Berselancar di Atas Tekanan

Oleh: Mochammad Bayu Tjahono, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Di tengah iklim bisnis dunia yang belum cerah dan selesai pergelaran pesta demokrasi, beberapa perusahaan mampu menjadi pencipta nilai. Dalam mengambil keputusan setiap perusahaan pasti akan menimbulkan dampak, seperti halnya bila kita berinvestasi besar untuk kepentingan jangka panjang pasti kita akan mengorbankan kepentingan jangka pendek. Pemerintahan yang saat ini fokus dalam membangun infrastruktur, dengan tujuan jangka panjang juga menimbulkan dampak pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Keberadaan infrastruktur diharapkan nantinya bisa memperlancar konektivitas antar daerah, sehingga menurunkan biaya logistik yang dapat mendukung daya saing nilai ekspor Indonesia.
Hasil kajian IMF menunjukkan dalam empat tahun ke depan pertumbuhan Indonesia bisa mencapai 5,4% dengan pangsa pasar 2,8% dan produk domestik bruto (PDB) per kapita sebesar US$ 5.120. Dengan pembangunan jangka panjang yang dilakukan pemerintah, peringkat Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi akan terus naik. Bila di tahun 2000 ada di posisi 13, kemudian di tahun 2015 di peringkat 7, diharapkan di tahun 2023 kita bisa di peringkat 5 atau 4 dengan mengalahkan Rusia, Brasil, Inggris, dan Prancis.
Efek kebijakan pemerintah di lima tahun terakhir menyebabkan kenaikan PDB, selain infrastruktur kebijakan tax holiday untuk 18 sektor usaha. Lalu, perbaikan kemudahan berusaha alias ease of doing business (EoDB) dan iklim investasi, penerapan online system submission (OSS), industri 4.0, serta super deductible tax bagi pendidikan vokasi membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil.
Tantangan kondisi ekonomi yang belum cerah membuat para eksekutif perusahaan harus mampu meraih pertumbuhan usaha dan profitabilitas, serta diversifikasi bagian. Ujung dari semua ini adalah memberikan capital gain atau dividen yang baik kepada stakeholder. Meski yang indah tidak selalu terlaksana dengan baik, sehingga tidak semua perusahaan mampu menghadapi tekanan ekonomi saat ini. Apalagi dengan perubahan teknologi yang cepat, antisipasi harus cepat dilakukan bila tidak maka akan tergerus oleh zaman.
Karena itu perhargaan bisa kita berikan kepada perusahaan yang mampu membuat suatu nilai, atau berbuat sesuatu dikala tekanan datang begitu kompleks. Pengukuran kinerja perusahaan melalui stern value management ini bertujuan untuk melihat berapa nilai yang diciptakan untuk pemegang saham berupa capital gain. Apabila total return untuk pemegang saham lebih besar dari cosf of equity maka wealth added index perusahaan akan menjadi positif atau baik.
Total Wealth Added Index (WAI) yang dicapai perusahaan di Indonesia mencapai lebih dari Rp5.000 triliun, meski hanya 26 perusahaan yang positif. Hal ini sangat menggembirakan mengingat kondisi makro ekonomi yang kurang kondusif. Perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang tipis dibanding tahun lalu, sementara ekonomi dunia dipengaruhi oleh perang dagang Amerika dan Cina.
Tak mengherankan persepsi investor masih negatif di pasar modal, sehingga mereka melepas sahamnya. Di akhir tahun 2018 Indeks Harga Saham Gabungan merosot 2,54%, ditutup di 6.194 poin sedang di akhir 2017 sebesar 6.355 poin. Sektor perbankan masih dominan di WAI yang positif, BCA, BRI, Mandiri dan BNI menghasilkan konsistensi Rp100 triliun. Secara umum sektor perbankan memang dalam kondisi yang stabil sejak 2018.
Sektor produk consumer (pengahasil kebutuhan konsumen) juga menunjukkan kestabilan, seperti Unilever, Gudang Garam, Indofood Sukses Makmur, Mayora dan Japfa Comfeed. Sedangkan sektor konstruksi masih cenderung negatif, meski pemerintah menggalakan pembangunan infrastruktur. Mungkin karena yang dibangun adalah fasilitas umum dengan jangka waktu konsensi lebih dari 20 tahun sehingga kurang menimbulkan capital gain yang bagus bagi pemegang saham.
Meskipun WAI positif namun jumlah perusahaan yang mampu menciptakan kekayaan yang besar bagi pemegang saham masih sedikit. Ini merupakan tantangan bagi manajemen, sehingga saat ini dibutuhkan manajemen yang benar-benar mampu berselancar di atas tekanan dengan gagahnya.
Peran Pajak
Pandangan akan pajak dalam dunia ekonomi masih dipandang negatif, bahkan ada yang berpendapat bahwa pajak menghambat pertumbuhan ekonomi. Pandangan ini mungkin terlontar dari mereka yang tidak mampu keluar dari tekanan ekonomi. Bila kita telusuri lebih dalam pajak sangat berperan membantu manajer untuk berjuang menghadapi tekanan persaingan global. Pembangunan infrastruktur jalan yang dibiayai dari pajak turut membantu pelaku ekonomi dalam memangkas biaya transportasi. Berkurangnya biaya transportasi juga akan membuat barang tersebut kompetitif dipersaingan global.
Akses transportasi menjadi kunci dalam persaingan usaha, jangka waktu yang pendek, dan kemudahan dalam mendapat supply barang menjadi kunci menjaga tingkat harga dan kualitas barang. Di satu sisi pajak juga dapat menjadi ujian bagi manajemen dalam menjaga pertumbuhan usaha dan profitabilitas tetap dalam jalan yang benar. Jangan sampai bahwa manajemen tersebut memberikan kesenangan atau kemenangan sesaat dengan melakukan manipulasi pajak. Kenapa dinamakan kemenangan sesaat? Karena bila nanti didapati kecurangan pajak maka sanksi yang diperoleh akan semakain besar sehingga tingkat pertumbuhan dan profitabilitas perusahaan jadi terganggu.
Tax holiday atau fasilitas pajak yang diberikan hendaknya bukan menjadikan manajemen terlena akan kesehatan sesaat perusahaan. Pemberian fasilitas ini hendaknya menjadi pemacu manajemen untuk lebih meningkatkan usahanya karena kesehatan yang ada semata-mata didorong oleh vitamin berupa pajak, bukan kesehatan alami.
Good Corporate Governance
Aspek good corporate governance mempunyai peran yang sangat penting, disamping tuntutan untuk mencetak profit dan pertumbuhan usaha, kemudian investasi jangka panjang dengan tidak mengorbankan kepentingan jangka pendek. Manajemen perusahaan seyogyanya terus meningkatkan tata kelola perusahaan demi kepercayaan dari investor.
Fokus pada penciptaan nilai dan penerapan good corporate governance akan membantu perusahaan mencetak WAI positif. WAI ini sendiri adalah merupakan indikator bahwa perusahaan dapat menghasilkan kelebihan kekayaan di atas return minimal yang diharapkan dari para investor. Banyak perusahaan yang telah membuktikan penerapan good corporate governance, terutama di bidang perbankan.
Situasi perang dagang antara Cina dan Amerika memang masih menimbulkan kecemasan, namun di dalam negeri dengan berakhirnya pemilihan presiden, pengusaha berharap situasi ekonomi kembali stabil. Kestabilan ekonomi dan pembangunan infrastruktur diharapkan dapat mampu membantu perusahaan menciptakan good corporate governance, sehingga perekonomian dapat tumbuh dengan bagus. Perekonomian yang bagus akan membantu pengembangan tax base atau jumlah Wajib Pajak yang membayar pajak akan meningkat. (*)
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.
- 613 views