Oleh:  Devid Marthin, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Pulau Cinta Gorontalo, mungkin banyak dari kita yang kurang familiar dengan tempat ini, mungkin yang tidak asing bagi kita adalah kata “Gorontalo”. Banyak dari kita hanya mengenal Provinsi Gorontalo. Provinsi Gorontalo adalah provinsi pemekaran dari Sulawesi Utara, sebelumnya Gorontalo adalah Kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, setelah melalui perjuangan panjang maka terbitlah UU No. 38 Tahun 2000 tanggal 22 Desember 2000, maka Gorontalo secara resmi menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia. Gorontalo juga berjuluk sebagai "Kota Serambi Madinah" ini terletak di utara Pulau Sulawesi dan berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Sulawesi Utara bagian barat. Dan di Kota Gorontalo juga berdiri Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Gorontalo, di Kabupaten Pohuwato juga ada Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Marisa dan Kabupaten Gorontalo ada KP2KP Limboto yang merupakan garda depan pelayanan perpajakan untuk masyarakat Provinsi Gorontalo.

Kembali ke pulau bernama Cinta, Pulau Cinta Gorontalo dikenal pula dengan nama "Pulo Cinta Boalemo", merupakan sebuah pulau mungil yang terletak di Teluk Tomini, Boalemo. Untuk mencapai “Pulo CInta”, harus menggunakan jalur darat dari Kota Gorontalo ke Kabupaten Boalemo yang ditempuh kurang lebih selama dua jam perjalanan. Dari Bualemo menuju Pantai Bolihutuo, kemudian dari pantai ini dilanjutkan dengan menggunakan kapal nelayan (boat) selama hampir 15 menit ke Pulau Cinta.

Menurut banyak catatan dan keterangan resmi dari Pemerintah Daerah setempat, hikayat Pulau yang berbentuk seperti hati dengan pasir putih dan air laut yang sangat jernih ini dimulai karena cinta. Perjalanan Cinta di pulau eksotis ini diawali oleh dua orang kekasih yang berbeda ras, suku, dan agama pada masa peperangan Gorontalo. Cinta yang tak direstui dari sang pangeran dari Kerajaan Gorontalo dengan seorang gadis yang merupakan anak Pedagang VOC dari Belanda. Karena suku, agama, dan ras masih menjadi tolak ukur utama masa itu, maka jelas hubungan dua insan ini tidak mendapat restu dari kedua orangtua mereka. Perjalanan cinta tersembunyi kedua anak manusia inilah yang menjadikan pulau ini sebagai tempat bertemu untuk memadu kasih, jauh dari larangan dunia akan cinta mereka.

Hembusan cinta memang begitu terasa ketika kaki menginjakkan pulau indah ini. Pemandangan laut yang begitu jernih, pasir putih, alami. Pemandangan di Pulo Cinta ini seperti percikan cinta dari surga yang terdampar di Bumi Indonesia. Pulau dengan seribu cerita keromantisan yang memang layak diberi nama Cinta, kita dapat menikmati panorama terbit dan terbenamnya matahari di Teluk Tomini dari Pulau Ini.

Romantisme dan cinta dari pulau inilah yang mungkin hinggap sampai ke para punggawa KPP Pratama Gorontalo dibawah komando Ahmad Tirto Nugroho dengan kekuatan 95 (Sembilan Puluh Lima) Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Pajak. Semangat Cinta dari Pulo CInta seakan menjadi tujuh warna pelangi untuk KPP Pratama Gorontalo. KPP Pratama Gorontalo adalah salah satu KPP Pratama yang sering menorehkan prestasi baik secara nasional maupun regional. Mungkin karena dipenuhi romantisme dan cinta sehingga KPP Pratama Gorontalo pada tahun 2017 menghasilkan banyak prestasi gemilang karena berhasil menempati posisi kedua dalam hal pencapaian penerimaan serta posisi utama dalam pencapain kepatuhan di wilayah kerja DJP Sulutenggomalut.

Sampai dengan 15 April 2018, KPP Pratama Gorontalo mendapat amanah target penerimaan pajak Rp1.000.431.284.000,- dengan pencapaian Rp782.381.298.513,- (atau 78,2 % dari target penerimaan pajak 2018). Semoga dengan semangat cinta dari Pulo CInta akan selalu menanungi insan DJP di KPP Pratama Gorontalo untuk bisa mencapai target penerimaan pajak di tahun 2018.

Mungkin pesan cinta dari pulo cinta untuk kita para punggawa DJP yang mendatangkan cinta di tempat tugas kita adalah pahlawan yang bisa membangun DJP menjadi lebih baik lagi sebagi tulang punggung utama tegaknya negeri ini. Karena menciptakan aura cinta di lingkungan kerja kita sesungguhnya sesuatu yang gampang dan mudah dilakukan. Jika kita menerima penempatan dengan suka cita, kemudian menjalani tugas penempatan dimana saja tanpa keluhan, menjalani tugas bukan sekedar rutinitas tapi sebagai bagian cinta kepada negeri ini, maka di sepanjang waktu kerja, kita akan merasa hidup jauh dari rumah itu sama seperti rumah, penempatan sejauh apapun tetap feel like home. Tidak akan ada kesulitan di tempat tugas, semua akan terlihat sebagai perjalanan yang menyenangkan.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.