Obat Rindu, Ya Ketemu

Oleh: Mochammad Bayu Tjahono, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak 

Setelah menyibukkan diri dengan semua pekerjaan kita, kadang timbul rasa rindu dengan keluarga dan orang tua. Momen lebaran menjadi saat yang tepat untuk melepas semua kerinduan. Rindu rumah seringkali membuat tersiksa, apalagi saat kamu tak bisa pulang dan berpelukan. Meski sekarang, rasa rindu bisa sedikit diobati dengan telepon genggam. Kita bisa telepon orangtua, keluarga, atau saudara untuk sekedar melepas rindu. Namun pertemuan dengan bertatap muka tetaplah lain rasanya.

Setiap lebaran selalu dimanfaatkan oleh umat Islam untuk pulang kampung. Selain melepas rasa rindu akan kampung halaman dan keluarga, hal ini juga dimanfaatkan untuk menyambung tali silaturahmi. Ada hadis yang menyatakan, "Barang siapa yang ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya hendaklah menghubungkan rahimnya (bersilaturahim)." Bahkan Nabi sangat keras bagi orang yang memutuskan hubungan, "Tidak akan masuk surga pemutus (silaturahim)."

Hal di atas yang membuat orang rela mengeluarkan dana dan waktu lebih untuk menyambung tali silaturahmi. Perbedaan nuansa lebaran di kampung halaman menjadi momen yang sangat dirindukan bagi para pemudik. Suasana berkumpul dengan saudara-saudara jauh yang berada di kampung halaman menambah rasa rindu para pemudik. Semua saudara yang berasal dari jauh berkumpul.

Mudik tahun 2018 ini pemerintah memberikan fasilitas lebih, yaitu libur lebih panjang, jalan tol lebih panjang, dan diskon tol yang lebih. Pembangunan jalan tol dilakukan pemerintah untuk mempermudah masyarakat pulang ke kampung halamannya dengan waktu tempuh yang lebih pendek. Beberapa masyarakat sudah merasakan manfaat akan jalan tol dan mereka sadar bahwa jalan tol yang dibangun pemerintah berasal dari pajak.

Senyum di wajahku terus mengembang tatkala mendengar komentar pemudik yang puas dengan fasilitas yang dibangun pemerintah. Tidak sia-sia rasanya kita bekerja menghimpun pajak dari masyarakat. Janji pemerintah untuk membangun tol trans Jawa dan Sumatera sudah mulai menampakkan hasil, belum lagi pembangunan bandara.

Pembangunan fasilitas jadi mempermudah dan menghemat waktu dan biaya untuk mudik. Bisa kita bayangkan berapa bahan bakar yang dihemat apabila waktu tempuh menjadi lebih pendek. Tiap tahun jumlah pemudik selalu meningkat jika di tahun 2016 mencapai 18 juta, di tahun 2018 ini diprediksi mencapai 19,6 juta.

Jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua ataupun empat juga mengalami kenaikan sekitar 5 %. Jika dahulu waktu tempuh ke Jawa Tengah bisa mencapai 14 sampai 20 jam sekarang bisa ditempuh hanya 7 sampai 10 jam. Waktu tempuh yang relatif singkat ini mengurangi biaya bahan bakar yang cukup signifikan.

Pendeknya waktu tempuh nantinya juga diharapkan dapat menghambat laju pertumbuhan harga bahan pokok, karena distribusi barang yang dahulunya memakan biaya banyak saat ini dapat ditekan lebih hemat, dan diharapkan akan memiliki efek positif untuk perekonomian Indonesia. Pembangunan infrastruktur tidak hanya dilakukan di Jakarta saja, seperti pembangunan MRT yang saat ini masih terus berjalan, namun di era pemerintah saat ini, sangat gencar membangun infrastruktur di daerah lainnya, seperti jalan tol Trans Sumatera, jalur kereta di Sulawesi, pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara, dan pembangunan LRT Palembang.

Walaupun menurut Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro pembangunan infrastruktur di Indonesia ternyata masih sangat lambat dibandingkan beberapa negara tetangga, sehingga masih perlu kerja sama dari pihak pemerintah, swasta, dan seluruh lapisan masyarakat agar bisa terus melesat dan bisa memberikan efek positif bagi perekonomian.

Saat ini pembangunan infrastruktur sendiri diprioritaskan untuk lima sektor yaitu energi, transportasi, jalan tol, dan pembangunan jembatan yang sangat penting sekali untuk mampu menurunkan harga logistik, serta irigasi, dan perumahan. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro bahwa efek positif dari pembangunan infrastruktur terhadap perekonomian, yaitu : 

1. Produktifitas meningkat.

2. Menurunkan biaya produksi.

3. Memeratakan pembangunan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan.

4. Mengangkat sektor pariwisata.

5. Meningkatkan jaringan informasi dan akses pasar lebih baik lagi.

Pembangunan di sektor pariwisata setidaknya akan mendongkrak perekonomian di sekitarnya. Jika di tempat wisata punya fasilitas yang memadai, sanitasi baik dan bersih, jalan yang nyaman maka akan lebih banyak wisatawan yang datang ke tempat wisata tersebut, sehingga perekonomian warga sekitar menjadi lebih baik lagi, setidaknya mengurangi pengangguran. 

Jadi, pastinya sebagai warga negara yang baik harus membayar pajak untuk pembangunan infrastruktur yang lebih baik lagi. Dan pembangunan infrastruktur ini harus didukung dari segala aspek karena memerlukan proses yang panjang untuk menikmatinya dan dana yang tidak sedikit.

Mudahnya jalur tranportasi akan juga mempermudah mengobati rasa rindu kepada orangtua dan keluarga, serta mempererat jalinan silaturahmi dengan saudara dan keluarga.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.