DJP Satukan Visi Komunikasi di Media Sosial via Workshop

Menurut data yang diperoleh dari wearesocial.com, pengguna internet secara aktif di Indonesia pada tahun 2016 berjumlah 88,1 juta, mencapai sepertiga dari total jumlah penduduk Indonesia. Dari 88,1 Juta pengguna tersebut, 88 juta diantaranya aktif di pelbagai media sosial. Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia juga terus meningkan, dengan angka hingga 21% pada tahun 2016.

Banyaknya pengguna internet dan media sosial menjadi sebuah peluang bagi Direktorat Jenderal Pajak untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi setiap kebijakan yang diambil dalam rangka meningkatkan pelayanan terhadap wajib pajak. Hal ini diterapkan dengan cara membuat akun media sosial khusus Direktorat Jenderal Pajak di berbagai platform media sosial, seperti facebook, twitter, youtube, dan instagram. Tidak hanya akun media sosial pusat saja, unit vertikal Direktorat Jenderal Pajak di daerah pun memiliki media sosial yang digunakan untuk melayani pemangku kepentingan di daerah masing masing.

Agar jalur komunikasi seragam dan pemanfaatan media sosial bisa berjalan optimal, Direktorat P2 Humas mengundang admin media sosial seluruh Indonesia untuk mengikuti workshop Pengelolaan Media Sosial di Ruang Theater 3 Gedung Utama Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, 22-23 November 2016. Acara ini, selain dihadiri oleh admin media sosial, juga diikuti oleh Kepala Seksi Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.

Dalam workshop ini, Ainun Chomsun, salah satu pakar pengelolaan media sosial di Indonesia, hadir dan memberikan matei mengenai urgensi beretika di media sosial. Di zaman yang hampir tidak mengenal batas ini, pemberlakuan media sosial sebagai perwakilan dari identitas manusia atau institusi menjadi penting. Oleh karena itu, beretika di media sosial harus hati-hati.

“Meskipun akun pribadi sebenarnya tidak mewakili institusi, tapi setiap post yang dibunyikan di media sosial oleh seseorang akan terasosiasi dari mana orang tersebut berasal. Kita tidak bisa menuntut masyarakat bisa memilah-milah setiap post mewakili institusi atau pendapat pribadi.”, ujar Ainun.

Setelah Ainun Chomsun, tiap-tiap perwakilan media sosial di Indonesia hadir dan memberikan paparan mengenai milestone dan karakteristik yang unik dari masing-masing media sosial. Pemateri pertama adalah Facebook Indonesia, yang menjelaskan konglomerasi media sosial yang mereka kelola, yaitu Facebook dan Instagram, beserta jejaring obrolan yang sedang merangkak naik yaitu Whatsapp. Facebook yang pernah terkesan kuno dan keterbaruannya tersendat mulai direstorasi dan menjadikan aplikasi facebook menjadi jejaring sosial paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Facebook Indonesia juga menjelaskan jejaring sosial instagram yang dibuat bertujuan agar penggunanya bisa berbagi mengenai pengalamannnya dalam bentuk visual.

Di hari kedua, Tim Media Sosial Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan berbagi cerita mengenai bagaimana cara mereka mengelola twitter dan menangani keluhan-keluhan di media sosial. Tim media sosial KLIP mengatakan bahwa konsistensi dan keseragaman adalah fokus utama dalam menjawab setiap keluhan dari para penggunanya.Setelah itu, hadir pula Agung Adi atau Goenrock yang berbagi tentang bagaimana cara membuat konten yang akan viral dalam bentuk video.

Setelah workshop ini, diharapkan setiap pengelola media sosial di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak akan memiliki jalur komando yang baik sehingga setiap pelayanan maupun edukasi wajib pajak dapat terlaksana dengan lancar. Selain itu, workshop media sosial ini akan menambah cara-cara pemberian informasi yang dibutuhkan Wajib Pajak sehingga lambat laun tujuan edukasi perpajakan akan tercapai.