Oleh: Mochammad Bayu Tjahono, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Ada yang pernah dengar tentang Payakumbuh? Mungkin kota kecil di bagian timur laut Sumatera Barat ini cukup jarang terdengar dibandingkan kota-kota lainnya di Sumatera Barat, seperti Padang dan Bukittinggi. Kota tempat saya belajar ini awalnya merupakan bagian dari Luhak Limo Puluah Koto -salah satu dari tiga daerah tertua di Minangkabau-, dan menjadi pusat pemerintahan Luhak Limo Puluah Koto dari masa ke-masa. Sempat menjadi ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota, tapi sekarang sudah berstatus sebagai kota dengan pemerintahan sendiri. Oleh karena itu, orang-orang yang berkunjung ke Kabupaten Lima Puluh Kota masih menyebutnya pergi ke Payakumbuh.

Untuk mencapai kota tersebut dari Jakarta kita bisa melalui kota Padang atau Pekanbaru. Hari Rabu pagi itu saya mencoba melalui kota Pekanbaru. Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam tibalah saya di kota Payakumbuh. Saya langsung menuju Kantor Pelayanan Pajak Pratama Payakumbuh.

Sesampai di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Payakumbuh, saya sudah ditunggu oleh Kepala Seksi Ekstensifikasi, Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, dan dua orang Account Representative. Tidak menunggu waktu yang lama, kami langsung berangkat menuju tempat sosialisasi dengan peternak ayam.

Dalam perjalanannya kami menyempatkan diri melihat Lembah Harau, sebuah tempat wisata yang membuat kagum mata ini. Hamparan lembah yang hijau, dikelilingi sawah, dan beberapa air terjun. Saya terkagum-kagum dengan melihat tebing dari bukit-bukit yang ada, seolah-olah dipahat oleh tangan raksasa.

Sambil menikmati pemandangan, Kepala Seksi Ekstensifikasi KPP Pratama Payakumbuh bercerita tentang perjuangannya mengumpulkan peternak ayam ini. Butuh waktu sampai enam bulan untuk mengenal dan mengumpulkan para peternak ayam, tidak jarang mereka ditolak ketika hendak melakukan visit. Setelah melalui beberapa pertemuan, akhirnya mereka mau untuk dilakukan sosialisasi tentang perpajakan secara bersama.

Berdasarkan data sensus pertanian oleh BPS, jumlah ayam petelur mencapai 4,4 juta sedang ayam potong mencapai 12,3 juta. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang tertinggi di seluruh provinsi Sumatera Barat, sedangkan produksi telur mencapai 75 ton. Dari data tersebut pihak KPP Pratama Payakumbuh melakukan simulasi pajak yang terutang. Untuk mempermudah dalam pengawasan dan pelaporannya, perhitungan pajak yang terutang berdasarkan jumlah ayam yang dimiliki oleh peternak.

Mendengar penjelasan yang terperinci membuat saya jadi terkagum. Setelah dilakukan analisa oleh Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, dalam meningkatkan kepatuhan formal dan material diperlukan beberapa langkah, yaitu :

1.    Segmentasi usaha, diperlukan untuk lebih menganalisa permasalahan yang ada, karena setiap segmen mempunyai permasalahan yang berbeda.

2.    Meningkatkan pengetahuan wajib pajak, pengetahuan akan perpajakan menjadi faktor yang penting dalam kepatuhan. Peningkatan pengetahuan ini dilakukan dengan sosialisasi dan diskusi, dan pemberian solusi yang tepat. Banyak wajib pajak yang tahu akan kewajibannya tetapi mereka sering kali tidak mengerti bagaimana cara menghitung dan melaporkan kewajiban perpajakan tersebut.

3.    Pemberian pelayanan, pelayanan yang ramah akan membuat wajib pajak tidak takut untuk datang ke kantor pelayanan pajak.

4.    Pemeriksaan, tindakan pemeriksaan juga perlu dilakukan, bukan untuk menakut-nakuti tetapi lebih kepada memberikan efek jera dan kepastian hukum.

“Dari hasil perhitungan kami, ada tambahan penerimaan yang cukup signifikan, tetapi lebih penting lagi kepatuhan akan makin meningkat,” cerita Kepala Seksi Ekstensifikasi. “Kepatuhan yang meningkat akan meningkatkan penerimaan dan tax ratio," imbuhnya lagi.

Belum selesai cerita dari mereka berdua, kami sudah sampai di lokasi sosialisasi, telah berkumpul 50 wajib pajak peternak ayam yang siap diberikan sosialisasi. Waktu sosialisasi selama 60 menit terasa kurang dengan melihat antusiasme peternak untuk mengetahui apa itu pajak dengan jelas. Tidak ragu mereka bertanya bila ada penjelasan yang masih membuat mereka ragu.

Melihat peristiwa hari ini rasanya perjalanan saya tidak sia-sia. Selain melihat pemandangan yang menakjubkan saya juga mendapat ilmu bagaimana cara meningkatkan kepatuhan. Selama ini kami hanya sosialisasi dan sosialisasi tanpa membuat evaluasi dan tindak lanjut. Ternyata sosialisasi juga membutuhkan strategi, selain segmentasi juga perlu tindak lanjut pasca pelaksanaan sosialisasi, sehingga tujuan untuk meningkatkan kepatuhan bisa tercapai.

"Saya berharap pemerintah membangun jalan yang memadai di daerah ternak ayam, sehingga memudahkan peternak untuk mendistribusikan hasil ternaknya baik berupa telur maupun daging ayam," harapan salah seorang peternak ayam di akhir sesi tanya jawab.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.30, kami harus kembali ke KPP Pratama Payakumbuh. Senyum puas para peternak ayam membuat letih kami lenyap semua. Hari ini saya benar-benar mendapat pelajaran dan pengalaman yang berharga. Masih ada waktu satu hari lagi untuk saya menikmati wisata kota Payakumbuh.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.