Bertekad Sempurnakan Pelayanan, Ditjen Pajak Siapkan Tantangan Baru

Bertekad Sempurnakan Pelayanan, Ditjen Pajak Siapkan Tantangan Baru

Di 2016, Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) mendapatkan penghargaan Service Quality Award sebagai The Most Prestigious Service Quality Gold Award 2016 untuk kategori perusahaan penyedia layanan umum (Public Service Industries) yang mengungguli PT Kereta Api Indonesia, Kantor Pelayanan PLN, dan Kantor Samsat.

“Saya memberi tantangan di 2017 ini adalah bisa tidak Ditjen Pajak memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya menyamai bahkan mengungguli pelayanan yang diberikan perbankan atau perusahaan motor itu?” tantang Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Hestu Yoga Saksama saat membuka Acara Bimbingan Teknis Standardisasi Pelayanan pada Tempat Pelayanan Terpadu I Tahun 2017, di Kuta, Badung, Bali, (Senin, 15/5).

Menurut Yoga, hal itu bisa dilakukan asal punya kemauan yang kuat apalagi berdasarkan survei kepuasan pelayanan di 2015 skor Ditjen Pajak mendapatkan 3,21 dari skala 4 dan di 2016 menjadi 3,22. “Ini masih bisa ditingkatkan lagi,” kata Yoga.

Di hadapan 341 Kepala Seksi Pelayanan dari Kantor Pelayanan Pajak seluruh Indonesia, Yoga memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas target e-Filing yang sampai awal Mei 2017 sudah mencapai 105%. 

Seperti diketahui e-Filing adalah suatu cara penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) secara elektronik yang dilakukan secara daring dan real time melalui internet pada situs web Direktorat Jenderal Pajak (http://www.pajak.go.id) atau Penyedia Layanan SPT Elektronik atau Application Service Provider (ASP).

Selain pencapaian target e-Filing itu, Yoga juga memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Seksi Pelayanan yang telah bekerja keras menyukseskan Amnesti Pajak selama sembilan bulan. Karena menurut catatan Yoga, dari hampir satu juta peserta Amnesti Pajak hanya 116 pengaduan yang masuk, “Ini luar biasa sekali. Apalagi kerja kita dipantau langsung oleh Presiden,” tambah Yoga.

 

Reformasi Perpajakan

Dalam acara itu, Yoga sekaligus mengingatkan kepada seluruh peserta acara untuk memiliki kesadaran terhadap Reformasi Perpajakan yang sedang berjalan. “Setelah Amnesti Pajak, fokus kita adalah Reformasi Perpajakan. Apalagi pelayanan menjadi poin penting dalam reformasi ini,” kata Yoga.

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 885/KMK.03/2016 tentang Pembentukan Tim Reformasi Perpajakan, Yoga menjabat sebagai anggota Tim Pelaksana dalam Tim Reformasi Perpajakan.

Menurut Yoga, rasio pajak  yang tidak naik-naik, kepatuhan wajib pajak yang masih rendah, dan Ditjen Pajak yang belum menjadi institusi kuat, kredibel, dan akuntabel melatari mengapa Reformasi Perpajakan ini harus dilakukan. “Itu problem kita semua. Kita harus sadar kalau institusi kita ini punya masalah,” jelas Yoga. 

“Ada lima pilar perpajakan yang sedang dilakukan perubahan oleh Tim Reformasi Perpajakan mulai dari organisasi, sumber daya manusia, teknologi informasi dan basis data, proses bisnis, hingga peraturan perundang-undangan,” ungkap Yoga.

Tantangan di 2020 buat Ditjen Pajak adalah mencapai rasio pajak 14%. Tujuan jangka pendek Reformasi Perpajakan untuk mengamankan penerimaan 2017. “Ini bukan hal yang mudah dan banyak yang harus kita lakukan,” tambah Yoga.  

Kesadaran yang sama, soliditas, komitmen, dan konsistensi dari seluruh pegawai Ditjen Pajak sangat diperlukan dalam Reformasi Perpajakan ini. “Kita tak bisa terus menerus dengan masalah ini. Kita harus meningkatkan diri sendiri,” tutup Yoga.

#djpcepattepatpasti (RZ/*)