Oleh: Dhimas Wisnu Mahendra, pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Presiden RI Joko Widodo mengungkap momentum genting nan menentukan keselamatan bangsa dan Negara, tatkala Outbreak mengglobal Covid-19 mulai memasuki wilayah Republik Indonesia, 2 Maret 2020.

Melalui siar Youtube Sekretariat Presiden pada Kamis, 26 Januari 2023, dalam Rapat Koordinasi Nasional Transisi Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi 2023, ia mengaku bahkan butuh tiga hari semedi dahulu sebelum memutuskan untuk tidak mengikuti upaya arus utama negara-negara lain yakni melakukan karantina. Keputusan beralasan, sebab taruhannya adalah kerusuhan massal.

Pemerintah bergerak cepat. Kementerian Kesehatan gencar mengomunikasi penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), membentuk gugus tugas, menetapkan berbagai protokol, dan membangun sinergi terutama dengan TNI dan Polri untuk bahu-membahu bertahan sembari memerangi pandemi. Kementerian Keuangan turut berperan penting dalam mengupayakan dan mengalokasikan dana besar tak hanya untuk tanggulangi Covid-19, tetapi juga bertahan dari gempur guncang ekonomi terdampak pandemi.

Kini tiga tahun telah berlalu. Setelah rakornas, Wakil Menteri Keuangan RI, Suahasil Nazara, melalui Facebook resmi mengungkap, Program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN), yang dicanangkan sejak tahun 2020 oleh pemerintah dan khusus dianggarkan dalam APBN untuk penanganan Pandemi Covid-19, pada tutup tahun 2022 lalu dinyatakan resmi berakhir.

Mengambil tajuk “Menuju Masa Normal, Anggaran PC-PEN Bertransisi”, dijelaskan betapa kepiawaian pemerintah mengorkestrasi pemanfaatan anggaran PEN 2020, dari semula Rp450,1 triliun meningkat Rp695,2 triliun dan terealisasi Rp575,9 triliun di tahun 2020.

Pemerintah mengucurkan Rp403,9 triliun di APBN 2021 yang kemudian meroket menjadi Rp744,9 triliun akibat mewabahnya varian Delta, hingga terealisasi di angka Rp655,1 triliun untuk PEN 2021. Inilah yang menjadi salah satu pengubah permainan yang menentukan keberhasilan penanganan pandemi sekaligus pemulihan ekonomi RI. Mengenang dinamika perjuangan tiga warsa mahaberat, patut kita mensyukuri, Indonesia kini berpeluang menyatakan diri “Bebas Covid-19” pada Februari 2023.

Dunia belum aman. Entah kebetulan atau tidak, di saat bersamaan, Indonesia “dijalari” hype terbaru. Adalah serial anyar HBO yang diangkat dari permainan konsol berjudul sama, The Last of Us, melalui aktor kawakan Christine Hakim yang berperan sebagai ahli mikologi Universitas Indonesia, dr. Ratna, tersibak tabir muasal wabah baru yang mengubah manusia menjadi zombi. Jamur Ophiocordyceps jadi musabab, meruyak dunia lewat konsumsi pangan berbaku tepung yang diproduksi di Indonesia!

Ingatan saya sontak melayang ke tahun 2011, ketika saya menulis artikel di laman Berita Pajak, “Ksatria Pajak versus Zombie Korupsi”. Saat itu saya mengangkat persamaan korupsi dengan wabah zombi ala kanibal Dewata Cengkar dalam kisah Aji Saka, yakni sama-sama berawal dari secuil daging yang tak semestinya dimakan.

Dua tahun kemudian, saya menulis naskah adaptasi dan menyutradarai pentas teater berjudul sama, dimainkan apik dengan sinergi dari lima bagian di Sekretariat Direktorat Jenderal Pajak. Mengatasi wabah zombi akibat virus korupsi, satu-satunya solusi penyelamat menurut kisah, adalah saripati dari pohon Pajak! Ya, Pajak! Di dunia nyata, faktor penentu keberhasilan program PC-PEN juga antara lain berkat kontribusi serta peran serta aktif warga negara melalui pajak yang mereka bayarkan, sehingga negara dapat berdaya dan memiliki resiliensi yang tinggi.

Nah, kali ini lebih serius. Satu hari sebelum rakornas, entah kebetulan lagi atau tidak, pada 25 Januari 2023, World Economic Forum (WEF) mengapung istilah baru ancaman dunia: Polycrisis! Melalui laporan Global Risk 2023, dilansir moneycontrol.com, tantangan berat tahun ini dikisar kenaikan harga pangan dan energi akibat perang Rusia dan Ukraina, naiknya biaya hidup, tekanan inflasi yang kian menggencet kondisi sosioekonomi, hingga emisi karbon meningkat pascapandemi, terbatasnya sumber daya alam, makanan, air, logam, mineral, yang kesemuanya itu disebutkan memuncak ke krisis multidimensional dan diproyeksi terjadi pada tahun 2030.

Tantangan belum berakhir. Normal Baru hanya sementara. Meski anggaran PC PEN di tahun 2023 tidak lagi ada, anggaran kesehatan tetap dialokasikan untuk pelayanan dan penanganan kesehatan non-Covid seperti stunting, TBC, kanker serviks, atau penyakit berbahaya lainnya. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, melalui evaluasi kinerja dan perancangan strategi khusus Kementerian Keuangan, menekankan APBN harus selalu fleksibel, didesain responsif mendukung program-program Kementerian/Lembaga serta pemerintah pusat dan daerah, untuk melindungi masyarakat, menjaga momentum pemulihan, dan mendorong pertumbuhan di era kenormalan yang baru.

Anggaran perlindungan sosial meningkat dalam dua tahun terakhir. Pembangunan infrastruktur yang strategis termasuk pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara tetap menjadi prioritas. Begitupun anggaran pertahanan, ketahanan pangan dan energi. Semua itu menjadikan semangat Kementerian Keuangan dalam semboyan “Nagara Dana Rakca” bermakna Penjaga dan Pengelola Penerimaan Negara menjadi terejawantahkan semakin nyata, bahwa kita tidak boleh gagal, dan harus terus berpacu dan beradaptasi menghadapi perubahan.

Sebagai penutup, tepat pada jam bersamaan artikel ini dituliskan, 27 Januari 2023, Menteri Keuangan lewat akun Facebook resminya menegaskan komitmen Kementerian Keuangan, melalui penandatanganan Kontrak Kinerja Tahun 2023, “Untuk terus menjadi pengelola keuangan negara dan APBN yang kredibel, tepercaya, dan selaras mendukung tujuan pembangunan Indonesia. Tahun 2023, Kemenkeu RI akan berfokus membangun perekonomian yang produktif, kompetitif, inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan untuk mendorong akselerasi transformasi ekonomi, dengan tetap mengoptimalkan pengelolaan keuangan negara.”

Kalau segenap komponen bangsa bersinergi optimis begini, rasanya, tantangan seberat apa pun, tentu dengan memohon doa restu dan pertolongan serta kemudahan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga bisa kita hadapi, atasi, dan lalui bersama. And certainly, this won't be .... The Last of Us! Semoga!

 

*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.