Geliat Oplet Tua, Ekspedisi Petugas Pajak di Tanah Dayak

Geliat Oplet Tua, Ekspedisi Petugas Pajak di Tanah Dayak

Oleh: Agung Sukma Wijaya, Pegawai Direktorat Jenderal Paja

Ini kali kedua saya mengikuti 'ekspedisi' petugas pajak menerobos belantara hutan Malinau di Kalimantan Utara. Untuk kegiatan visit ke Wajib Pajak semacam ini, saya memang lebih suka menyebutnya sebagai ekspedisi. Karena meskipun merupakan tugas rutin pegawai pajak, visit ini sangat kental dengan suasana penjelajahan. Tepatnya penjelajahan hutan di rangkaian pegunungan di wilayah Malinau Kalimantan Utara. Jadi aura ekspedisinya benar-benar hadir di sini.

Sekitar tiga bulan yang lalu saya juga sempat menyertai petugas pajak (Bapak Atim Widodo, seorang appraiser senior) menerobos belantara Kabupaten Malinau menuju Desa Long Loreh di Kecamatan Malinau Selatan. Kami menembus hutan belantara tak kurang dari dua setengah jam, dari total perjalanan tiga jam. Suasa dramatis kerap menyapa kami, beberapa kali mobil melintang di jalan akibat licinnya jalan berlumpur, gundukan tanah akibat tebing longsor merampas bahu jalan, jembatan darurat yang kritis, dan lain-lain.

Kali ini dengan tim yang berbeda kami menjalankan ekspedisi ini. Tim kali ini beranggotakan empat orang dari kantor Pajak Pelayanan Pajak Pertama Tanjung Redeb yang berkedudukan di Tarakan Kalimantan Utara. Yang istimewa tim kami kali ini beranggotakan orang-orang yang sudah cukup senior. Secara berseloroh saya menyebutnya sebagai tim Oplet Tua.

Tim Oplet Tua ini terdiri dari Bapak Agung Sukmajaya, selaku komandan tim. Bapak Mahfud sebagai Aprraiser Penilai Spesialis Perhutanan. Bapak Teguh Ismail, fungsional umum sekaligus merangkap petugas ekstensifikasi yang akan melakukan penjaringan objek pajak baru. Mereka bertiga tergolong Balita yang sebenar-benarnya, alias Bapak-Bapak Lima Puluh Tahunan.

Yang ke keempat saya sendiri, yang bertugas membawakan tasnya Bapak Mahfud karena sesuai jadwal, besok bakal menemui Bapak Camat Malinau Selatan Hulu. Konon kantor Kecamatan Malinau Selatan Hulu ini adanya di atas awan, karena saking seringnya disambangi kabut tebal akibat ketinggian lokasinya yang memang sudah bersanding dengan awan. Wiihhh . . . asyik ya . . .

Tim Oplet Tua, pagi itu mulai bergerak menuju pelabuhan Teng Kayu di Kota Tarakan diantar oleh Bang Rubson. Setelah menunggu beberapa saat bersandarlah speedboat Malinau Ekspres yang akan membawa kami untuk memulai ekpedisi. Ekspedisi kali ini perjalanannya diperkirakan akan makan waktu selama enam sampai tujuh jam. Tiga jam perjalanan air dan nyambung perjalanan darat selama kurang lebih empat jam. Kebayang betapa menantangnya ekspedisi kali ini kan ?

Terus terang buat saya ini adalah ekspedisi yang cukup menantang, tidak tahu bagaimana kalau menurut tiga anggota Tim Oplet Tua lainnya. Karena tiga jam perjalanan menyusuri sungai Kalimantan dengan menggunakan speed boat adalah pengalaman pertama saya. Sebelumnya pernah menyeberang dari Pulau Tarakan ke Pulau Bunyu tapi hanya sekitar dua jam. Makanya ekspedisi kali ini di mana kami selama tiga jam menyusuri sungai, pasti akan menjadi ekspedisi yang sangat menantang.

Waktu menunjukkan jam sembilan pagi Waktu Indonesia Tengah, saat kami meninggalkan pelabuhan Tengkayu Tarakan. Speedboat bergerak perlahan namun pasti menuju kecepatan maksimalnya. Pagi yang indah. Matahari bersinar cerah, secerah suasana hati ini yang makin menbuncah. Burung-burung terbang melayang di derunya air, membuat ekspedisi ini semakin indah. Beberapa speedboat bersimpangan membuat speedboat yang kami tumpangi bergoyang-goyang. Goyangan yang mesti diwaspadai, karena kadang bisa membuat penumpangnya muntah

Sepanjang perjalanan menyusuri sungai kami disuguhi pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Air yang jernih menghampar sepanjang mata memandang. Sementara sepanjang sisi kanan-kiri sungai tumbuh berjajar pohon nipah. Di sana sini tampak pohon bakau yang tumbuh tak kalah rapinya berjajar setia menjaga tepian sungai dari erosi akibat arus air yang terlalu bernafsu melahap bibir sungai.

Beberapa ekor burung tampak beterbangan kian kemari. Pernah juga kami temui beberapa ekor monyet bermain di tepian sungai bertingkah lucu menghibur para penumpang boat yang beruntung menoleh ke arahnya. Burung-burung bangau kadang nampak berjejer di pinggiran sungai mengais rejeki, menangkap ikan-ikan kecil yang terdampar di tepian sungai. Burung elang tampak melintas di ketinggian, bahkan burung Enggang yang dikeramatkan Suku Dayak itu kadang-kadang tampak melintas di sela pepohonan.

Tiga jam tak jemu-jemunya saya menikmati keindahan sungai dengan segala biota yang melengkapinya. Saya tengok dua anggota tim kami sudah terkapar kelelahan di jog masing-masing. Hanya Bapak Teguh Ismail yang masih tampak asyik ngobrol dengan karyawan RRI Surabaya yang kebetulan sedang mengadakan kunjungan ke Malinau.

Tengah hari persis, beberapa saat menjelang adzan dzuhur berkumandang kami bersandar di pelabuhan Malinau. Pak Rudolf yang bertugas menjemput kami sudah merapat lebih dulu. Lepas dari Pelabuhan Malinau, rasa capek mengarahkan kami untuk istirahat terlebih dahulu, makan dan sholat dzuhur.

Bandeng tanpa duri goreng tepung, menjadi pilihan menu kami. Es jus melengkapi obat capek, letih, lemah dan lesu yang menghinggapi, maklum Oplet Tua. Sambil menunggu kesiapan menu dihidangkan kami mampir untuk sholat dzuhur di masjid At Taqwa Malinau. Masjid besar cukup megah yang letaknya persis di sebelah lampu pengatur lalu lintas Kota Malinau.

Ternyata di Malinau lampu merah menjadi barang yang langka dan unik yang perlu mendapat catatan tersendiri. Dia langka karena kalau anda telesuri di segenap penjuru Kota Malinau jumlahnya hanya ada dua. Dan unik, karena sekelas Ibu Kota Kabupaten kok lampu pengatur lalu lintasnya hanya ada dua he he he . . . Ala kulli hal itulah itulah Indonesia kita.

Setelah perut kenyang, pikiran tenang dan dengan hati yang lapang kami meneruskan perjalanan menuju basecamp di Desa Langap Kecamatan Malinau Selatan. Kata Pak Rudolf untuk sampai ke sana kami membutuhkan waktu sekitar dua jam. Wouow . . . tidak masalah karena perut kami sudah kenyang, dan fikiran kami sudang tenang . . . tancap mang . . .

Sepanjang perjalanan kembali kami disuguhi hijaunya pohon yang berjejer di sepanjang perjalanan. Pun ketika kita menatap ke seberang. Di sebelah kanan dan kiri perjalanan juga tampak rerimbunan nan hijau membentang. Kebun sawit milik rakyat sesekali menjadi selingan yang memperkaya pemandangan dalam ekspedisi kali ini.

Sekitar satu jam perjalanan saya baru ingat, ternyata jalur menuju Desa Langap ini adalah jalur yang pernah saya lewati beberapa waktu lalu ketika kami melakukan ekspedisi ke desa Long Loreh bersama Bapak Atim Widodo, appraiser senior kami. Sekira seperempat jam perjalanan dari Long Loreh itulah base camp yang kami tuju sekarang ini.

Anjing berkeliaran di jalan-jalan. Sebagian nampak asyik tidur di bahu jalan tanpa tergangu sedikitpun dengan deru mobil ranger yang kami tumpamgi. Sedikitpun tidak terganggu, mobil kami mengalah menepi agar tidak menabrak mereka,"Kalau nabrak, kita kena denda pak," kata pak Rudolf. Ya sudahlah yang waras ngalah saja, dari pada kena denda adat, bisa gawat . . .

Banyaknya anjing yang berkeliaran ini juga sebagai penanda bahwa daerah itu dekat dengan perkampungan penduduk. Karena bagi umumnya masyarakat Dayak, anjing telah menjadi modal kerja yang cukup penting.

Sampailah kami di batas Desa Langap, sebuah desa yang berada di kaki selatan Gunung Sidi. Di luar dugaan, ternyata desa ini cukup semarak. Rumah-rumah kayu tampak berdiri kukuh di pinggiran jalan utama di desa itu. Ada Rumah Sakit Berjalan, Kantor Koramil, Sekolah Dasar Negeri dan warung Makan Ponorogo juga ada di sini. Pak Rudolf bercerita bahwa warga kampung sini memang beragam. Desa Langap kini dihuni oleh beragam orang dari berbagai suku, terutama setelah dibukanya pertambangan batu bara di dekat sini. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia.

Sesampainya di camp, kami disambut oleh Pak Edi ( biasa dipanggil Pak E), Pak Yulius, Bang Iwan dan Bang Peter. Mereka berempat yang menggawangi base camp sehari-hari. Mereka menyambut kami dengan ramah. "Selamat datang di kamp Bapak-Bapak, jangan kaget di Langap ini matahari ada dua pak." kata pak E mengejutkan kami. Matahari ada dua . . . wah pertanda bakal kiamat ini pak he he he . .. jawab saya sekenanya.

Iya pak di sini memang panas sekali. Setelah seharian kita dipanggang matahari siang, malam haripun sampai jam tujuh atau delapan malam suhu udara masih terasa sangat panas pak. Serasa masih ada mataharinya.

Ooo itu rupanya yang dimaksud ada dua matahari. Malam haripun serasa masih ada matahari ya . . . ada-ada saja.

Kopi hitam dan teh pun melengkapi bercengkerama kami. Gadis-gadis Dayak Punan tampak ceria bermain bola voli di sebelah camp kami. Tampak beberapa di antara gadis-gadis Dayak itu yang cukup memancing perhatian teman kami, sampai membuatnya tidak berkedip memelototi gadis-gadis Dayak berbalut kostum ala atlet bola voli kelas Eropa tersebut . . . siapa ya orangnya yang tak berkedip itu . . . ??? Kasih tahu namanya gak ya . . . ??? he he he . . .

Sehabis sholat maghrib obrolan masih berlanjut. Syukurlah semakin malam suasana suhu udara agak mendingan, sedikit sudah agak dingin. Kata mereka suhu udara di sini memang meningkat tajam sekitar lima tahun terakhir, terutama sejak invesor tambang batu bara masuk dan menambang di sini.

Masih kata mereka tiga tahun lalu suhu udara di sini masih dingin, bahkan buah durian, elay atau cempedak masih gampang didapatkan dari kebun masyarakat. Tapi sekarang semuanya sudah hilang, karena kebun buah mereka sudah di gali oleh para juragan batu bara dari kota. Benar kami merasakan suhu ruangan memang sangat panas.

Waktu terus bergerak. Sekitar pukul sepuluh malam kami berangkat ke peraduan. Besok pagi kami masih harus melanjutkan perjalanan ke area perhutanan yang menjadi objek pajak yang akan kami datangi. Tadi sore Pak E menuturkan bahwa perjalanan ke sana butuh waktu lebih dari dua jam dengan jalur yang berada di lereng-lereng gunung. Pendeknya besok kita akan mendaki gunung. Wouow . . . menantang sekali . . . semoga bisa menjadi pengantar tidur memasuki mimpi-mimpi indah kami . . .

Pagi harinya kami bangun menjelang jam lima. Tak ada suara tarkhim atau adzan subuh yang biasa kami dengar seperti di Tarakan. Maklum ini di pinggiran hutan, di kampung suku Dayak Punan. Lamat-lamat akhirnya kami mendengar juga suara adzan dari masjid di kejauhan. Tapi kami tidak berani untuk ke sana, karena banyaknya anjing berkeliaran di kampung ini.

Di depan camp banyak anjing tidur, beralas tanah dan beratap langit. Tidur mereka tampak sangat tenang. Kehadiran manusia tidak mengusik sedikitpun ketenangan tidur mereka. Tapi tidak bagi kami. Ketenangan tidur mereka tetap menjadikan kami tidak berani melangkah mendatangi panggilan adzan dari masjid. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat berjamaah di camp.

Perlahan mataharipun menyembul dari ufuk timur. Kami segera bersiap memasuki agenda berikutnya.

Sekira jam delapan pagi kami memulai ekspedisi yang sebenarnya. Mengingat mobilnya hanya satu, ekspedisi ini terpaksa menempatkan empat orang di bak belakang mobil ranger ini. Pak Yulius, Pak E, Bang Peter dan Pak Teguh Ismail memilih untuk naik di bak belakang. Dan akhirnya ekspedisi menantang yang semalem diperbincangkan itu akan segera kami jalankan.

Kami mengawalinya dari basecamp. Mula-mula kami menyusuri jalan kampung yang agak lebar kemudian berbelok menuju ke arah pegunungan. Kanan kiri kami ditumbuhi pohon jati. Aneh kok ada pohon jati di sini ? Rupanya ini salah satu proyek pemerintah beberapa tahun lalu yang sayangnya kini kurang terawat.

Ekspedisi terus berlanjut. Jalanan berbatu dengan kontur naik turun berkali-kali kami libas. Singkat cerita, menginjak jam kedua ekspedisi, tanjakan dan turunan semakin tajam. Kata bang Iwan sang pemandu ekspedisi ini, nanti akan kita temui jalanan yang turunnya membuat dada sampai di paha dan tanjakannya membuat paha naik di dada. Ini kalimat yang menggambarkan kontur jalan dengan derajat kemiringan di atas enam puluh derajat.

Dan benar perjalanan kami benar-benar memasuki jalan dengan turunan dan tanjakan yang benar-benar sangat ekstrim. Turunnya sangat curam dan naiknya ekstrem sekali. Beruntunglah driver yang membawa kami cukup berpengalaman di medan ekstrem semacam ini. Maklumlah rute kami adalah jalanan di lereng-lereng gunung yang menghubungkan satu gunung dengan gunung yang lain dalam rangkaian pegunungan Malinau Selatan ini.

Jalur ekstrim yang meliuk-liuk di sisi jurang dengan kedalaman berpuluh meter menghiasi separuh perjalanan ke depan. Mobil yang kami tumpangi meliuk-liuk di jalanan berlobang sana-sini akibat tergerus air hujan. Kami menyusuri jalan di ketinggian sejajar pucuk-pucuk pohon raksasa tyang tumbuh di dasar jurang berpuluh meter di bawah sana. Kalau suasana mendung di ketinggian ini biasanya berkabut. Dalam cuaca seperti itu perjalanan akan nampak mengambang di atas awan. Maka pak E dan kawan-kawan biasa menyebut lokasi ini sebagai lokasi di atas awan. Menoleh ke kanan atau ke kiri menjadi sangat kaku. Adrenalin yang mengguyur nyali melarang keras kepala ini untuk menoleh. Ngerii . . .

Adrenalin kami masih terus diuji. Setelah curumnya jalan yang berlobang di sana-sini kami lewati, kami harus menghadapi jembatan kayu yang hampir amblas ke sungai. Sementara di bawah sana di kedalaman yang cukup mengerikan mengalir deras air berwarna kecoklatan dengan arus yang siap menghanyutkan apa saja yang tercebur di dalamnya. Suasana menjadi tegang, namun lagi-lagi alhamdulillah kami terbantu dengan driver yang sangat menguasai jalur ekstrim ini. Maklumlah bang Iwan Iwan ini memang ahlinya jalur berkelas off road.

Jalanan mulai agak menurun, tapi masih tetap meliuk-liuk di tepian jurang satu ke jurang berikutnya. Di pengkolan sebuah bukit kami terpaksa harus menghentikan perjalanan, karena jalanan tertutup longsor dari atas bukit. Di sisi kami, jurang menganga sangat dalam iihhh . . . ngeri sekali . . . Untunglah saat itu ada pekerja yang sedang menyingkirkan longsoran tersebut. Akhirnya setelah menunggu sekitar seperempat jam, dengan hati-hati mobil bisa lewat dengan aman. Alhamdulillah . . .

Perjalanan masih menantang. Kali ini menuju ke Kantor Kecamatan Malinau Selatan Hulu. Sebuah kantor kecamatan yang terletak pada ketinggian gunung dengan jalur yang sangat ekstrim. Tentu ini sebuah pemandangan yang cukup aneh, namun begitulah yang terjadi. Di sepanjang wilayah yang kami lalui memang sedang terjadi pemecahan wilayah baik wilayah desa maupun wilayah kecamatan. Dan wilayah kecamatan Malinau Selatan Hulu ini termasuk wilayah kecamatan baru, pecahan dari Kecamatan Malinau Selatan.

Di wilayah-wilayah ini jangan berharap bisa menelepon. Untuk SMS saja bisa berjam-jam baru terkirim, itupun kalau sedang ada angin surga yang sedang lewat kita bisa titip pesan sama dia. Nah di dekat kantor kecamatan ini ada satu area di puncak gunung yang memiliki sinyal relatif utuh. Area ini diberi nama gunung cinta, karena di tempat inilah biasanya para pekerja perusahaan kayu, pegawai kecamatan, guru atau bidan di Puskesmas terdekat biasa memanfaakan untuk berkirim SMS. Dan kalau lagi beruntung kadang bisa menelepon keluarganya untuk melepas kangen.

Perjalanan makin seru. Memasuki tiga jam perjalanan jalur ekspedisipun tidak semakin ramah. Kembali kami harus menghadapi kenyataan, bahwa jalanan di depan kami berkontur sangat tajam. Naik dan turun sangat ekstrem. Kembali pucuk-pucuk pohon berketinggian lima puluh meteran ada di sisi kiri-kanan kami. Pohon-pohon yang tumbuh di dasar jurung itu cukup menjadi saksi bahwa posisi kami saat ini berada di atas jurang setinggi lima puluh meteran. Wouw ngeri sekali. Pernah ada mobil perhutani yang hampir saja jatuh ke dasar jurang, untungnya nyangkut di pohon.

Memasuki jam ke empat perjalanan, jalanan semakin tidak jelas. Kami harus melewati jembatan kayu yang disilangkan di atas sungai dengan sekenanya. Jembatan kayu yang nampak sudah mulai lapuk itu harus kami lewati, karena ini satu-satnya akses jalan yang bisa kami lewati. Di jalanan ekstrem ini, banyak orang tidak berani mendaki sampai di ketinggian ini, terbukti tiga jam lebih perjalanan tak pernah kami bersimpangan dengan mobil.

Saya berharap ada sopir stres yang nekat membawa penumpangnya ke sini, untuk menghibur kami bahwa kami terjebak di ketinggian gunung ini tidak sendiri. Tapi buru-buru saya meralatnya, kami tidak ingin menambah buruknya suasana dengan igauan yang jelek tadi. Maklum diketinggian seperti itu igauan memang menjadi gampang muncul . . .

Lagi-lagi kami bersyukur karena driver kami benar-benar jebolan offroad yang handal. Drama perlombaan adrenalin itu berakhir dengan happy ending. Kami bisa melewati jembatan kayu tersebut dengan baik. Alhamdulillah . . .

Perjalanan selanjutnya relatif ringan. Terutama memasuki perjalanan pada jam ke lima. Ini jam terakhir ekspedisi kami. Ini artinya kami sudah mau sampai di base camp lagi. Karena perjalanan kami mengambil jalan memutar dengan mengitari sebanyak lima gunung. Kini perjalanan memasuki jalan yang semakin menurun di lereng-lereng gunung.

Kami semua lega. Meskipun perjalanan ini terasa berat, melelahkan, menegangkan dan membuat tumpah adrenalin kami kemana-mana, akhirnya terbanyar dengan imbalan yang sangat memuaskan. Mahalnya harga ketegangan, rasa lelah dan beratnya perjalanan terbayar dengan kepuasan yang seakan tiada tara. Selama hampir dua tahun di Kalimantan ini kami merasakan yang namanya hutan rimba Kalimanatan ya di sini ini. Ini benar-benar hutan yang masih perawan. Beratus-ratus kayu dengan ukuran raksasa kami temukan dalam hampir separuh perjalanan kami. Jurang-jurang yang dalam, dan ketinggian gunung kami temukan disini. Itulah imbalan yang kami terima. Benar-benar imbalan yang sempurna.

Kami merasakan bahwa koordinat hutan Kalimantan adanya di sini. Orang baru sah dikatakan telah menikmati angin hutan Kalimantan, memandang lebatnya hutan Kalimantan dan sihir memikat dari mistisnya hutan sebelum menginjakkan kaki di titik ini. Ini beneran, bukan igauan anak-anak pendaki gunung yang terpaksa turun gunung karena kehabisan tenaga sebelum menaklukkan puncaknya.

Dua tahun di kalimantan saya berkeyakinan bahwa di Kalimantan itu sudah tidak ada hutan. Namun keyakinan yang terbangun selama dua tahun itu kini runtuh di hadapan lima jam ekspedisi ini. Alhamdulillah hutan kalimantan itu ternyata masih ada. Walaupun untuk itu kami harus bersusah-susah payah mencarinya.

 *) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi di mana penulis bekerja.