Kisah KPP Pratama Bandung Cibeunying, Pemilik Rekor Pertumbuhan Penerimaan Pajak

 

Tahun 2015, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mendapatkan amanah untuk mengumpulkan penerimaan negara sebesar Rp 1.294 triliun.

Angka ini tumbuh 31,4% dibandingkan realisasi penerimaan pajak tahun sebelumnya sebesar Rp 985 triliun.

Tingginya target pertumbuhan tersebut akhirnya dibagi ke seluruh unit kerja DJP sesuai dengan target penerimaan pajaknya masing-masing.

Salah satunya yang memiliki target pertumbuhan paling tinggi adalah Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bandung Cibeunying.

Dengan realisasi penerimaan sebesar Rp 1,4 triliun di tahun 2014, KPP Pratama Bandung Cibeunying mendapatkan target penerimaan pajak sebesar Rp 2,15 triliun di tahun 2015.

Itu artinya KPP Pratama Bandung Cibeunying harus mencapai pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 52%.

Menyadari tingginya target pertumbuhan yang harus dicapai, Kepala KPP Pratama Bandung Cibeunying, Andi Setiawan, segera menyiapkan strategi dari awal tahun.

“Kami mengikuti apel siaga di awal tahun dari Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Jawa Barat I bersama Pak Kepala Kanwil Adjat Djatnika, untuk segera melakukan percepatan-percepatan,” tutur Andi.

Menurut Andi, apel siaga tersebut penting untuk menanamkan keyakinan bagi unitnya dalam mencapai target penerimaan pajak. “Bila kita tidak yakin dengan apa yang akan kita lakukan, maka bisa jadi kita tidak akan berbuat apa-apa atau ragu-ragu dalam bertindak,” ungkapnya.

Selain menjalin koordinasi dengan unit kerja DJP lainnya melalui berbagai Rapat Koordinasi dengan Kanwil DJP Jawa Barat I, Kanwil DJP Jawa Barat II serta Kanwil DJP Banten, Andi juga meminta pegawai KPP Pratama Bandung Cibeunying untuk memaksimalkan himbauan kepada Wajib Pajak.

Himbauan ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang dimiliki oleh DJP yakni Approweb yang di dalamnya memiliki berbagai menu pengawasan terkait ketimpangan Surat Pemberitahuan (SPT) Wajib Pajak dengan data internal yang dimiliki DJP.

Untuk memotivasi pegawai KPP Pratama Bandung Cibeunying, Andi menyampaikan perumpamaan waktu menanam padi kepada anak buahnya.

“Awal tahun adalah saat paling baik untuk ‘tandur’. Hasilnya akan kita petik 3-4 bulan kemudian,” tuturnya.

Jika di bulan Januari, KPP Pratama bandung Cibeunying baru menyampaikan 400 himbauan kepada Wajib Pajak, maka di bulan Februari himbauan melonjak pesat hingga 4.500 himbauan.

Dan hingga bulan Juli, KPP Pratama Bandung Cibeunying tercatat sudah menyampaikan 11.000 himbauan kepada Wajib Pajak.

Hasil dari himbauan tersebut sangat dirasakan oleh KPP Pratama Bandung CIbeunying, tepat seperti yang diprediksikan oleh Andi Setiawan sebelumnya.

“Kami mendapatkan penerimaan pajak sebesar Rp 400 miliar dari keseluruhan himbauan tersebut. Itu artinya 20% dari target penerimaan kami berasal dari himbauan,” ujarnya.

Tentunya, himbauan yang dimaksud oleh Andi adalah himbauan yang senantiasa ditindaklanjuti perkembangannya.

Jika himbauannya kembali pos, maka Andi tidak segan-segan memerintahkan pegawainya untuk turun ke lapangan mencari alamat Wajib Pajak yang bersangkutan.

Demikian pula dengan himbauan yang tidak dihiraukan oleh Wajib Pajak, Andi segera meminta Account Representative (AR) untuk segera melakukan kontak dengan Wajib Pajak.

Andi juga memastikan setiap pegawai KPP Pratama Bandung Cibeunying berkontribusi maksimal dalam mencapai target penerimaan pajak.

“Di KPP Pratama Bandung Cibeunying kinerja pegawai ditampilkan melalui sistem informasi kepada seluruh pegawai sehingga prestasi pegawai terlihat oleh pegawai lainnya. Dengan mekanisme seperti ini setiap pegawai dapat mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh pegawai lainnya,” terangnya.

“Selain itu, pegawai yang kinerjanya rendah akan malu dan termotivasi untuk langsung meningkatkan kinerjanya, sehingga makin lama makin membaik,” tambahnya.

Untuk menjaga motivasi pegawai dalam bekerja, Andi menyiapkan berbagai In House Training (IHT) yang bertujuan membangun kesadaran pegawai.

“Saya yakin setiap pegawai punya minat atau hasrat untuk memberikan yang terbaik di tempat kerjanya. Tinggal bagaimana membangkitkan kesadaran bagaimana memberikan yang terbaik,” jelasnya.

Dalam setiap IHT, selalu didahului dengan sesi ice breaking. Melalui sesi ini, seluruh permasalahan yang ada dibicarakan dan dicarikan solusinya.

Demikian pula jika ada pegawai yang tidak menunjukkan kinerja maksimal, akan dibahas pada sesi ini. Melalui sesi ice breaking, Andi ingin membangun sifat attitude, motivasi, minat kerja untuk bekerja sebaik-baiknya.

Setelah itu IHT akan dilanjutkan dengan sesi main course. Pada sesi ini, peraturan-peraturan terbaru atau peraturan-peraturan lama yang masih berlaku dibahas untuk meningkatkan pengetahuan pegawai dalam memahami aturan pajak.

Selain IHT, Andi juga memastikan pengawasan detil dan rutin dari setiap atasan di KPP Pratama Cibeunying guna menjamin tercapainya target penerimaan pajak.

Jika ada unit yang belum optimal dalam menjalankan perannya, maka setiap 2 minggu akan dilakukan evaluasi. Menurut Andi cara ini sangat efektif, karena terbukti unit tersebut mampu menunjukkan perbaikan.

“Intinya, saya yakin pegawai DJP adalah pegawai yang terpilih, mumpuni, tinggal bagaimana mengaktualisasikan potensi kepandaian dan kecerdasan dalam pekerjaan dengan sebaik-baiknya,” terang Andi.

Selain itu, Andi yakin bahwa sumber daya manusia (SDM) yang dapat menggerakkan organisasi mencapai tujuannya adalah yang well educated, well trained, dan well paid.

“Semua sudah ada di DJP tahun ini. Tinggal dibangkitkan kesadarannya bahwa semua pegawai harus berkontribusi di kantor,” ujarnya.

Terkait dengan Tahun Pembinaan Wajib Pajak 2015, Andi mengaku banyak memiliki strategi untuk mengawal kebijakan tersebut.

“Kami memiliki banyak cara, ada pengawasan pemotongan/pemungutan pajak, data intelijen, serta konseling persuasif,” ujarnya.

Untuk pengawasan pemotongan/pemungutan pajak, Andi mengisahkan bahwa di wilayah kerjanya banyak Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari pelanggan tetapi tidak setor dan tidak lapor.

Kepada PKP tersebut dihimbau untuk melaporkan SPT sekaligus menyetorkan pajaknya. Dan khusus untuk PPN, KPP Pratama Cibeunying juga terlibat dalam satgas pemberantasan Faktur Pajak (FP) yang Tidak Berdasarkan Transaksi Sebenarnya (TBTS).

“Saat ini ada 39 PKP yang menggunakan dan mengkreditkan FP TBTS, dengan nilai PPN kurang lebih 4 miliar. Semua sudah dipanggil dan diklarifikasi oleh AR dan Kasi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon) didampingi penyidik pajak,” jelasnya.

Satgas tersebut langsung dikomandoi oleh Kanwil DJP Jawa Barat I dan setiap KPP dibuatkan jadwal untuk konseling ke PKP, dengan hasil sebagian besar sudah membetulkan SPT.

Terkait data intelijen, Andi membeberkan sesuatu yang menarik.

“Kami memiliki akses ke website yang memberikan data para pemilik saham di luar negeri. Ternyata disitu ada beberapa Wajib Pajak Orang Pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Cibeunying. Kami himbau, sudah ada yang setor hingga Rp 15 miliar. Ada lagi yang berkomitmen untuk membayar puluhan miliar di bulan November nanti,” ujarnya.

Andi juga menyoroti bahwa saat ini dengan berbagai media online berita maupun media sosial, sangat mudah untuk menelisik aset-aset Wajib Pajak.

“Informasi selebritis yang pamer aset seperti Roro Fitria dan lain-lain sudah sangat banyak sekali. Kami tinggal klarifikasi dan melakukan konseling untuk membayar pajaknya,” jelasnya.

Bahkan Andi tak ragu-ragu untuk menindaklanjuti dengan upaya penegakan hukum jika himbauannya tidak digubris.

“Ada Wajib Pajak prominent yang menurut informasi yang kami dapatkan memiliki banyak mobil mewah di rumahnya, termasuk Lomborghini. Namun demikian, himbauan yang kami sampaikan tidak dijawab, akhirnya kami tindak lanjuti dengan pemeriksaan. Bahkan untuk proses pemeriksaan, Wajib Pajak masih tidak mau kooperatif,” ungkapnya.

Bagi Wajib Pajak seperti itu Andi tak ragu untuk menindaklanjuti dengan pemeriksaan Bukti Permulaan (penyelidikan), bahkan hingga penyidikan.

Namun demikian, Andi juga memberikan berbagai contoh sukses himbauan persuasif yang dijalankannya.

Andi menceritakan pengalamannya menghimbau seorang tokoh masyarakat yang setoran pajaknya masih belum sesuai dengan aset yang dimilikinya.

“Jadi begini, kami membuat cluster Wajib Pajak Orang Pribadi berdasarkan pembayaran pajaknya. Ada yang di cluster A untuk pembayaran di atas Rp 1 miliar, cluster B untuk pembayaran Rp 100 juta s.d Rp 1 miliar, cluster C untuk pembayaran Rp 10 juta s.d Rp 100 juta, cluster D untuk pembayaran di bawah Rp 10 juta, dan cluster E untuk yang tidak setor,” ungkapnya.

Nah, kepada sang Wajib Pajak, Andi mengatakan,”Bapak, kami ucapkan terima kasih sudah memenuhi kewajiban perpajakan hingga saat ini. Namun demikian kami punya cluster seperti ini (A, B, C, D, dan E). Bapak masih di cluster B lho, belum menjadi pembayar pajak terbesar.”

Nah, dari awal percakapan tersebut, Wajib Pajak mulai menanyakan berapa banyak yang membayar hingga di atas Rp 1 miliar. Setelah mendapatkan penjelasan beberapa tokoh masyarakat yang berada di cluster A, maka sang Wajib Pajak menyanggupi untuk membayar Rp 2,5 miliar.

Namun Andi memberikan pernyataan yang membuat sang Wajib Pajak kaget,”Wah, Bapak ini harusnya ada di nomor 1 pembayar pajak terbesar. Kalau bayarnya segitu Bapak belum nomor 1.”

Akhirnya, siang hari itu juga, sang Wajib Pajak berkenan untuk menambah setorannya Rp 10 miliar hingga mencapai Rp 12,5 miliar.

Dengan pendekatan seperti itu, Andi yakin Wajib Pajak di wilayahnya akan termotivasi untuk menaikkan setorannya guna menjadi yang terdepan sebagai warga negara taat pajak.

Untuk memberikan apresiasi bagi Wajib Pajak yang telah memanfaatkan TPWP 2015, Andi pun merencanakan kegiatan apresiasi sekaligus sosialisasi TPWP 2015, khususnya bagi Wajib Pajak yang sudah menjawab himbauan.

Melalui strategi persuasif, KPP Pratama Cibeunying membuktikan hingga saat ini telah mencapai Rp 1,54 triliun atau 71,06% dari target penerimaan, jauh di atas rata-rata target penerimaan pajak sebesar 50%.

Apresiasi yang setinggi-tingginya pantas untuk diberikan kepada Wajib Pajak KPP Pratama Bandung Cibeunying atas kontribusinya selama ini.

Dan tentunya, motivasi untuk menjadi yang terdepan sebagai warga negara taat pajak patut ditularkan kepada siapapun di negeri ini, karena #PajakMilikBersama.