Layar Tancap Penyanderaan Pajak

Layar Tancap Penyanderaan Pajak

Oleh: Hendar Iskandar, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Pertunjukan film di alam terbuka dengan layar yang tiangnya ditancapkan di tanah biasa dikenal dengan istilah Layar Tancap atau dalam bahasa kampung saya “Misbar” artinya gerimis bubar. Karena di alam terbuka wajar bila ada hujan saja banyak penonton menepi dari lapangan mencari tempat berlindung. Layar Tancap menjadi hiburan masyarakat di tengah beratnya himpitan hidup akibat harga kebutuhan pokok yang kadang tidak terjangkau. Belum lagi ongkos kesehatan dan pendidikan anak-anaknya yang tidak dapat terjangkau akal untuk dipikirkannya.

Ada fenomena yang sama dalam beberapa film yang kami tonton. Selalu ada tokoh baik dan jahat yang digambarkan. Selalu ada manusia yang berkarakter serakah dan menindas. Entah karena film layar tancap di kampung saya banyak berlatar cerita silat yang memperlihatkan pertarungan fisik antara tokoh baik dan tokoh jahat. Cerita film hampir sama menampilkan bentuk-bentuk sifat jelek manusia di awal cerita dan tokoh pahlawan yang selalu kesiangan muncul menumpas kejahatan.

Satu hal lagi yang selalu saya ingat. Meskipun hanya dalam cerita semata dan masyarakat sadar bahwa film adalah produk rekaan, ada spontanitas yang menggelikan yakni tepuk tangan gemuruh ketika tokoh baik muncul dan mengalahkan tokoh jahat. Ada perasaan terwakili dari mereka yang merasa tertindas oleh orang atau keadaan bahkan kekuasaan begitu rasa ingin mengalahkannya seolah terwakili. Ada kegembiraan tersirat seandainya melihat kebaikan bisa mengalahkan kejahatan atau ketidakadilan yang dirasakan.

Siang itu kami tiba-tiba bertemu seseorang. Dia mengetahui bahwa di wilayah kami telah dilakukan tindakan penyenderaan terhadap penunggak pajak yang tidak koperatif. Meskipun berita yang tersebar hanya menyebut insial penunggak pajak dia sangat yakin mengetahui namanya meskipun sampai hari ini saya tidak mengenal Wajib Pajaknya. Saya awalnya kaget karena ia tahu lebih banyak. Siang itu saya lebih banyak mendengar penjelasannya.

Ada raut muka senang ketika ia bercerita. Ada rasa keadilan begitu negara menegakkan keadilan bagi mereka yang harusnya membayar pajak ternyata melalaikan kewajibannya dengan penegakan hukum berupa penyanderaan. Sesekali ia menyesalkan kenapa tidak semua saja yang “bandel”disandera dengan jelas menyebut nama dan bukannya inisial.

Akhirnya saya tidak dapat menahan diri untuk menjelaskan penyanderaan. Penyanderaan dalam rangka penagihan pajak dengan Surat Paksa merupakan salah satu upaya yang wujudnya berupa pengekangan sementara waktu terhadap kebebasan Penanggung Pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu yaitu rumah tahanan negara yang terpisah dari tahanan lain.

Agar tidak sewenang-wenang dan tidak bertentangan dengan keadilan bersama, maka sifat penyanderaan ada syarat-syarat tertentu baik sifatnya kuantitatif maupun kualitatif. Otoritas melakukan penyanderaan secara selektif, hati-hati dan merupakan upaya terakhir. Seandainya ada banyak jurus maka penyenderaan adalah jurus pamungkas.

Saat melihat rona wajah dan bersemangatnya orang itu berbicara, seketika lamunan saya teringat layar tancap. Barangkali penyanderaan terhadap mereka yang menunggak pajak oleh otoritas yang berwenang seolah kedatangan tokoh baik yang melindas ketidakadilan yang dipersepsikan masyarakat.

Masyarakat menganggap mereka yang menunggak pajak adalah pihak yang tidak adil pada bangsanya. Mereka memiliki banyak kelebihan dan menikmati banyak manfaat dari negara ini. Usahanya di tempat yang aman dan infrastruktur yang telah disediakan tidak dijawab dengan loyalitas pengabdian kepada negara melalui pajak. Harusnya mereka banyak berperan bukan malah lari dari kewajiban.

Sedikit Layar Tancap Penyanderaan mengobati masyarakat yang sedang terluka dan mencoba melihat sisi keadilan yang sedang ditegakkan.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.