Berubah! Siapa Takut?

Oleh: Tomi Hadi Lestiyono, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Berubah!
Mendengar kata ini kebanyakan ingatan kita langsung tertuju pada tokoh superhero era 90an Ultraman. Ya benar, Ultraman harus berubah untuk menyelamatkan dunia dari serangan berbagai monster.
Demikian juga halnya pada saat kita menyikapi perubahan. Robert Pakpahan pada saat membuka acara Rakorsus KP2KP 2018 di Makassar (8/5/2018) mengatakan "Arah reformasi, arah law enforcement harus dipahami benar-benar. Direktorat Jenderal Pajak sudah berjilid-jilid melakukan reformasi. kondisi ini sudah lazim dan akan terus berlangsung. Digitalisasi telah mengubah landscape ekonomi dunia termasuk Indonesia. Kita harus bereaksi dan berubah."
"Kita harus berubah (change), memperbaiki diri (reform), dan berkomitmen (engaged) supaya bisa memberikan bakti terbaik kepada ibu pertiwi. Proses change, reform, and engaged ini akan terus berputar dan berulang terus menerus sejalan dengan dinamika institusi sebesar DJP," ujar Hestu Yoga Saksama, Direktur P2Humas di acara yang sama. Memang kita tahu bahwa perubahan-perubahan itu sudah kita rasakan, alami, dan nikmati, tapi apakah kita siap menerima perubahan? Apakah kita berani mengikuti perubahan? Bagaimana pun perubahan pasti akan mengusik zona nyaman seseorang. Minimal akan membuat yang sudah menjadi kebiasaan menjadi hal baru yang harus dipelajari.
Salah satu hal yang membuat kita mendirikan benteng penghalang dalam menyikapi datangnya perubahan adalah rasa tidak percaya diri. Bisa gak ya? Aku kan sudah lama gak belajar? Dan seterusnya. Yang kedua adalah ketakutan adanya resiko yang mengusik zona nyaman, “Ah, nanti bikin repot“ , "Jadi lembur nih.." dan seterusnya.
Hal yang sama juga kami alami di KP2KP Sarolangun, sebuah kantor kecil di kaki langit provinsi Jambi perbatasan dengan Sumatera Selatan. Dengan kultur masyarakat yang penuh keterbatasan dan Sumber Daya Manusia yang sangat terbatas, kami menghadapi perubahan berupa digitalisasi pelaporan pajak berupa e-filing. Pada awalnya kami ada rasa tidak percaya diri, bisa gak ya mengubah kultur budaya lapor pajak "manual" menggunakan kertas menjadi e-filing yang “paperless”.
Mengutip kata-kata mutiara Buya Hamka, salah satu sastrawan besar Indonesia, “Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua."
Berbekal semangat dan rasa percaya diri setelah seluruh pegawai dibekali ilmu yang cukup tentang e-filing oleh Kepala Kantor dan keyakinan bahwa e-filing nanti akan banyak memberikan kemudahan baik bagi wajib pajak maupun petugas pajak, maka akhirya KP2KP Sarolangun dengan raya percaya diri fokus melakukan perubahan dengan melakukan edukasi kepada wajib pajak untuk merubah pelaporan SPT Tahunan 2017 seluruhnya menjadi e-filing. Memang tidak mudah mengingat banyak wajib pajak yang telah menggunakan telepon pintar tetapi hanya sebatas aktivitas sosial medianya saja.
Masyarakat belum teredukasi bahwa telepon pintarnya dapat digunakan untuk hal-hal lain selain sosial media, terutama pelaporan pajak melalui e-filing. Dengan bahu membahu seluruh karyawan dan pimpinan terjun melakukan edukasi melalui kelas pajak pelaporan e-filing dengan menggunakan telepon pintar. Hari demi hari selalu dilalui dengan edukasi, kelas demi kelas kita lalui, satu demi satu masyarakat mulai mengetahui bahwa begitu mudahnya lapor pajak sehingga kami minta untuk secara estafet WP yang sudah paham cara e-filing SPT untuk mengajarkan lebih lanjut kemampuannya kepada minimal rekan kerja, bawahan atau atasannya dan keluarganya. Kami yakinkan bahwa kami sebagai petugas pajak akan selalu siap jika ada kesulitan untuk mendampingi mereka.
Dan akhirnya di akhir bulan penerimaan SPT Tahunan 2018, KP2KP Sarolangun ternyata berhasil menyumbang penerimaan SPT e-filing tertinggi di wilayah KPP Pratama Bangko dan KPP Pratama Bangko meraih prestasi sebagai KPP dengan penerimaan SPT melalui e-filing tertinggi se-Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi.
Berkaca dari pengalaman di atas, kita jangan takut menghadapi perubahan. Perubahan harus disikapi dengan gembira, disambut dengan sukacita secara bersama-sama. Pimpinan harus menjadi patner pendamping dan pembimbing yang baik kepada bawahannya. Jangan minta bawahan berubah sedangkan pimpinannya hanya meminta hasil tanpa ikut turun gunung belajar dan bekerja bersama anggota timnya. Menyikapi perubahan akan terasa ringan saat dilakukan secara bersama-sama. Pada saat melakukan perubahan jangan muluk-muluk. Lakukan dari hal-hal terkecil dulu, fokus pada target jangka pendek, dan lakukan secara bertahap dan berkesinambungan.
Jadi tunggu apa lagi, berubah yuk kayak Ultraman.(*)
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.
- 450 kali dilihat