Berbagi Kebahagiaan Itu Membahagiakan

Berbagi Kebahagiaan Itu Membahagiakan, Kemenkeu Mengajar 2

Oleh: Rikfy Bagas Nugrahanto, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Kedua kalinya menaiki pesawat untuk menuju tempat dimana saya merasa sangat bahagia. Kedua kalinya mempersiapkan diri untuk memberikan yang terbaik. Kedua kalinya rasa peduli saya bisa tersampaikan. Kedua kalinya saya akan menjadi pendengar dari suara generasi emas Indonesia. Untuk kedua kalinya untuk dapat berbagi dan untuk kedua kalinya untuk memberikan inspirasi. Kota kelahiran saya, Semarang, merupakan kota tujuan saya kali ini. Sebenarnya bukan saya yang akan berbagi namun saya lah yang sedang mencari rasa bahagia itu. Rasa cinta, kerinduan dan kecemasan bergabung menjadi satu, membuat pikiran saya bertanya-tanya kenangan indah apa yang akan saya dapatkan nantinya. Pesawat itu terbang dari bandara Mozes Kilangin, Timika menuju bandara tujuan saya yaitu Bandara Ahmad Yani Semarang.

Menuju hari H–2 pelaksanaan kegiatan Kemenkeu Mengajar 2, saya sejenak mengunjungi lokasi di SD Manyaran 01 Semarang bersama relawan lainnya, dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah, Bapak Mujiono dan juga Ibu guru pendamping yaitu, Ibu Ratna. Ramahnya guru dan semangat keceriaan anak-anak setidaknya menutupi kondisi sekolah yang jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain di lokasi kota yang sama, jujur saya bilang agak kurang. Beberapa atap sekolah, masih dtemukan kerusakan di langit-langitnya. Sejenak berfikir ada sekolah di kota Semarang yang masih dijumpai kondisi seperti itu. Namun yang saya pikirkan adalah hari Senin saya harus memberikan yang terbaik kepada anak-anak.

Seminggu sebelum mengajar dipikiran saya hanya konsep pengajaran dan materi apa saja yang akan saya bagikan. Beruntungnya saya menjadi bagian panitia Kemenkeu Mengajar 2 Semarang yang sangat solid dan peduli terhadap apa yang dibutuhkan relawan. Teknis pembagian pun sudah dibuat secara jelas dan kami hanya menyediakan perlengkapan tambahan sesuai jenis pengajaran kami.Memberikan yang terbaik hanyalah yang ada di pikiran saya, anak-anak berhak mendapatkan inspirasi yang terbaik, berhak mendapatkan motivasi untuk menggapai cita-citanya.

Hari itu dimulai, sayangnya saya diharuskan sendiri untuk mengajar, karena teman sepasang saya diharuskan siaga di Kantor Pusat, karena pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan. Namun saya tidak akan mengeluh, karena satu hari ini, hal terbaik yang saya berikan ke anak-anak akan menjadi kenangan mereka selamanya. Mengawali hari itu dengan kegiatan upacara bendera, dan betapa terkejutnya dan kagumnya saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan 3 stanza dinyanyikan dengan syahdunya. Rasa bangga itu seketika muncul dan rasa haru terhadap jasa-jasa pahlawan yang dulu berusaha merebut kemerdekaan. Saya dibandingkan mereka hanyalah sebuah peran kecil, namun peran yang saya punyai ini akan saya jaga dan bertekad untuk selalu memberikan yang terbaik. Acara diawali dengan perkenalan dan tarian serta yel-yel penyemangat. Saya yang saat itu menjadi pemandu acara bersama rekan lain merasa mendapat kejutan lain. Antusias anak-anak sangatlah luar biasa. Sebuah kertas tempel berbentuk bintang menjadi sesuatu yang luar biasa bagi mereka. Mereka hingga berebutan untuk maju ke depan untuk dapat melakukan yel-yel semangat bersama kami.Saya kala itu, merasa sangat dihargai dan saya merasa sangat dicintai saat itu.

Kemudian saat mengajar itu pun dimulai, saya yang mendapatkan jadwal mengajar di 4 kelas yaitu kelas 5b, 5c, 6a, dan 6b secara bergilir selama setengah jam dengan mantap memasuki kelas yang pertama. Bertemu dengan guru kelas 5b, Ibu Wati dan meminta izin adalah hal pertama yang saya lakukan. Setelah meminta izin saya memulai dengan mengucapkan salam dan melakukan yel-yel semangat bersama-sama serta membagikan kertas pengenal nama kepada mereka. Hal pertama yang saya bagi adalah mengenalkan siapa Presiden dan Wakil Presiden mereka. Pastinya mereka paham dan mengenal Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla. Pak Jokowi yang merupakan Presiden ke-7 Indonesia dan Pak Jusuf Kalla pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden ke 12 Indonesia. Pimpinan saya di Kementerian Keuangan tidak lupa saya ingin bagi dan kenalkan kepada anak-anak yaitu Bu Sri Mulyani Indrawati dan Pak Ken Dwijugiasteadi selaku Direktur Jenderal Pajak.

Setelah itu adalah mengenai Nilai-Nilai Kementerian Keuangan yaitu integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan. Penjelasan secara singkat saya bagi serta bagaimana cara memperagakan satu demi satu Nilai-Nilai Kementerian Keuangan yang saya rasakan bahwa nilai-nilai yang institusi saya punyai itu adalah sangat luhur dan berkomitmen untuk memajukkan Indonesia. Integritas yang berawal dari jujur akan kemampuan diri, profesionalisme yang merupakan berbuat yang terbaik dan fokus, sinergi seperti rantai di sepeda yang merupakan satu kesatuan yang menjelaskan bahwa tiap bagian, peran kita, sangat dibutuhkan demi berputarnya roda pembangunan negara, pelayanan yaitu tidak berbuat diskriminasi dan ramah, karena sejatinya Aparatur Sipil Negara adalah pelayan masyarakat, tidak ada kesombongan ketika mendapatkan posisi sebagai ASN.

Yang terakhir adalah kesempurnaan yaitu selalu melakukan perbaikan, peduli atas hal-hal yang perlu diperbaiki untuk menuju kesempurnaan. Malamnya saya memang berniat membuat lencana dari pita sebagai hadiah bagi anak-anak yang berani menceritakan cita-cita mereka, rasa kantuk tidak akan mengalahkan diri saya untuk terus membuat jahitan pita tersebut karena setiap benang yang saya jahitkan berisi doa dan harapan bagi mereka untuk terus mencapai cita-cita terbaik mereka. Walaupun mungkin tidak bagus, anak-anak hingga berebut ingin maju dan mendapatkan lencana pita itu. Tidak henti-hentinya apa yang saya lakukan dapat dihargai hingga seperti itu.

Cita-cita mereka sangat beragam dan tinggi. Namun yang dapat saya pesankan kepada anak-anak adalah bercita-citalah yang baik, meminta doa dan restu kepada orang tua serta datanglah ke Bapak atau Ibu Guru dan sampaikan kepada mereka, mintalah tolong kepada mereka untuk membantu mengantarkan ke cita-cita kalian, cita-cita anak-anak agar menjadi nyata. Jadilah seseorang yang berguna bagi diri sendiri,keluarga, masyarakat, dan juga negara. Sebelum sesi pertama selesai, Bu Wati, Ibu Guru kelas 5b menceritakan kegundahannya akan pemimpin saat ini, beliau menjelaskan segala permasalahan di pemerintahan saat ini. Saya sebagai pendengar merasa kegundahan tersebut menandakan Bu Wati sangat peduli terhadap bangsa Indonesia saat ini. Namun di dalam posisi sekarang ini saya hanya dapat meminta tolong kepada Bu Wati, menjaga anak-anak, membimbing mereka menuju cita-cita mereka, karena mereka adalah calon pemimpin masa depan Indonesia. Seperti saya yang masih teringat perkataan Ibu Guru SD saya, hingga dapat mengantarkan saya, sekarang ini menjadi bagian dari Kementerian Keuangan.

Kegiatan pun berlanjut dari kelas 5c, ke kelas 6a, hingga 6b. Sesi kedua di kelas 5c, saya berbagi mengenai tusi Kementerian Keuangan.Sebagai seorang ibu rumah tangga, Menteri Keuangan harus mengatur segala penerimaan dan belanja negara.Analogi itulah yang saya bagi kepada mereka.Menuju ke kelas 6a, sesi ketiga, saya berbagi mengenai tusi pegawai di Direktorat Jenderal Pajak.Sebagai penghimpun pajak, penerimaan negara, segala yang kita kontribusikan ke negara sangat dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur Indonesia, pembangunan SDM, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Sedikit cerita mengenai kelas 6a, Husain adalah siswa di kelas 6a mempunyai cita-cita sebagai pilot.Mungkin dia memang mempunyai sifat pemalu dan postur tubuhnya berisi dan berkacamata. Namun berbeda postur dengan saya, sifat pemalu itu sama saya punyai saat SD dulu. Melihat seperti itu saya hanya bisa merangkul dia dan berkata cita-citamu hebat.Kelas 6a kelas yang spesial, mungkin kita bisa berkata anak-anak di kelas tersebut mungkin agak bandel. Sepatu yang saya kenakan juga mulai saya rasakan sakit serta sedikit penat di kepala memasuki sesi ketiga ini. Suara mesin pengaduk semen juga mewarnai kegiatan mengajar saya saat itu. Namun hari ini adalah spesial, hari dimana saya dapat berbagi untuk kenangan mereka selamanya.

Rangkulan dan celotehan merekalah yang memberikan semangat kepada saya.Memasuki sesi keempat adalah menulis dan membuat pesawat cita-cita. Beberapa cita-cita mereka sangat luar biasa. Terdapat anak yang bernama sama seperti saya, Bagas, dia sangat aktif dan tak henti-hentinya meminta maju untuk ikut bagian ketika saya mengajar. Dalam kegiatan Kemenkeu Mengajar saya masih akan berkata, saya bahagia menjadi bagian dalam kegiatan ini untuk dapat mendegarkan cita-cita mereka. Saya yang sewaktu kecil berharap dapat memperoleh kesempatan untuk mendapatkan inspirasi. Ternyata Allah memberikan kesempatan sebagai pemberi inspirasi kepada anak-anak saat ini. Saya mempunyai kewajiban dan saya mempunyai tugas, yaitu memberikan yang terbaik, sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak untuk negeri ini sehingga anak-anak Indonesia dapat mendapatkan hak fundamental mereka dalam meraih cita-cita.

Kegiatan berakhir dengan menerbangkan pesawat cita-cita anak-anak. Semangat mereka hingga siang. Siang yang sangat terik, tidak menghentikan antusias mereka untuk mengikuti setiap kegiatan tanpa adanya pemberian hadiah apapun selain inspirasi dan rasa bahagia yang kami bagikan. Menjadi relawan pengajar di Kemenkeu Mengajar bukan hanya untuk berbagi kebahagiaan namun juga merasakan kebahagiaan dan belajar akan kejujuran mereka. Jujur menjadi apa yang mereka impikan. Kami yang mengajar kala itu dianggap Bapak dan Ibu Guru yang sempurna, namun saya merasa anak-anaklah yang menyempurnakan kami, kami merasa sangat dicintai. Letih pasti ada namun kenangan dan apa yang kami bawa ketika pulang akan tetap terkenang hingga selama-lamanya. Bangga akan kesempatan ini, bangga bahwa saya dapat melakukan hal luar biasa ini. Terima kasih kepada panitia Kemenkeu Mengajar, Bapak dan Ibu Guru, serta anak-anak yang telah ikut dalam mewarnai hidup saya, saya merasa berharga. Walaupun hanya satu hari, namun satu hari yang membahagiakan.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.