Tingkatkan Kompetensi Penyuluh Melalui NLP

Peserta Bimtek

Oleh: Nanik Triwahyuningsih, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Bertempat di lantai 4 Aula Kanwil DJP Jatim II ,dilaksanakan kembali untuk yang ke-2 kalinya Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Tenaga Penyuluh berbasis NLP (Neuro Linguistik Programming) setelah sebelumnya dilakukan pada tanggal 16 Juni 2017 dengan peserta yang berbeda secara bergantian. Peserta kali ini adalah ketua tim penyuluh (kasi ekstensifikasi untuk KPP Pratama dan kasi pelayanan untuk KPP Madya) , Kepala KP2KP dan anggota tim penyuluh dari seluruh unit kerja di lingkungan Kanwil DJP Jawa Timur II. N

LP merupakan pendekatan komunikasi, pengembangan pribadi dan psikoterapi yang diciptakan oleh Richard Bandler dan John Grinder di California, USA pada tahun 1970-an. Penciptanya mengklaim adanya hubungan antara proses neurologi (neuro), Bahasa (linguistic) dan pola prilaku yang dipelajari melalui pengalaman (programming) dan bahwa hal tersebut dapat diubah untuk mencapai tujuan tertentu dalam kehidupan.

Bandler dan Grinder mengklaim bahwa keterampilan seseorang dapat dimodel menggunakan metodologi NLP kemudian keterampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja. NLP dapat dimanfaatkan juga oleh para tenaga penyuluh Kanwil DJP Jatim II untuk bisa mendapatkan hasil optimal dalam setiap kegiatan penyuluhan yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pemahaman perpajakan dan kesadaran membayar pajak oleh para wajib pajak.

NLP dilaksanakan dalam rangka pencapaian self-improvement bagi para tenaga penyuluh di lingkangan Kanwil DJP Jawa Timur II. Dalam NLP dipelajari hubungan antara kata-kata (words) dengan pikiran-perasaan (mind) dan tubuh (body). Perubahan dimulai dari memilih kata-kata yang tepat. Hindari penggunaan kata-kata negatif. Postur tubuh juga mempengaruhi emosi kita. Fisiologi untuk tampil percaya diri di depan umum adalah menggunakan bahasa tubuh “Menghabiskan Tempat” artinya bergerak bebas dilanjutkan dengan pembukaan yang bersahabat (instant rapport) karena kesan pertama itu akan melekat lebih lama. Kesan yang baik akan membentuk TRUST/kepercayaan. Dan kepercayaan itu terbentuk karena adanya kesamaan/kecocokan.

Gunakan gaya bahasa yang cocok dan meyakinkan untuk menyamakan dengan lawan bicara. Pengaturan pola kalimat yang efektif berguna untuk mempengaruhi orang lain (chunking). Chunking down membuat kalimat lebih jelas/presisi untuk klarifikasi sesuatu hal. Chunking up membuat kalimat jadi tidak jelas berguna untuk mempengaruhi orang lain. Chunking side membuat kalimat dibahasakan dalam bentuk yang berbeda berguna untuk menjelaskan sesuatu hal.

Pikiran manusia cenderung untuk mempercayai pengalaman masa lalunya, sehingga untuk dapat melakukan chunking down perlu dilakukan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali apa yang sudah dalam pikiran Audience (prior learning). Setiap penjelasan yang dilakukan oleh petugas penyuluh selalu dikaitkan dengan prior learning. Untuk mempermudah pemahaman penyampaian pesan perlu dibuat perumpamaan (simple metaphor) bisa dilakukan melalui gambar dan menganologikan dengan sesuatu hal.

Kesan yang ditinggalkan oleh penyuluh ke audience dipengaruhi pada bagian akhir dari presentasi, sehingga perlu menutup penyuluhan dengan berkesan (framing). Cara membangun frame adalah dengan memberikan fenomena umum yang sedang terjadi selanjutnya berikan batasan melalui frame. Lakukan closing yang kuat melalui pola bahasa hipnotik.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.