi tantangan.

Organisasi ini berhasil mengembalikan kepercayaan para pegawainya kepada kebaikan berupa nilai-nilai organisasi yang melekat pada kehidupan pekerjaan sehari-hari. Ibarat tim bola yang semula dianggap gagal menata organisasi, DJP membuktikan bisa comeback mengatasi tantangan-tantangan yang dianggap sulit untuk diatasi. Modernisasi yang diikuti oleh seluruh organisasi pada tahun 2008 ini memberikan beberapa bukti. Salah satu buktinya adalah DJP mendapatkan nilai 8,18 dari skala nilai 10 untuk Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  pada tahun 2010. Penilaian ini menggunakan tujuh indikator yaitu kode etik, peningkatan transparansi dalam manajemen SDM, peningkatan transparansi dalam pengadaan, peningkatan transparansi penyelenggara negara, peningkatan akses publik dalam memperoleh informasi unit utama, pelaksanaan rekomendasi KPK dan kegiatan promosi antikorupsi. Dari ketujuh indikator tersebut, DJP memperoleh peringkat pertama dalam hal penilaian kode etik (nilai 9,73), penilaian promosi anti korupsi (nilai 9,82) dan peningkatan akses public dalam memperoleh informasi unit utama (nilai 9,62).

Survei integritas sektor publik yang juga dilakukan oleh KPK pada tahun 2011 adalah bukti yang lain. DJP memperoleh nilai total integritas sebesar 7,65 dari skala nilai 10 dalam pelayanan penyelesaian permohonan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP). Nilai ini jauh lebih tinggi dari nilai rata-rata 15 unit layanan (6,40) dan standar minimal integritas yang ditetapkan KPK (6,0). Selain itu terdapat juga Survei Indeks Kepuasan Layanan Wajib Pajak Tahun 2011 oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) di mana DJP memperoleh skor 3,79 dari skala 4.

Laksana tim bola yang comeback meraih keberhasilan setelah berada dalam masa yang suram, DJP membuktikan kemampuannya mengelola kepercayaan yang telah diberikan masyarakat dan negara.

Kembali

Saat ini tantangan yang diterima DJP semakin besar. Salah satunya berhubungan dengan tax ratio yang masih rendah. Oleh karenanya, DJP kembali berada dalam proses reformasi perpajakan. Salah satu aturan yang mendukung jalannya reformasi tersebut adalah Peraturan Presiden (Perpres) No. 40 tahun 2018 tentang Pembaruan Administrasi Sistem Perpajakan. Lima pilar di DJP yang harus direformasi adalah organisasi, SDM, peraturan perundang-undangan, proses bisnis, serta teknologi informasi dan basis data.

Keberhasilan DJP mengatasi tantangan perubahan ini tidak terlepas dari dukungan seluruh pihak. Ibarat tim bola yang mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari penggemar, pelatih dan pemilik klubnya, maka kemampuan mereka terdorong untuk mencapai hasil maksimal. DJP pun memerlukan dukungan untuk kembali meraih keberhasilan seperti yang pernah dialami sebelumnya.

Bola telah dipersiapkan, manajer telah menujukkan strategi, dan pemain sudah menuju lapangan. Pertanyaannya sekarang, kapan kah pertandingan itu dimulai?

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.