Sinopsis Buku Cerita di Balik Reformasi Perpajakan

 

Oleh: Editor

Buku ini merekam perjalanan Reformasi Perpajakan JIlid III 2016—2020. Sejak mulai adanya amnesti pajak, pembentukan Tim Reformasi Perpajakan sampai pembentukan Tim Pelaksana Pembaruan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (PSIAP).

Buku ini disajikan dalam gaya narasi bertutur oleh para penulis internal DJP dan telah mewawancarai 47 narasumber internal dan eksternal DJP sebagai pelaku dan saksi hidup perjalanan reformasi perpajakan.

Buku ini terdiri dari 10 bab. Bab pertama merupakan pengantar bab-bab selanjutnya. Di dalamnya berisi sejarah reformasi perpajakan, amnesti Pajak, dan AEOI. Bab 2 membahas tentang pilar-pilar reformasi perpajakan dan bab 3 membahas tentang tengara (landmark) reformasi perpajakan.

Sedangkan bab 4 membahas tentang PSAP dan PSIAP, mulai  dari sejarah perubahan nama Tim Reformasi Perpajakan menjadi Tim PSAP kemudian munculnya Tim PSIAP dan Tim Pelaksana PSIAP.  Dan bab 5 menyajikan proses pengadaan yang terjadi untuk mendapatkan core tax system. Mulai soal penyiapan aturan pengadaannya, proses pengadaan, dan para pihak yang terlibat di dalamnya seperti Agen Pengadaan.

Bab 6 dan Bab7 mengetengahkan keterlibatan para pengampu kepentingan eksternal dan internal DJP dalam proses reformasi perpajakan ini serta upaya-upaya yang mereka lakukan dalam mendukung reformasi perpajakan.

Di Bab 8, buku ini menyajikan cerita reformasi perpajakan di tengah pandemi yang berfokus pada reformasi besar-besaran aturan perpajakan mulai adanya Perppu Nomor 1 Tahun 2020, UU Nomor 2 Tahun 2020, insentif dan fasilitas pajak, serta UU Cipta Kerja.

Sedangkan di bab 9 menghidangkan kepemimpinan para Direktur Jenderal Pajak yang mengawal Reformasi Perpajakan Jilid III dari masa ke masa, mulai Ken Dwijugiasteadi, Robert Pakpahan, sampai Suryo Utomo.

Bab 10 adalah penutup dari buku yang menegaskan bahwa pendokumentasian reformasi perpajakan ini tidak berhenti hanya sampai di buku ini saja. Reformasi perpajakan dan pendokumentasiannya masih terus berjalan. Apa selanjutnya yang akan dikerjakan di masa yang akan datang disertai harapan-harapan para pihak terhadap reformasi perpajakan.

Beberapa keunggulan buku ini untuk masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut.

Apa yang ada dalam buku ini tidak pasaran dan dituturkan oleh orang dalam, pelaku langsung, dan saksi hidup reformasi perpajakan sendiri. Dengan itu pembaca akan mendapatkan pemikiran asli dari para tokoh di balik reformasi perpajakan dan mengetahui alasan di setiap pengambilan keputusan.

Tentunya buku yang menyajikan kisah seru di level manajerial ini layak menjadi referensi dan teladan dalam reformasi birokrasi. Penyajian dan kemasannya membuat buku ini menarik untuk dibaca karena ditulis dan dikemas oleh pegawai DJP sendiri sebagai pihak yang turut berada dan mengayuh kapal besar reformasi perpajakan.

**

 

Judul Buku:
Reformasi adalah Keniscayaan, Perubahan adalah Kebutuhan: Cerita di Balik Reformasi Perpajakan

Penanggung Jawab:
Suryo Utomo

Pengarah:
Neilmaldrin Noor

Ketua Tim Penyusun Buku:
Ani Natalia

Sekretariat:
Riza Almanfaluthi, Agung Utomo, Arif Miftahur Rozaq, Bagas Satria Pamungkas, Farchan Noor Rachman, Nanang Priyadi, Rindawan Eko Prastyanto, Wiyoso Hadi

Penulis:
Abdul Hofir, Dhimas Wisnu Mahendra, Dwi Ratih Mutiarasari, Edmalia Rohmani, Endang Unandar, Fri Okta Fenni, Gitarani Prastuti, Herry Prapto, I Gusti Agung Yuliari, Indah Fitriana Astuti, Meirna Dianingtyas, Moh Makhfal Nasirudin, Netadea Aprina, Riza Almanfaluthi, Shinta Amalia, Sri Lestari Pujiastuti, Suyani, Tedy Iswahyudi

Penyunting:
Riza Almanfaluthi, Arif Miftahur Rozaq

Penguji-baca Halaman:
Hotma Uli Naibaho, Tri Juniati Andayani, Zeanette Ariestika Nursiwi

Fotografi:
Slamet Rianto, Arief Kuswanadji, Paruhum Aurora Sotarduga Hutauruk, Erwan Muslim Yusuf Raja, Aji Kusumo Ardi, Zuhal Tafta Ichtiari, Gabriela Diandra Larasati, Muhammad Ainul Yaqin

Desain dan Tata Letak:
Muchamad Multhazam, Arif Nur Rokhman, Ilham Fauzi, Putri Indra Permatahati, Muhammad Fadli, Afrizal Ghifari Akbar, Mukhamad Wisnu Nagoro, Reggy Novri Purwandhy, Alif Indra Ramadhan, Jundi Muhammad Himmatul Fuad, Adzhana Ahnaf Pratama, Muhammad Elang S., Achmad Khani Raikhan

 

Cetakan pertama, Juni 2021

 

Penerbit
Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan RI
Jalan Gatot Subroto, Kav. 40-42, Jakarta 12190
Telp (+62) 21-525-0208
ISBN 978-623-97203-1-5

 

Resensi Buku:

Mengabadikan Potret Reformasi, Resensi Buku: Cerita di Balik Reformasi Perpajakan

Oleh: Edmalia Rohmani, pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Ada yang istimewa di acara peringatan Hari Pajak tahun 2021 ini. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) secara resmi meluncurkan buku “Reformasi adalah Keniscayaan, Perubahan adalah Kebutuhan: Cerita di Balik Reformasi Perpajakan” tepat di tanggal 14 Juli 2021.

Buku ini memotret perjalanan sejarah DJP sejak Reformasi Perpajakan Jilid I di tahun 2000 sampai proses Reformasi Perpajakan Jilid III yang masih berlangsung hingga saat ini. Dibawakan dengan gaya bertutur yang menarik, buku ini ditulis oleh 18 penulis yang berprofesi sebagai pegawai DJP. Hal ini menjadikan buku tersebut menawarkan keintiman yang lebih kepada pembaca.

Narasumber yang dipilih untuk dilakukan wawancara juga tidak main-main. Sekitar 46 orang baik dari internal maupun eksternal menjadi rujukan. Bahkan, dua tokoh yang pernah menjadi orang nomor satu DJP turut memberikan bocoran kisah-kisah yang tidak banyak diketahui publik. Namun tenang saja, karena menggunakan gaya penulisan feature, buku ini dijamin tidak akan membuat kerut di dahi para pembaca.

Yang menarik dari pembuatannya, sebagian besar dari sesi pra-penulisan, wawancara narasumber, proses penulisan hingga naik cetak dilakukan secara daring di masa pembatasan fisik selama pandemi. Hal ini tentu memompa adrenalin dan memberikan tantangan tersendiri. Apalagi, tak semua penulis berada di satu kota yang sama. Waktu yang sempit di sela-sela pekerjaan yang padat dan sinyal yang kadang sulit diakses adalah ragam kisah tak terbaca dari lembaran-lembaran buku ini.

Sepuluh Bagian
Untuk memudahkan pembaca, buku ini dibagi menjadi sepuluh bab. Bab pertama menjadi semacam jembatan yang mengantarkan pembaca ke bab-bab berikutnya. Dalam bab ini menyajikan kisah Reformasi Jilid I, Jilid II, cerita-cerita di balik Amnesti Pajak, AEoI (Automatic Exchange of Information), hingga proses awal Reformasi Perpajakan Jilid III.

Bab kedua secara detail menguraikan bagaimana institusi DJP berusaha menegakkan lima pilar yang menjadi penopang reformasi. Lima pilar itu adalah organisasi, sumber daya manusia (SDM), sistem informasi teknologi dan basis data, proses bisnis, dan peraturan perundang-undangan. Menariknya, bab ini juga mengisahkan keterlibatan pihak di luar DJP yang ikut terlibat dalam menegakkan lima pilar tersebut.

Karena proses reformasi adalah perjalanan yang panjang dan memerlukan penanda haluan, bab ketiga hadir menuturkan pencapaian-pencapaian reformasi. Meski masih banyak pekerjaan rumah yang menuntut untuk diselesaikan, namun tak dapat dipungkiri tengara (landmark) ini menjadi pengingat bahwa DJP terus bergerak untuk menyelesaikan misi-misi reformasi.

Bab keempat meriwayatkan perjuangan modernisasi sistem informasi DJP yang mencakup keseluruhan fungsi inti administrasi perpajakan (core tax system) berhasil dieskalasi sampai ke pimpinan tertinggi negeri ini. Puncaknya, Peraturan Presiden (PP) Nomor 40 Tahun 2018 tentang Pembaruan Sistem Administrasi Perpajakan (PSAP) ditandatangani Presiden RI. Tak cukup di situ, bab ini juga mengisahkan pembentukan tim di dalam tim PSAP yang khusus didedikasikan untuk fokus mengerjakan core tax system yaitu tim Pembaruan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (PSIAP).

Bab selanjutnya menguak lima hal yang menjadikan pengadaan sistem inti administrasi perpajakan ini berbeda dari pengadaan-pengadaan DJP lainnya. Menurut salah satu narasumber, ini adalah salah satu proses pengadaan yang belum pernah dilakukan di dunia. Bahkan, saking spesialnya, proses pengadaan barang dan jasa mesti dibagi menjadi empat paket.

Tak melulu membahas core tax system, buku ini juga menangkap momen-momen koalisi reformasi dengan berbagai pihak di luar DJP seperti Presiden, para pejabat pemerintahan, para wakil rakyat, organisasi internasional, hingga para wartawan. Memang, sejatinya keberhasilan reformasi perpajakan di negara kita adalah urusan masyarakat luas dan bukan hanya DJP.

Selain kolaborasi dengan pihak luar, di sisi internal tentu banyak kisah yang layak diungkapkan. Bab tujuh menceritakannya dengan menarik dan unik, termasuk momen mendebarkan ketika Menteri Keuangan turut mendengarkan percakapan antara wajib pajak dengan agen Kring Pajak yang khusus melayani Tax Amnesty.

Organisasi yang paling kuat bertahan di masa terjangan badai adalah institusi yang memiliki daya resiliensi tinggi. Bab delapan menguraikan bagaimana DJP secara liat dan tangkas tetap bergerak maju memutar roda reformasi di tengah terpaan pandemi. Isu-isu strategis negara dikupas di sini, termasuk tentang lika-liku omnibus law yang sempat hangat dibicarakan hingga Undang-Undang Cipta Kerja yang akhirnya berhasil diterbitkan.

Dua bab terakhir menjadi pelengkap perjalanan bahtera reformasi. Bab sembilan mengetengahkan kisah para nakhoda yang memberikan komando selama mengarungi bahtera itu. Ken Dwijugiasteadi, Robert Pakpahan, dan Suryo Utomo merawikan masa-masa penuh gejolak di tiap-tiap fase reformasi yang menjadi pengampuannya.

Bab sepuluh menjadi bingkai bab-bab sebelumnya sekaligus memberi sinyal bahwa proses reformasi akan terus berjalan bahkan ketika SIAP sudah berjalan. Bab ini juga memberikan petunjuk kenapa bangsa kita harus merayakan "Hari Kemerdekaan Kedua" ketika hal itu terjadi. Bisa jadi, saat itu kita tak perlu lagi iri dengan warga negara Finlandia.

Ingatan adalah Sejarah
Menurut I. L. Peretz, ingatan manusia adalah sejarah. Sebagaimana seseorang yang hidup tanpa ingatan, orang-orang yang hidup tanpa memiliki sejarah takkan bisa berkembang dengan bijak dan lebih baik.

Sayangnya, ingatan manusia tak sepanjang umur peradaban. Ia kadang tenggelam dalam riuh peristiwa yang silih berganti mengisi bingkai potret negeri. Hanya pena dan aksara yang mampu memerangkapnya. Dan seketika kerja-kerja nyata itu menjadi abadi. Selamat membaca dan menjadi saksi dari keabadian potret sejarah reformasi kami!
 

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.